Peningkatan keterampilan dan pengetahuan bisnis berdayakan wirausaha transgender Indonesia

Serangkaian program pendampingan usaha ILO telah memberdayakan 394 pengusaha transgender. Mereka tidak hanya bertahan dari pandemi, tetapi juga meningkatkan kinerja bisnis dan meningkatkan pendapatan mereka.

31 Agustus 2022

Content also available in: English
Rayya, 34 tahun, sibuk membuat pempek, kuliner khas Palembang, Sumatera Selatan yang terbuat dari ikan. Dia mewarisi resep keluarga dari ibunya. Dia pun memulai bisnis kulinernya sejak dia kehilangan pekerjaan sebagai penata rambut di Bali.

“Karena pandemi, saya kehilangan pelanggan dan pendapatan. Jadi, sejak April 2021, saya telah memulai bisnis pempek yang dinamai dengan nama saya, Rayya Pempek, karena saya sejak kecil sudah diajari membuat berbagai macam pempek,” ungkapnya.

Saya sekarang fokus untuk meningkatkan jaringan bisnis saya, berbagi pengetahuan dan menjadi bagian dari komunitas bisnis sebagai pengusaha tanpa melihat identitas saya sebagai seorang transgender."

Rayya
Usahanya terus berkembang setelah ia menyelesaikan pendampingan bisnis secara daring dan program bantuan bisnis langsung yang masing-masing diselenggarakan selama dua bulan pada 2021 oleh ILO bekerja sama dengan Business & Export Development Organization (BEDO), sebuah penyelenggara pelatihan bisnis di Bali. “Hasilnya, pendapatan saya meningkat secara konsisten sekitar 30-40 persen dari September hingga Desember tahun lalu,” tambahnya.

Tidak hanya peningkatan pendapatan, Rayya juga meningkatkan keterampilan bisnisnya. Dia sekarang mampu memperkirakan potensi keuntungan dan mengurangi potensi yang kerugian dan telah memperluas produknya ke pemasaran digital.

“Pempek Rayya sekarang tersedia di Google My Business sehingga sangat membantu pelanggan menemukan produk dan lokasi bisnis saya. Katalog produk saya juga tersedia di pelantar daring seperti aplikasi GoFood, GrabFood dan WhatApps My Business,” ujarnya bangga.

Rayya merupakan satu dari 394 wirausaha transgender dari delapan komunitas transgender di lima kota di Indonesia yang diselenggarakan ILO selama periode 2018-2021. Sekitar 65 persen dari peserta dalam intervensi dua tahun terakhir (2020-2021) telah menyaksikan peningkatan rata-rata 178 persen dari pendapatan usaha mereka.

Peningkatan usaha serupa juga dialami Farah Friliciana, pengusaha transgender berusia 42 tahun dengan HIV dan disabilitas yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Setelah usaha kelontongnya bangkrut, ia memulai usaha telur asin pada 2020 dengan jenama Telur Asin Priyangan .

Saya bisa membuktikan kepada publik bahwa transgender dapat berdaya secara ekonomi dan memiliki kemampuan untuk membangun bisnis yang sukses."

Farah Friliciana
“Saya merasa beruntung menjadi bagian dari program pelatihan bisnis ILO untuk transgender. Saya telah belajar banyak tentang bisnis yang membantu meningkatkan bisnis saya sendiri,” katanya.

Selain perhitungan bisnis dan pemasaran digital, ia belajar tentang pentingnya pengemasan dan meningkatkan pengemasan produknya dari kantong plastik sederhana menjadi kotak mika dengan logo stiker dan nomor kontak. “Penghasilan saya meningkat signifikan dari hanya Rp 500.000 menjadi Rp 2.450.000,” kisahnya dengan semangat.

Bisnis ini telah membantu keluarga saya bertahan dari pandemi."

Luvhi P. Pamungkas
Perubahan kehidupan juga dirasakan oleh Luvhi P. Pamungkas, 50 tahun. Dikenal sebagai pengusaha senior di komunitas transgender, ia ditunjuk sebagai salah satu dari empat pelatih pendamping program pelatihan bisnis ILO-BEDO tahun lalu. “Saya mulai sebagai salah satu peserta pada 2020 dan diangkat sebagai co-trainer pada 2021. Saya bangga dapat membantu mendampingi dan membina rekan-rekan transgender lainnya,” ungkapnya.

Ia mengaku bahwa pengalamannya sebagai pelatih pendamping telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bisnisnya. “Saya juga belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif dengan para peserta dan bagaimana memotivasi dan mendukung mereka melalui perjalanan bisnis ini. Saya mengerti bahwa menjadi seorang transgender tidak mudah karena kita tidak hanya berurusan dengan masalah bisnis tetapi juga dengan stigma terhadap kita,” tambahnya.

Keterampilan dan pengetahuannya yang meningkat tidak hanya membantu para kliennya, tetapi juga membantu meningkatkan bisnisnya sendiri. Sebagai pencari nafkah bagi keluarganya, ia berkewajiban untuk mencari nafkah yang layak. Ia kini mengelola dua bisnis kuliner dengan menerapkan pemasaran digital dan promosi produk serta memastikan protokol kesehatan. Alhasil, bisnisnya terus berkembang dengan peningkatan pendapatan sebesar 30 persen.

“Bisnis ini telah membantu keluarga saya bertahan dari pandemi,” kata Luvhi .

Dukungan ILO terhadap peningkatan usaha yang berkelanjutan



Early Dewi Nuriana, staf ILO untuk program HIV, berharap serangkaian program pendampingan usaha ini dapat terus memberikan kesempatan yang lebih besar bagi komunitas transgender Indonesia untuk dapat mandiri dan mampu secara ekonomi. “Masih sulit bagi transgender untuk memasuki pekerjaan formal, karenanya kami berharap mereka bisa berwirausaha dengan tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain,” ujarnya.

Masih sulit bagi transgender untuk memasuki pekerjaan formal, karenanya kami berharap mereka bisa berwirausaha dengan tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain."

Early Dewi Nuriana, staf ILO untuk program HIV
Ia juga berharap untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya, ILO dapat melakukan pembinaan bisnis secara daring dan luring. “Intervensi gabungan ini, yang melibatkan pendampingan bisnis profesional dan pelatih dari perwakilan komunitas diharapkan dapat menciptakan peningkatan bisnis yang berkelanjutan bagi pengusaha transgender,” tambah Early.

Program pembinaan bisnis ini juga telah membuka kepribadian baru bagi para pengusaha transgender. Farah mengaku kini lebih percaya diri dalam mengelola usahanya. “Saya bisa membuktikan kepada publik bahwa transgender dapat berdaya secara ekonomi dan memiliki kemampuan untuk membangun bisnis yang sukses,” pungkasnya.

Sementara ini, Rayya terfokus pada memperluas jaringan bisnis dan lebih banyak terlibat dalam komunitas pengusaha. “Saya sekarang fokus untuk meningkatkan jaringan bisnis saya, berbagi pengetahuan dan menjadi bagian dari komunitas bisnis sebagai pengusaha tanpa melihat identitas saya sebagai seorang transgender.”