Kepemimpinan perempuan
Pemimpin perempuan di sektor garmen meningkatkan keterampilan kepemimpinan untuk produktivitas yang lebih baik
Ratusan pemimpin perempuan di sektor garmen telah meningkatkan keterampilan kepemimpinan melalui Pelatihan Keterampilan Penyelia yang diselenggarakan oleh Better Work Indonesia, program kemitraan ILO dan International Finance Cooperation (IFC). Peningkatan keterampilan ini pun telah meningkatkan produktivitas.
27 Februari 2023
Namun, dia kini telah berubah setelah mengkuti Pelatihan Keterampilan Penyelia (STT) mengenai gaya komunikasi, yang diselenggarakan oleh Better Work Indonesia (BWI)—sebuah program kemitraan antara International Finance Cooperation (IFC) dan ILO. Selama pelatihan, dia mempelajari berbagai gaya komunikasi: pasif, agresif dan profesional.Sekarang saya dapat berkomunikasi dengan lebih profesional. Ketika saya menghadapi masalah, ketimbang marah, saya berupaya untuk memikirkan solusinya dulu."
Guy Ryder, ILO Director-General
“Saya baru menyadari bahwa tipe saya adalah menjadi agresif saat merasa kesal, tetapi pada saat yang sama, saya bisa menjadi pasif saat panik,” kenangnya. “Sekarang saya dapat berkomunikasi dengan lebih profesional. Ketika saya menghadapi masalah, ketimbang marah, saya berupaya memikirkan solusinya dulu.”
Lina menambahkan bahwa pelatihan tersebut telah mengajarkannya bagaimana menggunakan “bank emosi” yang akan berkembang dengan interaksi dan sikap yang positif. Sejak itu, dia berusaha mengubah cara dia berinteraksi dengan bawahannya. Hasilnya, berkat “simpanan” perilaku positifnya, dia dipercaya untuk mengelola lebih dari 250 pekerja di departemen kendali mutu.
Shelly W. Marliane, Ketua Tim Pelatihan BWI, menyatakan bahwa kendati sebagian besar penyelia di sektor garmen didominasi oleh perempuan, seringkali mereka kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan untuk menjadi penyelia. Akibatnya, mereka cenderung bertemperamen tinggi saat di bawah tekanan. “Laporan BWI tahun 2021 menyebutkan bahwa hambatan paling umum dalam kepemimpinan perempuan adalah kurangnya pengalaman dalam manajemen umum atau lini produksi dan kurangnya pelatihan kepemimpinan,” jelas Shelly.Kami yakin dengan SST, kami dapat menekan pelecehan verbal di lantai produksi dan mendorong lahirnya pemimpin profesional terhormat yang membangun dan mendorong suasana kerja yang positif."
Shelly W. Marliane, Ketua Tim Pelatihan BWI
Untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan perempuan di sektor garmen, SST BWI melakukan pelatihan pada ratusan calon penyelia dan penyelia pabrik sejak tahun 2014 . Sebuah survei tentang dampak SST menunjukkan tingkat pergantian pekerja yang menurun untuk lini produksi yang penyelianya mengikuti SST serta tingkat kepuasan dan produktivitas yang lebih baik.
“SST telah menunjukkan kepada para penyelia ini bahwa ada cara untuk menjadi pemimpin yang disegani tanpa harus memusuhi para pekerja,” kata Shelly. “Kami yakin dengan SST, kami dapat menekan pelecehan verbal di lantai produksi dan mendorong lahirnya pemimpin profesional terhormat yang membangun dan mendorong suasana kerja yang positif.”
Depi Puji Astuti, pemimpin lini di salah satu perusahaan garmen di Indonesia. (c) ILO/Proyek BWI Para pemimpin lini ini juga mendapat manfaat dari SST. Saat ditunjuk sebagai pimpinan lini enam tahun lalu, Depi Puji Astuti harus berhadapan dengan bawahan yang jauh lebih tua dan berpengalaman yang sering meremehkan perintah dan keputusannya. Merasa frustasi, ia kekrap melampiaskan emosinya dengan membentak dan meneriaki anggota timnya.
Setelah bergabung dengan SST, pemimpin berusia 31 tahun ini belajar bahwa dia harus menggunakan kata-kata yang lebih menyemangati dan secara terbuka mendiskusikan dengan timnya tentang apa yang diharapkannya dan, sebagai imbalannya, Depi akan meminta dukungan timnya untuk menyelesaikan target dan pesanan dari pembeli.Tim saya menilai saya mampu mengendalikan emosi dengan lebih baik sekarang."
Depi Puji Astuti, seorang pemimpin lini
“Tim saya menilai saya mampu mengendalikan emosi dengan lebih baik sekarang,” kata Depi.
Begitu pula Puput Rahmadanti pun menyaksikan perubahan di lini produksinya. Sebagai pemimpin lini, ia sering menerima keluhan dari timnya dan tim juga sering tertinggal target. Tekanan seperti itu telah mendorongnya untuk menjadi lebih mudah marah dan kecemasannya bahkan mendorongnya untuk membuat keputusan yang terburu-buru.
“Berkat SST, saya belajar bagaimana menjadi lebih tenang saat membuat keputusan dan bagaimana menjadi lebih berbelas kasih saat menangani orang. Saya ingat nasihat pelatih saya bahwa sebagai seorang pemimpin, kita perlu menangkap hati tim kita agar kita bisa mendapatkan rasa hormat dan lebih dekat dengan mereka. Pendekatan seperti itu telah membantu saya meningkatkan produktivitas tim saya,” tutupnya.
Related content
Hari Perempuan Internasional
Industri garmen Indonesia perangi ketidaksetaraan gender dan berdayakan pekerja perempuan