Peluang atau Tantangan? Mempromosikan Partisipasi Perempuan Indonesia yang Lebih Besar dalam STEM
Perempuan berisiko tergantikan oleh teknologi, termasuk otomatisasi dan robotika, mengingat mereka umumnya bekerja dalam jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM). Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia, menjelaskan pentingnya mempromosikan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam STEM di Indonesia dan dukungan yang diberikan oleh ILO dalam hal ini.
17 Februari 2020
Content also available in:
English
Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste
ILO memperkirakan tren ini akan berlanjut selama dua tahun ke depan. Lapangan kerja di Indonesia menggambarkan hal yang sama - pertumbuhan pekerjaan yang berkelanjutan dan penurunan tingkat pengangguran. Sementara perlambatan ekonomi di China dapat mempengaruhi ekonomi dan pasar tenaga kerja Indonesia, tren positif secara keseluruhan dalam pekerjaan kemungkinan akan bertahan di tahun-tahun mendatang.
Untuk bidang STEM, merupakan fenomena global dan nyata di Indonesia bahwa pekerjaan perempuan di industri STEM sebagian besar terkonsentrasi di pekerjaan berketerampilan rendah. Berdasarkan penelitian ILO tentang Pekerjaan Masa Depan, sekitar 56 persen dari semua pekerjaan di lima negara ASEAN terbesar, termasuk Indonesia, berada pada risiko tinggi tergantikan oleh teknologi selama satu atau dua dasawarsa mendatang, dan sebagian besar pekerjaan ini dilakukan oleh perempuan. Perempuan memiliki kemungkinan 20 persen lebih tinggi dibanding laki-laki untuk kehilangan pekerjaan sebagai akibat dari otomatisasi.
ILO memiliki visi dalam bentuk agenda yang berpusat pada manusia yang dilandaskan pada investasi untuk meningkatkan kemampuan orang, lembaga kerja dan dalam pekerjaan yang layak serta berkelanjutan. ILO berkomitmen dalam mengembangkan dan menyampaikan 'agenda ekonomi yang berpusat pada manusia' dalam sistem internasional dan ILO menyerukan perhatian mendesak diberikan pada penerapan rekomendasi laporan tersebut. ILO melalui Program Perempuan dalam STEM yang didukung oleh J.P. Morgan Chase Foundation bertujuan meningkatkan perolehan perempuan dan adopsi keterampilan lunak terkait STEM yang kritis dan teknis dalam sektor STEM tertentu termasuk TIK dan otomotif, dan dengan cara ini, berkontribusi untuk mengurangi ketidaksesuaian keterampilan yang mempengaruhi produktivitas pekerja dan daya saing perusahaan dalam konteks yang berubah dengan cepat ini.
Telah terbukti bahwa tempat kerja dengan tenaga kerja yang beragam, kesetaraan kesempatan dan menjunjung tinggi kesetaraan jender memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan mampu memupuk kreativitas yang berkontribusi pada profitabilitas yang lebih tinggi pula. Menurut laporan tentang Perempuan dalam Bisnis dan Manajemen: Kasus Bisnis untuk Perubahan, yag melakukan survei bagi hampir 13.000 perusahaan di 70 negara, lebih dari 57 persen responden setuju bahwa inisiatif keanekaragaman jender meningkatkan hasil usaha. Hampir tiga perempat dari perusahaan-perusahaan yang melacak keragaman jender dalam manajemen mereka melaporkan peningkatan laba antara 5 dan 20 persen, dengan mayoritas menyaksikan peningkatan antara 10 dan 15 persen.
Bagaimana proyeksi ILO tentang kondisi pasar tenaga kerja global dan Indonesia dalam lima tahun ke depan?
Mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, lapangan kerja global mencatat pertumbuhan yang berkelanjutan selama dasawarsa terakhir. Faktanya, dunia telah menambah hampir 310 juta pekerjaan (sebanyak 2.985 juta pekerjaan pada 2010 -> 3.295 juta pada 2019).ILO memperkirakan tren ini akan berlanjut selama dua tahun ke depan. Lapangan kerja di Indonesia menggambarkan hal yang sama - pertumbuhan pekerjaan yang berkelanjutan dan penurunan tingkat pengangguran. Sementara perlambatan ekonomi di China dapat mempengaruhi ekonomi dan pasar tenaga kerja Indonesia, tren positif secara keseluruhan dalam pekerjaan kemungkinan akan bertahan di tahun-tahun mendatang.
Bagaimana proyeksi ILO dengan kondisi pasar tenaga kerja perempuan global dan Indonesia dalam lima tahun ke depan?
Secara umum, perempuan masih terabaikan dan keterwakilan perempuan dalam posisi pengambilan keputusan masih rendah. Namun perlu dicatat bahwa ada beberapa upaya yang dilakukan dalam memastikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. Teknologi terutama memainkan peran penting dalam mencapai pekerjaan layak dan kesetaraan jender dan hari ini kita semua memiliki kesempatan untuk dapat bertemu dengan sejumlah perempuan pembawa perubahan yang memberikan keragaman, kreativitas dan inovasi dalam peran perempuan di dunia kerja.Untuk bidang STEM, merupakan fenomena global dan nyata di Indonesia bahwa pekerjaan perempuan di industri STEM sebagian besar terkonsentrasi di pekerjaan berketerampilan rendah. Berdasarkan penelitian ILO tentang Pekerjaan Masa Depan, sekitar 56 persen dari semua pekerjaan di lima negara ASEAN terbesar, termasuk Indonesia, berada pada risiko tinggi tergantikan oleh teknologi selama satu atau dua dasawarsa mendatang, dan sebagian besar pekerjaan ini dilakukan oleh perempuan. Perempuan memiliki kemungkinan 20 persen lebih tinggi dibanding laki-laki untuk kehilangan pekerjaan sebagai akibat dari otomatisasi.
ILO memiliki visi dalam bentuk agenda yang berpusat pada manusia yang dilandaskan pada investasi untuk meningkatkan kemampuan orang, lembaga kerja dan dalam pekerjaan yang layak serta berkelanjutan. ILO berkomitmen dalam mengembangkan dan menyampaikan 'agenda ekonomi yang berpusat pada manusia' dalam sistem internasional dan ILO menyerukan perhatian mendesak diberikan pada penerapan rekomendasi laporan tersebut. ILO melalui Program Perempuan dalam STEM yang didukung oleh J.P. Morgan Chase Foundation bertujuan meningkatkan perolehan perempuan dan adopsi keterampilan lunak terkait STEM yang kritis dan teknis dalam sektor STEM tertentu termasuk TIK dan otomotif, dan dengan cara ini, berkontribusi untuk mengurangi ketidaksesuaian keterampilan yang mempengaruhi produktivitas pekerja dan daya saing perusahaan dalam konteks yang berubah dengan cepat ini.
Bagaimana tanggapan ILO terhadap Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 70/212 (Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains), khususnya dari poin 2 hingga 5?
Keberadaan Program Perempuan dalam STEM di ILO menunjukkan bahwa ILO mempromosikan secara aktif partisipasi penuh dan setara perempuan dan anak perempuan dalam pendidikan, pelatihan, pekerjaan dan proses pengambilan keputusan. Program Perempuan dalam STEM bekerja sama dengan pelatihan dan pendidikan teknis vokasi publik, yakni Balai Besar Pengambangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, unit pelaksana teknis pusat dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, untuk meningkatkan akses mereka terhadap peluang kerja dalam TIK melalui pelatihan keterampilan di BBPLK Bekasi. ILO juga menangani masalah ini melalui Konvensi pokoknya No. 100 mengenai Renumerasi yang setara dan Konvensi No.111 tentang Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan) yang mempromosikan kesempatan kerja yang setara. Konvensi-konvensi ini telah diratifikasi oleh Indonesia.Salah satu tantangan pada rendahnya tingkat partisipasi perempuan yang bekerja secara umum atau di bidang STEM adalah perspektif budaya yang melekat bahwa tanggung jawab beban kerja di rumah berada di ranah perempuan. Bagaimana ILO meyakinkan para pemangku kepentingannya, termasuk pengusaha dan pemerintah, bahwa kemajuan teknologi dewasa ini memungkinkan banyak pekerjaan dapat dilakukan secara virtual dan dapat dilakukan dari rumah? Bagaimana pandangan ini diarusutamakan?
ILO bekerja erat dengan para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pengusaha, serikat pekerja dan lembaga mitra sosial lainnya, dalam menyediakan akses dan mempromosikan perempuan di dunia kerja. Sangat penting bagi perempuan untuk memiliki akses ke pendidikan, pelatihan dan pekerjaan guna memastikan potensi mereka dapat dikembangkan dan didayagunakan agar dapat berkontribusi secara aktif dan positif bagi pemberdayaan ekonomi. Dan yang paling penting, kami mempromosikan nilai yang dibawa perempuan ke dunia kerja.Telah terbukti bahwa tempat kerja dengan tenaga kerja yang beragam, kesetaraan kesempatan dan menjunjung tinggi kesetaraan jender memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan mampu memupuk kreativitas yang berkontribusi pada profitabilitas yang lebih tinggi pula. Menurut laporan tentang Perempuan dalam Bisnis dan Manajemen: Kasus Bisnis untuk Perubahan, yag melakukan survei bagi hampir 13.000 perusahaan di 70 negara, lebih dari 57 persen responden setuju bahwa inisiatif keanekaragaman jender meningkatkan hasil usaha. Hampir tiga perempat dari perusahaan-perusahaan yang melacak keragaman jender dalam manajemen mereka melaporkan peningkatan laba antara 5 dan 20 persen, dengan mayoritas menyaksikan peningkatan antara 10 dan 15 persen.