Literasi keuangan
Pelatih lokal memberdayakan wirausaha pedesaan Indonesia
Empat pelatih dari program ILO di Indonesia, yang berasal dari Jawa Barat, Aceh, dan Nusa Tenggara Timur, berbagi kisah tentang bagaimana pelatihan ILO mengenai literasi keuangan dan digitalisasi telah mengubah tidak hanya kehidupan mereka sendiri, tetapi juga komunitas mereka.
10 Oktober 2025
Di daerah pedesaan Indonesia, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) menghadapi kesulitan untuk berkembang karena keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal. Pekerja pertanian informal sering kali tidak memiliki catatan keuangan, jaminan atau kepercayaan diri untuk mendekati bank. Akibatnya, mereka dianggap berisiko tinggi oleh lembaga keuangan dan terdorong untuk mengambil pinjaman informal dengan bunga tinggi.
Untuk mengatasi tantangan ini, ILO melalui proyek Mempromosikan Usaha UKM melalui Peningkatan Akses Wirausaha terhadap Jasa Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact) yang didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), berfokus pada peningkatan kapasitas para pelatih lokal. Para pelatih ini membantu petani dan wirausaha meningkatkan literasi keuangan, menerapkan praktik bisnis yang baik, serta memanfaatkan alat digital agar lebih “layak bank” (bankable).
“Dengan memberdayakan para pelatih, kami menghubungkan wirausaha di pedesaan dengan layanan keuangan yang mereka butuhkan,” ujar Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact. “Kami ingin memastikan mereka tidak hanya mendapatkan akses ke pembiayaan, tetapi juga keterampilan dan kepercayaan diri untuk memperoleh pendanaan formal, sering kali untuk pertama kalinya.”
Jawa Barat: Membangun kredibilitas finansial
Sejak mengikuti program pelatihan daring ILO pada 2020, Ervin Puluhulawa, pelatih dari Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat, telah menjadi motor penggerak dalam memberdayakan wirausaha lokal. Melalui pelatihan menggunakan modul ILO seperti Gender and Entrepreneurship Together (GET Ahead), Pendidikan Keuangan serta Memulai dan Meningkatkan Usaha Anda (SIYB), ia telah melatih lebih dari 550 peserta, termasuk peternak sapi perah dan pelaku usaha kecil, dengan metode pembelajaran orang dewasa yang interaktif.
Sesi pelatihannya mencakup pengelolaan arus kas, perencanaan tabungan dan pencatatan keuangan yang meningkatkan kelayakan peserta untuk memperoleh pinjaman dari koperasi dan bank perkreditan rakyat. Banyak peserta kini berinvestasi dalam peralatan, memperluas ternak atau mengembangkan produk baru, beralih dari penghasilan harian menuju pertumbuhan usaha jangka panjang. “Saya bangga ketika para peternak menggunakan pinjaman untuk mengembangkan usahanya, bukan untuk konsumsi. Saat itu lah saya tahu pelatihan ini berhasil,” ujarnya dengan bangga.
Mendapatkan pinjaman melalui catatan keuangan yang lebih baik
Di Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, pelatih Fitri Herliana Adrian telah 13 tahun mendampingi peternak sapi perah memperkuat disiplin keuangan mereka. Setelah menyelesaikan Pelatihan untuk Pelatih (ToT) ILO pada Mei 2023, ia telah melatih 340 peserta tentang pencatatan keuangan dengan memisahkan keuangan rumah tangga dan usaha serta menetapkan tujuan keuangan.
Pendampingannya juga telah membantu lebih dari 100 peternak, termasuk Iceu, yang menggunakan pinjaman koperasi untuk membeli mesin perah, menekan biaya tenaga kerja dan menyiapkan tabungan pendidikan bagi anak-anaknya.
“Ketika peternak mencatat produksi susu dan pengeluaran harian, mereka memiliki bukti pendapatan yang stabil. Itu sangat berpengaruh saat mengajukan pinjaman,” ujar Fitri. “Namun bagi anggota yang masih ragu menggunakan aplikasi seluler untuk pencatatan, tugas saya adalah membimbing mereka langkah demi langkah hingga merasa nyaman.”
Aceh: Membuka akses yang lebih baik ke layanan keuangan
Nurul Fatmawati, pelatih yang berbasis di Aceh, telah melatih lebih dari 1.000 peserta menggunakan modul kewirausahaan dan literasi keuangan ILO. Ia membimbing peserta untuk memisahkan keuangan rumah tangga dan usaha, merencanakan musim tanam serta mendaftar asuransi ketenagakerjaan. Nurul juga memfasilitasi akses pembiayaan, memungkinkan 11 petani nilam memperluas lahan mereka melalui pembiayaan dari Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mustaqim Aceh.
Nurul bangga dengan salah satu kisah suksesnya: seorang petani nilam yang, setelah enam bulan mencatat keuangan dengan benar, berhasil memperoleh pembiayaan formal untuk memperluas lahannya. “Ia berkata bahwa ia tidak pernah membayangkan bank akan mempercayainya. Perubahan seperti inilah yang membuat saya terus bersemangat,” ungkapnya, menambahkan bahwa kebanggaan terbesarnya adalah melihat para petani ini semakin melek finansial dan optimis terhadap masa depan mereka.
Nusa Tenggara Timur: Mengakses pembiayaan dengan syarat yang lebih baik
Tumpal P. Situmorang, dosen di Universitas Wira Wacana Sumba selama 25 tahun, telah melatih lebih dari 250 petani rumput laut, 24 petani hortikultura dan 24 pelaku usaha mikro dan kecil di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual yang menguntungkan.
“Kalau mereka bisa menghitung berapa banyak tali yang dibutuhkan untuk menjemur rumput laut, mereka juga bisa menghitung biaya produksi dan menentukan harga untuk memperoleh keuntungan,” jelasnya.
Keterampilan ini meningkatkan posisi tawar petani serta menyediakan data keuangan yang dibutuhkan untuk pengajuan pinjaman formal. Melalui kerja sama ILO dengan Bank NTT, sebanyak 24 petani berhasil mengakses pinjaman tanpa bunga, yang digunakan untuk mengembangkan usaha seperti produksi camilan rumput laut dan toko pakaian. Hasilnya, para petani kini mulai beralih dari kredit informal berbunga tinggi menuju pembiayaan yang aman dan terjangkau.