Hari Disabilitas Internasional
Misi seorang penyandang disabilitas untuk dunia kerja yang inklusif
Eko Ramaditya Adikara atau bisa dipanggil Rama tidak pernah berhenti berkarya dan mendorong dunia kerja yang lebih inklusif. Sebagai konsultan ILO, ia mendorong asosiasi usaha untuk berkolaborasi dengan Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI).
4 Desember 2023
Sebagai seorang tuna netra, Rama memahami betul pentingnya kesadaran dunia usaha terhadap potensi dan kemampuan yang dimiliki para penyandang disabilitas. Kurangnya kesadartahuan perusahaan mengakibatkan masih banyak perusahaan yang belum membuka pintu bagi para pelamar kerja dengan disabilitas.Karenanya penting melibatkan asosiasi-asosiasi usaha di dalam jejaring seperti JBDI. JBDI yang dibentuk oleh sejumlah perusahaan dan organisasi dengan dukungan ILO berupaya mendorong kesempatan kerja yang adil dan setara, menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan kondusif serta menekankan hubungan positif antara inklusi disabilitas dan kesuksesan bisnis."
Eko Ramaditya Adikara, Konsultan ILO untuk Inklusivitas
“Karenanya penting melibatkan asosiasi-asosiasi usaha di dalam jejaring seperti JBDI. JBDI yang dibentuk oleh sejumlah perusahaan dan organisasi dengan dukungan ILO berupaya mendorong kesempatan kerja yang adil dan setara, menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan kondusif serta menekankan hubungan positif antara inklusi disabilitas dan kesuksesan bisnis,” ungkap Rama.
Ia bersemangat untuk mendorong peluang kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menjawab keresahan yang dihadapinya. Kendati ia memiliki karier dan kehidupan yang baik, ia masih kerap merasakan adanya hambatan bagi para penyandang disabilitas terhadap aksesibilitas lingkungan fisik maupun digital.
Selain itu, masyarakat pun dinilainya masih memandang penyandang disabilitas sebagai penerima bantuan yang hanya dilihat dari perspektif amal dan medis. “Alhasil hak-hak penyandang disabilitas masih terabaikan. Padahal sebagai individu, penyandang disabilitas memiliki peran aktif dan kemampuan untuk membuat keputusan,” tukasnya.Sebagai bagian dari mandat ILO untuk mendorong dunia kerja yang inklusif dan terbebas dari diskriminasi, kami kerap mendengar testimoni dari berbagai perusahaan bahwa inklusivitas semakin meningkatkan produktivitas dan loyalitas dan bahkan memberikan kondisi kerja yang kondusif dan kooperatif."
Tendy Gunawan, Staf ILO untuk Inklusivitas
Dengan pelibatan dunia usaha yang semakin intensif dalam inklusivitas, ia pun berharap lebih banyak masyarakat yang sadar bahwa untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dibutuhkan mata rantai yang panjang. “Selain pendidikan yang harus ditingkatkan, kesempatan kerja juga harus dibuka secara lebih luas, serta dukungan dari keluarga dan masyarakat pun harus diperkuat,” ia menambahkan.
Hal ini diamini oleh Tendy Gunawan, Staf ILO untuk Inklusivitas, yang menegaskan bahwa mempekerjakan penyandang disabilitas bukanlah beban, melainkan keuntungan dan manfaat bagi perusahaan. “Sebagai bagian dari mandat ILO untuk mendorong dunia kerja yang inklusif dan terbebas dari diskriminasi, kami kerap mendengar testimoni dari berbagai perusahaan bahwa inklusivitas semakin meningkatkan produktivitas dan loyalitas dan bahkan memberikan kondisi kerja yang kondusif dan kooperatif,” ujar Tendy.
Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat dirasakan Rama yang menyelesaikan pendidikan S2 pada Ilmu Administrasi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Yappan. “Sejak kecil orang tua dan teman-teman tidak menganggap saya berbeda dari yang lain, Didikan orang tua saya natural saja dan saya juga bermain seperti biasa dengan teman-teman sebaya. Kondisi saya dinilai sebagai bagian dari kehidupan yang tidak berbeda dengan orang lainnya,” kisahnya.
Eko Ramaditya Adikara bersama dengan staf ILO. © ILO Kini selain menjadi konsultan ILO selama beberapa bulan, Rama juga berprofesi sebagai pelatih dan fasilitator di Ruang Guru dan dosen di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) di bidang pengembangan diri. Ia juga aktif sebagai penulis novel remaja dan bahkan membuka peluang bagi para remaja di sekitarnya untuk mengelola akun Instagram dan YouTube miliknya.
Sebagai bapak dua anak, ia telah memulai peningkatan kesadaran dari keluarga dengan menanamkan inklusivitas kepada anak-anaknya sejak dini. “Mengalir saja dalam keseharian. Ini ayah nggak bisa lihat lho. Mata anak-anak saya tutup. Nah, begitu rasanya.” Ia mengajarkan bahwa saat mata tertutup, seseorang hanya tidak bisa melihat, namun ia masih memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal.
Sementara bagi masyarakat luas dan lingkungan sekitarnya, ia berupaya meningkatkan kesadaran tentang kemampuan penyandang disabilitas netra dengan memperkenalkan keterampilan penggunaan komputer dan mendemonstrasikan bagaimana seorang tuna netra mahir mengoperasikan komputer. Melalui demonstrasi ini ia berharap dapat memberikan pemahaman dan pandangan baru tentang potensi yang dimiliki oleh penyandang disabilitas netra.Saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi bagian dari perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Saya pun mengajak dunia usaha untuk bergabung dengan JBDI guna membangun dunia kerja yang inklusif dan memberikan peluang kepada para pekerja dengan disabilitas untuk berkarya dan memiliki kehidupan yang layak."
Eko Ramaditya Adikara
Kecintaannya terhadap dunia komputer tidak terlepas dari hobi masa kecilnya dalam bermain gim. “Buat saya, video game menjadi jendela dunia yang membuka imajinasi dan pemahaman saya tentang berbagai objek,” ujarnya. Lebih dari itu, video game juga telah menjadi jembatan untuk menjalin hubungan sosial yang kuat dengan teman-temannya.
Dengan prinsip hidup, "If you want to be loved, make yourself loveable," Rama mengajak semua orang untuk menjadi individu yang menyenangkan dan mencintai sesama. Stigma negatif yang masih melekat pada penyandang disabilitas, yang sering dianggap sensitif dan tidak menarik untuk diajak bergaul, pelan-pelan berusaha ia hapuskan dengan menjadi sosok yang inspiratif, terutama bagi remaja.
“Sebagai pelatih untuk pengembangan diri, saya misalnya menggunakan kostum superhero dari film Star Wars untuk menarik perhatian dan menginspirasi mereka. Penyandang disabilitas juga punya kemampuan yang sama dan dunia yang inklusif harus kita ciptakan bersama agar tidak seorang pun tertinggal,” ia menambahkan.
Sosoknya yang inspiratif telah membawa perubahan positif dalam pandangan dan sikap terhadap penyandang disabilitas bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Rama pun menyerukan bahwa upaya menciptakan inklusivitas dalam segala aspek kehidupan, termasuk dunia kerja, bukan hanya hanya merupakan tanggung jawab individual, tetapi juga tanggung jawab kolektif.
“Saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi bagian dari perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Saya pun mengajak dunia usaha untuk bergabung dengan JBDI guna membangun dunia kerja yang inklusif dan memberikan peluang kepada para pekerja dengan disabilitas untuk berkarya dan memiliki kehidupan yang layak,” pungkas Rama.
Artikel ini ditulis oleh Larasati Riskia Adiani, Konsultan Komunikasi ILO untuk Inklusivitas.