Hari Perempuan Internasional

Mentransformasi perempuan Indonesia menjadi pebisnis hijau

Program Skills for Prosperity Indonesia yang merupakan kerja sama ILO-Pemerintah Inggris di Indonesia telah membekali perempuan di desa-desa pesisir dengan keterampilan kewirausahaan yang praktis dan relevan.

8 Maret 2022

Content also available in: English
Seperti kebanyakan perempuan di pedesaan di Indonesia, kegiatan sehari-hari Lentce Jois Tumundo difokuskan untuk memelihara rumah tangganya. Namun, ia percaya perempuan dapat memainkan peran yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa mereka.

Empat tahun lalu, dia mulai memimpin Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di desa pertanian dan nelayan pesisir Tiwoho, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, untuk mengelola berbagai kegiatan pemberdayaan dan menghidupkan badan usaha milik desa.

Dikenal sebagai BUMDes, badan usaha milik desa adalah inisiatif yang didanai oleh pemerintah Indonesia untuk mendorong pengembangan kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi di daerah perdesaan melalui penggunaan sumber daya lokal. Badan usaha di Tiwoho telah berdiri selama bertahun-tahun, kendati kegiatan sebagian besar difokuskan pada penjualan bahan bakar gas cair (LPG).

Namun, Lentce berambisi untuk memperluas dan mendiversifikasi kegiatan usaha desa dan melibatkan lebih banyak perempuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan pengalamannya bekerja di sebuah bank, ia kini menjadi bendahara BUMDes Tiwoho.

Satu-satunya hal yang menjadi penghalang mimpi Lentce adalah kurangnya keterampilan yang relevan. Sehingga, tahun lalu dia memutuskan untuk mengikuti pelatihan pengembangan bisnis dan manajemen yang ditawarkan oleh program Skills for Prosperity in Indonesia (SfP-Indonesia).

Membekali warga desa dengan keterampilan kewirausahaan

Didanai oleh Pemerintah Inggris dan diimplementasikan di Indonesia oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), program ini diluncurkan pada September 2020 di empat provinsi dengan tujuan meningkatkan kemampuan kerja masyarakat di sektor maritim yang sedang berkembang pesat.

Kami akan melibatkan lebih banyak perempuan untuk menjalankan bisnis ini."

Lentce Jois Tumundo, pemimpin kelompok perempuan di Desa Tiwoho
Di Sulawesi Utara, SfP-Indonesia bertujuan untuk memacu pembangunan lokal melalui peningkatan peluang ekonomi bagi masyarakat desa pesisir, khususnya perempuan dan kaum muda. Ini dilakukan dengan menawarkan berbagai pelatihan kewirausahaan untuk perempuan dan laki-laki dan meningkatkan ketersediaan dan akses ke layanan bisnis dan keuangan.

Tahun lalu, program ini melatih lebih dari 200 orang dari Desa Tiwoho dan juga desa tetangga, Budo. Pelatihan ini membekali mereka dengan pengetahuan terkait bisnis dan keterampilan yang relevan, seperti pemetaan aset komunitas, pengembangan bisnis, manajemen sumber daya manusia, perencanaan pemasaran dan keuangan dan pengembangan produk.

Pelatihan ini memberikan wawasan kepada peserta seperti Lentce tentang bagaimana memaksimalkan potensi ekonomi di daerah mereka.

“Selama bertahun-tahun, kami terjebak dengan bisnis LPG kami. Setelah mengikuti pelatihan, kami mendapatkan ide tentang bagaimana mengembangkan dan memperluas bisnis kami. Kami sekarang mulai menjual beras dan tengah merencanakan beberapa bisnis lain,” kata Lentce. “Usaha di desa kami sekarang dijalankan lebih profesional. Kami bisa mengevaluasi status keuangan dan mengalokasikan anggaran untuk pengembangan usaha,” tambahnya.

Kelompok perempuan di Tiwoho juga sudah mulai memproduksi jajanan dan kerajinan tangan untuk dijual.

“Sebelumnya kami hanya mengkonsumsi pisang untuk diri sendiri. Sekarang, kami memproduksi keripik pisang dan menjualnya di komunitas kami dan di tempat lain. Kami membuatnya unik dengan menambahkan sambal sebagai topping. Orang Sulawesi Utara suka makan pisang dengan sambal,” ungkapnya.

Menciptakan peluang bisnis ramah lingkungan

Terletak di dekat lokasi menyelam yang terkenal di dunia, Taman Nasional Bunaken, baik Desa Tiwoho dan Budo memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan industri pariwisata lokal. Oleh karena itu, pelatihan “Memulai Usaha Ramah Lingkungan Anda Sendiri” SfP-Indonesia yang diadakan pada 2021, yang diikuti oleh lebih dari 400 orang dari kedua desa, bermanfaat bagi penduduk setempat. Mencakup topik-topik seperti bahan ramah lingkungan, pengelolaan limbah dan penggunaan air serta energi, fokusnya adalah membekali penduduk desa dengan keterampilan untuk memulai bisnis ekowisata.

Sebagai hasil dari pelatihan, baik Tiwoho dan Budo mengembangkan pariwisata pohon bakau ramah lingkungan yang terbuat dari kayu dan bambu, dan mengubahnya menjadi tujuan wisata populer serta sumber pendapatan bagi masyarakat setempat. Pohon bakau bekerja sangat baik untuk menyimpan karbon dan menghentikannya memasuki atmosfer serta mengurangi dampak akibat badai dan kenaikan permukaan laut, sehingga inisiatif ini juga berdampak positif terhadap iklim.

“Perempuan ikut ambil bagian dalam bisnis tapak bakau dengan menjual produk kami di sana. Kami menjual makanan, makanan ringan, dan kerajinan tangan dari bahan ramah lingkungan atau plastik daur ulang,” kisah Lentce.

Ke depan, BUMDes berencana untuk mengembangkan bisnis homestay atau penginapan ramah lingkungan, di mana perempuan juga akan memainkan peran kunci dalam manajemen dan operasional.

“Pembangunan homestay akan menggunakan bahan ramah lingkungan dari desa kami. Kami akan menjaga penggunaan air dan listrik seminimal mungkin dan menghindari penggunaan plastik sekali pakai. Kami bahkan berencana menggunakan peralatan makan dari bambu, batok kelapa dan bahan hijau lainnya,” Lentce menambahkan.

“Kami juga telah mendapat pelatihan layanan jasa seperti menyapa tamu, menyiapkan kamar dan makanan, serta menangani keluhan. Kami akan melibatkan lebih banyak perempuan untuk menjalankan bisnis ini,” pungkasnya.