Perlindungan sosial
Membangun masa depan yang lebih aman: Kaum muda Indonesia ungkapkan pentingnya perlindungan sosial
ILO bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mempertemukan kaum muda untuk mendiskusikan pentingnya perlindungan sosial dalam membantu mereka membangun masa depan yang lebih aman.
9 Juli 2026
YOGYAKARTA, Indonesia (Berita ILO) – Di tengah persiapan memasuki dunia kerja yang semakin tidak menentu, pemahaman mengenai perlindungan sosial menjadi semakin penting bagi kaum muda. Untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan generasi muda, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan diskusi interaktif mengenai fenomena Sandwich Generation serta peran perlindungan sosial dalam menjamin masa depan kaum muda.
Diselenggarakan di Yogyakarta pada Mei lalu, diskusi ini mempertemukan lebih dari 60 mahasiswa, dosen dan perwakilan organisasi mitra. Kegiatan ini merupakan bagian dari ILO Youth Network, yang bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mendorong kaum muda terlibat dalam diskusi mengenai ketenagakerjaan dan pekerjaan masa depan. Kegiatan ini juga didukung oleh proyek Mempromosikan dan membangun perlindungan sosial di Indonesia yang didanai Pemerintah Jepang.
Seusai acara, ILO berbincang dengan sejumlah peserta untuk mendengar pandangan mereka mengenai pelindungan sosial. Di tengah meningkatnya ketidakpastian pekerjaan, meluasnya pekerjaan informal serta semakin banyaknya bentuk hubungan kerja non-standar, banyak kaum muda memandang pelindungan sosial sebagai fondasi penting untuk mengambil keputusan yang tepat mengenai karier, kondisi keuangan dan kesejahteraan mereka di masa depan.
"Generasi kami membutuhkan pelindungan sosial lebih dari sebelumnya"
Bagi banyak anak muda, masa pensiun masih terasa sangat jauh. Namun bagi Hanif Abdullah Dzakwan, mahasiswa Fakultas Hukum UGM berusia 21 tahun, masa depan adalah sesuatu yang sudah layak dipikirkan sejak sekarang.
Sebagai bagian dari Generasi Z, Hanif mengaku kerap memikirkan seperti apa dunia kerja yang akan dihadapinya setelah lulus. Seperti banyak teman sebayanya, ia khawatir apakah dirinya dapat memperoleh pekerjaan yang layak di tengah dunia kerja yang semakin tidak pasti, sekaligus mampu menghidupi keluarga dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.
"Banyak orang masih menganggap pelindungan sosial hanya penting bagi generasi yang lebih tua," ujar Hanif. "Padahal, dengan kondisi pasar kerja yang penuh ketidakpastian saat ini, kaum muda justru perlu memahaminya sejak sekarang. Kita memasuki dunia kerja yang dipenuhi kontrak jangka pendek, pekerjaan paruh waktu dan pekerjaan lepas. Dalam banyak hal, justru generasi kitalah yang paling membutuhkan pelindungan sosial."
Kebebasan dalam bekerja bukan hanya soal bisa bekerja dari mana saja, tetapi juga memiliki ketenangan karena mengetahui bahwa masa depan kita terlindungi.
Menurut Hanif, kaum muda perlu berhenti memandang pelindungan sosial sebagai sekadar kewajiban administratif. "Pelindungan sosial adalah jaring pengaman ketika kita menghadapi masa-masa sulit," jelasnya. "Kebebasan dalam bekerja bukan hanya soal bisa bekerja dari mana saja, tetapi juga memiliki ketenangan karena mengetahui bahwa masa depan kita terlindungi."
Ia juga mengapresiasi kesempatan yang diberikan melalui ILO Youth Network untuk mendiskusikan fenomena Sandwich Generation, yaitu generasi muda yang harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus keluarganya sendiri. "Saya belajar banyak dari sesi ini. Saya jadi menyadari bahwa pelindungan sosial sangat erat kaitannya dengan masa depan kita."
"Merencanakan masa pensiun dimulai sejak kita muda"
Bagi Feronika Meidiana, 23 tahun, diskusi ILO Youth Network mengenai Sandwich Generation hadir pada waktu yang sangat tepat. Lulusan program studi ilmu aktuaria yang bercita-cita menjadi analis data ini teringat kembali pada skripsinya yang membahas pensiun. Baginya, materi yang dibahas sangat relevan, baik dengan latar belakang akademiknya maupun dengan rencana masa depannya.
"Saya mendapatkan banyak pengetahuan baru karena topik diskusi sangat berkaitan dengan skripsi saya," ujarnya. "Bidang yang saya pelajari berfokus pada risiko keuangan, asuransi dan pensiun. Diskusi ini juga membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya perencanaan pensiun."
Saat mencari pekerjaan, jangan hanya mempertimbangkan besarnya gaji. Cari tahu juga apakah perusahaan memberikan manfaat pelindungan sosial, termasuk program pensiun.
Meski masa pensiun masih terasa puluhan tahun lagi, Feronika percaya bahwa tidak pernah terlalu dini untuk mulai mempersiapkannya. "Kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan kita ketika memasuki usia lanjut," ungkap dia. "Apakah kita masih mampu bekerja? Apakah kita memiliki anak yang dapat mendukung kita? Ada begitu banyak ketidakpastian. Karena itu, kita perlu mempersiapkan diri sejak masih muda."
Pesannya kepada sesama anak muda sederhana namun penting. "Saat mencari pekerjaan, jangan hanya mempertimbangkan besarnya gaji. Cari tahu juga apakah perusahaan memberikan manfaat pelindungan sosial, termasuk program pensiun. Harapan saya, suatu hari nanti saya dapat membangun masa depan yang aman secara finansial tanpa harus bergantung sepenuhnya kepada anak-anak saya."
"Pelindungan sosial adalah hak setiap orang"
Bagi M. Ludfi Rahmawan, 36 tahun, perangkat desa sekaligus koordinator administrasi pelindungan sosial bagi warga Desa Gatak Delanggu, Kabupaten Klaten, pelindungan sosial merupakan tanggung jawab pribadi sekaligus komitmen negara. Menurut dia, setiap individu perlu mempersiapkan masa depannya, namun pemerintah juga memiliki peran penting untuk memastikan seluruh warga negara memperoleh akses terhadap pelindungan sosial.
"Sebagai warga negara, kita memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa pensiun," ujar Ludfi. "Namun negara juga memiliki kewajiban menyediakan sistem pelindungan sosial yang mampu menjamin setiap orang mendapatkan perlindungan."
Pelindungan sosial adalah hak setiap orang. Apa pun jenis pekerjaan kita dan berapa pun penghasilan kita, setiap orang berhak mendapatkan perlindungan.
Pengalamannya melihat banyak orang lanjut usia yang masih harus bekerja setelah memasuki usia pensiun semakin menguatkan keyakinannya bahwa perencanaan sejak dini sangat penting.
"Dengan berbagai ketidakpastian global saat ini, kaum muda tidak cukup hanya berfokus pada memperoleh penghasilan yang layak," katanya. "Mereka juga perlu berinvestasi untuk masa depan agar kerja keras yang dilakukan hari ini dapat memberikan rasa aman dan kehidupan yang bermartabat di hari tua."
Bagi Ludfi, pelindungan sosial pada akhirnya adalah soal keadilan dan martabat. "Pelindungan sosial adalah hak setiap orang," tegasnya. "Apa pun jenis pekerjaan kita dan berapa pun penghasilan kita, setiap orang berhak mendapatkan perlindungan."