Dampak kami, suara mereka
Kisah perjalanan dua pelaku usaha dengan disabilitas merintis usaha daring
Dua pelaku usaha dengan disabilitas yang mengikuti pelatihan dan pendampingan bisnis administrasi toko daring ILO semakin mantap beralih ke usaha daring. Ini kisah perjalanan bisnis mereka.
26 November 2020
Peluang besar dalam usaha daring inilah yang mendorong dua pelaku usaha dengan disabilitas—Anni Juwairiyah, 60 tahun, dan Christianto Harsadi, 23 tahun—melebarkan jangkauan ke usaha daring. Mereka juga merupakan dua dari ratusan peserta yang mengikuti pelatihan administrasi toko daring bagi usaha kecil dan menengah yang dilakukan ILO melalui Proyek Perempuan dalam STEM pada bulan Mei-Agustus lalu.
Melihat keseriusan mereka mengikuti pelatihan dan membangun administrasi toko daring, mereka pun terpilih mengikuti program pendampingan bisnis selama dua bulan (September-Oktober) bersama para mentor bisnis profesional dari Clevio Coder Camp, yang menjadi mitra ILO.
Melanjutkan usaha warisan keluarga
Menjalankan usaha bukanlah sesuatu hal yang baru bagi Anni. Keluarganya telah merintis usaha di bidang tekstil dan konveksi di Kebumen, Jawa Tengah, sejak tahun 1953. Mewarisi bisnis keluarga bernama “Toko Asri” ini, Anni terus berupaya mempertahankan dan mengembangkan bisnis ini dengan mendirikan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan.Namun, omset yang menurun, beban hutang dan ketidakdisplinan pekerja membuat Anni kewalahan mempertahankan usahanya. Kondisi ini diperburuk lagi dengan adanya pandemi. “Tekad saya perusahaan ini harus tetap jalan,” ungkapnya.
Karenanya ia langsung menyambut peluang mengikuti pelatihan administrasi toko daring gelombang ke-6 pada Agustus lalu. Ia merupakan satu dari 19 peserta dengan disabiltas. Anak bungsu dari enam bersaudara ini terkena polio saat berusaha dua tahun dan sejak itu harus mempergunakan kursi roda. Ia pun aktif dalam Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI).Dengan sistem daring ini, saya berharap dapat menarik minat generasi muda keluarga saya untuk meneruskan."
Anni Juwairiyah
Anni semakin mempertajam kemampuan bisnisnya saat mengikuti pendampingan yang dilakukan secara perorangan. Menggunakan metode Business Model Canvas, ia diajarkan untuk memetakan usaha yang dijalankannya ke dalam sembilan elemen kunci yang meliputi, antara lain, sumber daya, nilai produk, harga dan tampilan serta segmentasi pelanggan,
Ia kini menjadi lebih mampu membuat perencanaan yang lebih terstruktur dan bahkan dapat mengajak semua pekerjanya untuk terlibat dalam proses pembuatan dan pengembangan usaha daring ini.
“Apa yang kemarin hanya saya pikirkan di kepala saya, sekarang saya bisa pilah sesuai prioritas,” ungkapnya. “Bahkan para pekerja juga menjadi bersemangat mengerjakan penjualan online ini.”
Anni pun berharap dengan peralihan ke usaha daring, bisnis keluarga yang sudah dirintis lebih dari 60 tahun lalu ini dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya. “Dengan sistem daring ini, saya berharap dapat menarik minat generasi muda keluarga saya untuk meneruskan.”
Merintis usaha daring sesuai kompetensi
Sementara Christianto Harsadi atau akrab dipanggil Anto baru membuka bisnis fotografinya, “Antography”, setelah menyelesaikan pelatihan administrasi toko daring gelombang ke-5 pada Juli lalu. Ia langsung mencoba menerapkan apa yang dipelajarinya saat pelatihan.Di kalangan fotografer, nama Anto sudah cukup dikenal. Sebagai seorang fotografer tuli, ia tercatat sebagai fotografer resmi Asian Para Games 2018. Ia bahkan pernah menjadi salah seorang kontestan acara TV berbayar “Photo Face-Off”, sebuah acara realita TV tentang kompetisi fotografir amatir di Asia Tenggara, pada 2016.
“Seiring berjalannya diskusi saya dengan para mentor, saya merasa semakin percaya diri dapat menjalankan usaha ini,” ujarnya saat dihubungi secara tertulis. “Saya bahkan berkeinginan untuk dapat membuka peluang kerja bagi orang lain.”Ternyata tanpa saya sadari saya sudah melakukan penjenamaan diri saat saya menjadi fotografer dan berkeliling di beberapa kota. Ini turut membantu menguatkan usaha daring yang sedang saya rintis."
Christianto Harsadi
Melalui sesi pendampingan usaha yang diikutinya bersama dengan 910 peserta lainnya, Anto semakin memantapkan upaya pengembangan bisnis fotografi daringnya. Keyakinan ini semakin kuat saat mengikuti sesi penjenamaan diri (personal branding) untuk memperkuat pencitraan usaha di bidang jasa seperti fotografi.
“Ternyata tanpa saya sadari saya sudah melakukan penjenamaan diri saat saya menjadi fotografer dan berkeliling di beberapa kota. Ini turut membantu menguatkan usaha daring yang sedang saya rintis,” kisah Anto yang juga lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.
Tiga hal yang dipetik Anto selama sesi pendampingan bisnis mengenai penjenamaan ini: keterampilan, pengalaman dan sikap. “Ketiga hal inilah yang membentuk kompetensi seseorang dan menjadikanya berbeda dari orang lain dan bisnis lainnya. Ini yang terus saya kembangkan.”
Program Kesiapan dan Pengembangan Angkatan Kerja Perempuan dalam STEM (2017-2020) didanai oleh J.P. Morgan Chase Foundation berupaya memberikan kaum perempuan di Thailand, Indonesia dan Filipina dengan pelatihan keterampilan non-teknis dan teknis terkait STEM, kemampuan kerja dan kepemimpinan.
Related content
Dampak kami, suara mereka
Toko daring bantu pengusaha disabilitas penuhi tantangan COVID
Dampak kami, suara mereka
Membangun harapan dan mewujudkan mimpi di tengah pandemi