Pembangungan ekonomi daerah

Jalur bakau menumbuhkan tempat wisata baru di Indonesia

Pelatihan ILO membawakan keterampilan baru, pendapatan yang lebih tinggi ke Sulawesi Utara

15 Juli 2021

Content also available in: English
Selama bertahun-tahun, jalan setapak yang ditinggikan dan berkelok-kelok melalui terowongan bakau dan aliran air pasang di Budo—sebuah desa pertanian dan nelayan pesisir di Provinsi Sulawesi Utara—sangat populer di kalangan penduduk setempat sebagai tempat rekreasi yang indah dan tenang. Selama tiga bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah—jalan setapak tersebut telah berubah menjadi tempat liburan bagi para wisatawan.

Setelah menerima pelatihan pengembangan ekonomi yang diberikan oleh pelatih lokal dan difasilitasi oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), penduduk desa kini telah mengubah jalan setapak tersebut menjadi daya tarik wisata— sebagai Badan Usaha Milik Desa yang dibiayai oleh dana desa yang mendapatkan alokasi dana oleh pemerintah.

Mereka memulai dengan membangun fasilitas yang diperlukan di jalur bakau yang ada, seperti gerbang tiket dan toilet. Beberapa penduduk setempat juga mendirikan toko oleh-oleh dan kedai kopi. Sejak itu, jalur ini telah menarik banyak pelancong dari tempat lain, terutama selama akhir pekan.

Usaha ini menjadi sumber pendapatan baru bagi desa ini. Di hari paling ramai, masyarakat dapat memperoleh 5 juta rupiah—sekitar 380 dolar AS—dari tiket masuk per orang sebesar Rp 5.000, dan tiket parkir Rp 4.000 per mobil dan Rp 1.000 untuk sepeda motor.

“Pelatihan ini telah membantu masyarakat setempat untuk membuat rencana bisnis dan kemudian memulai dan menjalankan bisnis ini,” kata Odi Randi Lintogareng, sekretaris kantor pemerintahan desa.

Provinsi Sulawesi Utara merupakan salah satu tujuan wisata bahari yang terkenal. Pulau Bunakennya terkenal dengan aktivitas bawah laut seperti menyelam dan snorkeling.

Sejak akhir tahun lalu, Program Keterampilan untuk Kemakmuran di Indonesia (SfP-Indonesia) ILO, yang didanai oleh pemerintah Kerajaan Inggris, telah melatih 80 pelatih dan dosen setempat yang berasal dari Politeknik Negeri Manado (Polimanado), Universitas Klabat dan Yayasan Tonsea dengan topik-topik termasuk pendidikan keuangan, usaha desa dan bisnis ramah lingkungan, membuat para pelatih baru ini dapat lebih jauh memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sama kepada masyarakat lokal di tujuh desa pesisir yang menjadi sasaran. Tujuannya adalah meningkatkan mata pencarian masyarakat lokal melalui pengembangan bisnis ramah lingkungan, seperti rumah wisata (homestay) dan produk lokal.

Para pelatih dari Polimanado, dengan dukungan dari Universitas Klabat, telah melatih 120 warga desa dari Desa Budo dan Desa Tiwoho. Dengan pengetahuan dan keterampilan tentang pengelolaan keuangan dan kewirausahaan, masyarakat Desa Budo kini menerapkan pembukuan manual untuk mencatat jumlah pengunjung dan pendapatan yang dihasilkan dari usaha jalur wisata ini.

Penduduk Desa Tiwoho menjadi yang berikutnya.

“Pelatihan ini menginspirasi masyarakat di Desa Tiwoho untuk membuka usaha sendiri,” kata Kepala Desa Sonly Fredy Woy. Penduduk desa mulai membangun jalur bakau sepanjang 200 meter di lokasi strategis dengan pemandangan menakjubkan menghadap ke Pulau Bunaken dan Gunung Tumpa, tujuan olahraga paralayang di Sulawesi Utara. Pembangunannya didanai sepenuhnya menggunakan dana desa dan sumber daya berbasis tenaga kerja.

Rinny Rantung, pengajar kewirausahaan di Universitas Klabat, mengatakan ada banyak potensi usaha di Sulawesi Utara, wilayah pesisir yang kaya akan perkebunan kelapa dan peternakan ikan lepas pantai. Misalnya, masyarakat lokal dapat mengembangkan produk ramah lingkungan seperti minyak kelapa dan kerajinan berbahan dasar kelapa, katanya.

Ada juga perkebunan rumput laut di daerah tersebut.

“Saya kira kita belum punya produk yang terbuat dari rumput laut. Ini mungkin akan ideal untuk pengembangan produk bisnis yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Irfan Afandi, Staf Proyek SfP-Indonesia ILO yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, mengatakan program ini telah menyediakan metode pelatihan daring dan tatap muka dalam satu tahun terakhir karena pandemi COVID-19.

“Dengan pendampingan usaha yang diberikan kepada masyarakat setempat, ini akan menjadi pendapatan berkelanjutan bagi mereka dan penduduk desa lainnya,” katanya.

Selain inisiatif pengembangan ekonomi lokal, program ini juga menyediakan pengembangan kapasitas bagi Polimanado, yang memungkinkannya untuk meningkatkan kurikulum manajemen pariwisata dan proses pengembangan keterampilan.

SfP-Indonesia juga menjalin kemitraan serupa dengan tiga politeknik Indonesia lainnya—Polibatam di Kepulauan Riau, Polimarin di Jawa Tengah, dan PPNS di Jawa Timur—yang masing-masing berfokus pada subsektor industri kelautan yang berbeda.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemerataan, kualitas, relevansi dan efektivitas biaya pelatihan dan pendidikan teknis dan vokasi dan sistem keterampilan di Indonesia dalam menanggapi meningkatnya kebutuhan keterampilan, terutama di sektor kelautan.

Related content

Dibekali dengan keterampilan manajemen, penyelenggara acara pemula sukseskan peluncuran destinasi wisata baru

Dibekali dengan keterampilan manajemen, penyelenggara acara pemula sukseskan peluncuran destinasi wisata baru