Pengembangan ekonomi lokal

Inisiatif ILO mengubah kehidupan di pesisir Sulawesi Utara

Studi penilaian menunjukkan bukti adanya peningkatan dalam bisnis yang dijalankan oleh masyarakat di daerah pesisir Minahasa Utara setelah intervensi Program Skills for Prosperity di Indonesia.

24 Maret 2023

Content also available in: English
Bagi Amelia Suheti Banea, ibu tiga anak dari Marinsow, sebuah desa pesisir di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, kesuksesan bisnis kerajinan tangannya baru-baru ini menjadi sebuah lompatan besar dan pengalaman yang “luar biasa”.

Tahun lalu, hasil kerajinannya yang terbuat dari kayu dan batok kelapa dipamerkan di sebuah pameran di Jakarta. Pemerintah kemudian membawa produknya untuk dipamerkan di sebuah acara di Milan, Italia. Yang penting, dia bisa mendapatkan keuntungan dari bisnisnya untuk pertama kali.
“Saya tidak percaya produk (kerajinan tangan) saya bisa laku terjual,” kata Amelia.

Sebelum kesuksesan ini, penghasilan dari toko kerajinan tangan, makanan dan minuman dan rumah tinggal (homestay) belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Penghasilan bisnis kami saat itu tidak cukup untuk menutupi biaya hidup kami,” katanya.

Dia memutuskan untuk fokus pada peningkatan dan perluasan bisnis kerajinannya setelah menyelesaikan dua pelatihan tentang manajemen keuangan dan pengembangan produk yang diberikan oleh program Skills for Prosperity di Indonesia (SfP-Indonesia). Pelatihan tersebut membantunya belajar menabung dan menginspirasinya untuk menghasilkan kerajinan tangan yang lebih kreatif dalam hal desain dan pemanfaatan bahan mentah. Harga produknya berkisar antara 10.000 hingga 300.000 rupiah (0,66-19,8 dolar Amerika).

Suaminya, seorang pekerja konstruksi dan tukang kayu, juga membantunya menjalankan bisnis.

“Penghasilan keluarga saya meningkat sejak saya memulai usaha baru setelah mengikuti pelatihan,” ujarnya.

Masyarakat pesisir memainkan peran penting dalam berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi laut yang berkelanjutan."

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste
Menciptakan peluang ekonomi bagi kelompok marginal, termasuk perempuan dan kaum muda, merupakan salah satu tujuan SfP-Indonesia. Pelatihan yang dipimpin ILO ini merupakan bagian dari kerja sama program dengan Politeknik Negeri Manado (Polimanado) dan Universitas Klabat (Unklab) untuk menjalankan inisiatif pengembangan ekonomi lokal di empat desa pesisir di Sulawesi Utara – Budo, Tiwoho, Marinsow, dan Pulisan – sejak September 2020. Setelah menyelesaikan pelatihan, 451 peserta pelatihan menerima dukungan tambahan untuk membantu menginkubasi dan mengembangkan usaha mikro yang berkelanjutan.

Juliani Makanaling, seorang peserta pelatihan dan ibu satu anak dari Desa Budo, juga merasakan peningkatan pendapatan keluarganya setelah memperluas pasar penjualan ikannya. Sebelumnya, ia hanya berjualan ikan di pinggir jalan desa.

Pelatihan manajemen keuangan dan pemasaran membantunya belajar menabung untuk membeli sepeda motor bekas dan menggunakannya sebagai kendaraan untuk memasarkan ikan ke desa lain.

Dia juga belajar memanfaatkan Facebook sebagai pelantar lain untuk menjual ikan. Setiap hari, dia mengunggah informasi tentang ikan yang tersedia dan menerima pesanan dari pembeli secara daring.

“Saya berharap bisnis saya terus berkembang sehingga saya bisa membeli mobil untuk menjual ikan dalam jumlah yang lebih besar dan menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Ibu Juliani.

Dilaksanakan dari September 2020 hingga Desember 2022, inisiatif pengembangan ekonomi lokal SfP-Indonesia telah menunjukkan dampak positif bagi bisnis dan ekonomi lokal, menurut studi kualitatif yang dilakukan oleh Universitas Klabat bekerja sama dengan Universitas Gloucestershire, salah satu dari empat mitra internasional dari program.

Survei terhadap 109 dari 451 peserta pelatihan menemukan bahwa 77,75% responden mengalami peningkatan pendapatan bulanan setelah mengikuti pelatihan. Ditemukan juga bahwa inisiatif ini telah membantu komunitas lokal mengembangkan bisnis, dengan 40% responden mengatakan bahwa mereka telah memulai bisnis baru dan 37% bahwa mereka telah memperluas bisnis mereka melalui pertumbuhan dan diversifikasi.

“Ada ratusan lebih [desa pesisir] di Sulawesi Utara saja,” kata Valerie Julliand, Kepala Perwakilan PBB di Indonesia. “Saya berharap mitra di pemerintahan dapat terinspirasi dan meniru teknik dari model pembangunan ini untuk mendukung dan memberdayakan lebih banyak perempuan dan masyarakat pesisir agar menjadi bagian dari transformasi ekonomi berbasis laut yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia.”

Studi tersebut juga mengungkapkan kemajuan dalam formalisasi bisnis dengan 33 usaha memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) dan tiga dari empat Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) kini resmi terdaftar. Selain itu, 29% responden kini memiliki rekening bank dan 81% memanfaatkan media sosial untuk mendukung pertumbuhan bisnis mereka.

Manfaat lain dari pelatihan yang ditemukan dalam studi ini mencakup peningkatan kepercayaan diri dan ketahanan serta kesadaran akan dampak lingkungan.

Studi ini juga mengidentifikasi tantangan yang membatasi kemampuan beberapa peserta untuk mempraktikkan pelatihan mereka, termasuk kurangnya modal awal dan dukungan peraturan dan hukum, bencana lingkungan dan kesehatan, perubahan dalam manajemen desa, dan konflik antar lembaga.
Inisiatif pengembangan ekonomi lokal ini menunjukkan komitmen ILO terhadap Kemitraan Aksi Agenda Biru Nasional antara pemerintah dan PBB di Indonesia yang diluncurkan pada KTT G20 tahun lalu.

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, mengatakan: “Masyarakat pesisir memainkan peran penting dalam berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi laut yang berkelanjutan. Dengan hidup dan bekerja secara berkelanjutan di lingkungan alam Indonesia yang kaya dan mengembangkan keterampilan untuk mendukung dan meningkatkan mata pencarian mereka, mereka dapat memberikan kontribusi penting bagi kemakmuran dan pemulihan ekonomi daerah. Kolaborasi ini telah menjadi contoh positif dari apa yang bisa dicapai.”