Eksperimen sosial ILO-Magdalena: Perempuan menghabiskan 100 jam pekerjaan perawatan tidak berbayar dalam seminggu
Eksperimen sosial ILO-Magdalene mengungkapkan bahwa perempuan dapat menghabiskan lebih dari 100 jam per minggu untuk pekerjaan perawatan tidak berbayar. Mereka bahkan bisa melipatgandakan penghasilannya jika pekerjaan perawatan dianggap sebagai pekerjaan yang berbayar dan produktif.
5 Agustus 2024
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Untuk menunjukkan beban ganda yang ditanggung oleh perempuan dan jumlah waktu yang mereka habiskan untuk melakukan pekerjaan perawatan, ILO bekerja sama dengan Magdalene, media daring perempuan terkemuka, melakukan eksperimen sosial. Lima perempuan dipilih untuk mencatat tugas rumah tangga dan pengasuhan mereka selama tujuh hari, kemudian mencatat waktu yang dihabiskan untuk masing-masing tugas tersebut.
“Eksperimen ini berupaya untuk memahami berapa jam yang dihabiskan perempuan untuk pekerjaan perawatan, pekerjaan tidak berbayar yang sering diasosiasikan sebagai pekerjaan perempuan, dan nilainya jika pekerjaan tersebut dibayar,” kata Early Dewi Nuriana, Koordinator Program ILO untuk Pekerjaan Perawatan.
Eksperimen sosial mengungkapkan empat dari lima peserta mencatat jam pengasuhan melebihi 40 jam per minggu, di luar standar total jam kerja pekerja penuh waktu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020.
Natalia, 43 tahun, seorang pengantar makanan, misalnya, menyumbangkan 103,58 jam per minggu atau 414,33 jam per bulan dalam melakukan pekerjaan perawatan. Karena mempekerjakan pengasuh anak atau meminta bantuan anggota keluarga bukanlah suatu pilihan, Natalia sebagai ibu dari tiga anak harus membawa serta anaknya yang berusia dua tahun saat dia melakukan pengantaran; sementara di saat yang sama, dia harus menyiapkan makanan untuk keluarganya, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengurus anak-anaknya, dan banyak lagi.
Sementara Riris, 53 tahun, seorang pensiunan yang selama 24 jam merawat ayahnya yang terbaring di tempat tidur, bekerja 103,50 jam per minggu atau 414 jam per bulan. Ia tidak menerima bantuan apa pun dalam melakukan pekerjaan ini dan beban kerjanya setara dengan 258,75 persen dari gaji terakhirnya.
Emmy, 39 tahun, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai peneliti sambil membesarkan anak dan merawat ayahnya yang sudah lanjut usia. Ia menghabiskan 99 jam per minggu atau setara dengan 396 jam per bulan dalam melakukan pekerjaan perawatan. Kendati ia mendelegasikan 63,42 jam pekerjaan perawatan kepada pekerja rumah tangga, ia tetap saja masih menghabiskan 35,58 jam per minggu, yang berarti dua kali lipat gajinya sebagai peneliti sosial.
Ibu dua anak yang juga pekerja, Arniati, 35 tahun, mencatatkan jam kerja perawatan sebanyak 59,92 jam per minggu atau setara 203,67 jam per bulan. Jika ia menerima gaji atas pekerjaan perawatan anak yang saat ini tidak dibayar, maka gajinya akan mencapai hampir Rp 11 juta per bulan, lebih besar dari gajinya saat ini.
Situasi Ernawati sedikit lebih baik dibandingkan keempat peserta lainnya. Agen perjalanan berusia 49 tahun, yang bekerja dari rumah untuk merawat ayahnya yang sakit, menghabiskan 25,98 jam per minggu untuk pekerjaan perawatan, termasuk merawat ayahnya selama sebulan. Dia akan mendapat penghasilan 64,69 persen lebih tinggi dari gajinya saat ini.
Kelima peserta sepakat bahwa pekerjaan perawatan itu penting. Namun, mereka juga percaya bahwa pekerjaan perawatan adalah pekerjaan perempuan, bukan laki-laki. Perempuan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam merawat orang lain dan perempuan secara alami sesuai untuk melakukan pekerjaan pengasuhan dan perawatan.
Ada kebutuhan mendesak untuk mengakui pekerjaan perawatan tidak berbayar sebagai pekerjaan yang berharga dan produktif melalui skema perlindungan sosial, seperti cuti berbayar bagi pekerja yang mempunyai tanggung jawab keluarga untuk memberikan perawatan keluarga, sehingga perempuan dapat terus bekerja dan mendapatkan penghasilan.
Early Dewi Nuriana, Koordinator Program ILO mengenai Pekerjaan Perawatan
Early juga menyatakan bahwa hasil eksperimen sosial tersebut semakin menegaskan temuan survei ILO tentang persepsi masyarakat terhadap pekerjaan perawatan. Survei tahun 2023 tersebut menemukan bahwa mayoritas responden perempuan (67,3 persen) mengatakan mereka tidak merasa harus bekerja lebih lama untuk melakukan pekerjaan perawatan dibandingkan laki-laki.
Kendati survei juga menunjukkan bahwa 61,6 persen responden laki-laki mempunyai istri atau saudara perempuan yang harus menanggung beban ganda, namun 65,6 persen tidak bersedia membayar orang lain untuk membantu pekerjaan perawatan. Sedangkan responden perempuan yang mempunyai beban ganda mencapai 79,3 persen. Namun ironisnya, 78,3 persen menolak membayar orang lain untuk membantu pekerjaan perawatan.
“Karenanya, dengan mengkonversi jam kerja perawatan yang dilakukan per hari, per minggu menjadi per bulan dalam bentuk pendapatan, akan menyadarkan betapa besarnya nilai ekonomi pekerjaan perawatan tersebut, yang selama ini masih dianggap sebagai pekerjaan tidak produktif dan sehingga tidak perlu dibayar,” tambahnya.
Salah satu peserta, Emmy berpendapat bahwa pengakuan terhadap pekerjaan perawatan itu penting. “Sebagai peneliti, saya sering dihadapkan pada kampanye tentang kesetaraan gender dan pekerjaan perawatan. Pada akhirnya, pekerjaan ini tetap tidak bisa diabaikan. Pesannya jelas—Ini bukan hanya tanggung jawab perempuan.”
Langkah pertama untuk mengatasi bias gender, menurut Early, adalah dengan mengakui bahwa pekerjaan mengasuh anak adalah pekerjaan yang produktif. Ia juga menekankan perlunya tindakan dari berbagai pihak untuk tidak hanya mengubah pola pikir masyarakat, tetapi juga memberikan kebijakan dan dukungan infrastruktur yang sesuai.
“Ada kebutuhan mendesak untuk mengakui pekerjaan perawatan tidak berbayar sebagai pekerjaan yang berharga dan produktif melalui skema perlindungan sosial, seperti cuti berbayar bagi pekerja yang mempunyai tanggung jawab keluarga untuk memberikan perawatan keluarga, sehingga perempuan dapat terus bekerja dan mendapatkan penghasilan. Dukungan infrastruktur seperti rumah ramah lansia dan layanan penitipan anak yang terjangkau dapat meringankan beban yang ditanggung oleh mereka yang memberikan perawatan/pengasuhan,” tutupnya.
Eksperimen sosial ini dilakukan sebagai bagian dari kampanye ILO mengenai ekonomi perawatan yang bertujuan untuk mendorong investasi yang lebih besar pada ekonomi perawatan demi membangun dunia kerja yang lebih baik dan setara gender di Indonesia.
Related content
Pekerjaan perawatan
Perempuan masih kesulitan untuk mengatur pekerjaan berbayar dan pekerjaan perawatan tidak berbayar