Dampak kami, suara mereka
Dari pandemi ke peluang bisnis
Seorang wirausaha muda dari Jakarta berhasil mengatasi tantangan COVID-19 dengan mengembangkan bisnis kulinernya. Dia berbagi perjalanan bisnisnya yang inspiratif dengan kaum muda Indonesia dalam acara yang didukung oleh ILO baru-baru ini.
21 Oktober 2020
“Karena meningkatnya bisnis daring selama pandemi COVID-19, kami dapat mengembangkan bisnis dan membuka kafe agar lebih dekat dengan pelanggan kami,” jelasnya.
Lia berbagi perjalanan bisnis yang inspiratif dengan 130 anak muda yang berpartisipasi dalam acara bincang-bincang muda yang diadakan pada September 2020 oleh ILO dan GRID Network, sebuah jaringan media terkemuka di Indonesia. Acara tersebut merupakan bagian dari serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menginspirasi dan mendorong generasi muda Indonesia mengejar impian mereka bahkan di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi.Kita perlu terus berinovasi dengan menu karena ketidakpastian akibat pandemi. Kita harus kreatif menjaga pelanggan kita."
Lia Ganni
Kesukaan memasak itulah yang membuat Lia dan rekan bisnisnya memulai bisnis kulinernya.
“Kami suka memasak, tapi kami juga suka makan di luar. Jadi, kami berpikir kenapa tidak mencoba memasak hidangan yang paling kami sukai, Salmon Mentai, yang bisa kami konsumsi sendiri sekaligus dijual,” kenang Lia.
Diawali dengan hanya enam porsi yang ditawarkan kepada teman dan kerabat, tanggapan yang terima ternyata luar biasa. Pesanan selanjutnya meningkat menjadi 50 porsi dan usaha ini benar-benar melejit melalui promosi di media sosial.
“Keistimewaan yang kami tawarkan adalah kami hanya menyajikan hidangan segar. Kami memasak hidangan berdasarkan pesanan dan strategi ini telah membuat bisnis ini berkembang pesat hingga 200 porsi Salmon Mentai per hari. Saat ini kami mempekerjakan sembilan pekerja,” ungkap Lia.
Untuk mempertahankan bisnisnya, Lia dan rekan bisnisnya terus melakukan inovasi menu-menu baru berdasarkan masukan atau permintaan dari pelanggan mereka. Bagi pelanggan yang tidak menyukai makanan laut, mereka membuat hidangan daging sapi sementara kue kering seperti roti keju Korea dan minuman manis juga populer.
“Kita perlu terus berinovasi dengan menu karena ketidakpastian akibat pandemi. Kita harus kreatif menjaga pelanggan kita,” kata Lia. “Kami bahkan menyesuaikan menu kami dengan makanan beku yang sangat diminati selama Ramadan.”
Kendati pandemi telah membuat Lia dan mitra bisnisnya mampu memperluas usaha kuliner ini, dampak pandemi pun menghantam mereka dengan keras saat adanya pembatasan akibat COVID-19 yang menyebabkan penurunan pesanan.
“Ada saatnya ketika saya harus berpikir keras untuk membuat ini berhasil dan memastikan kami dapat membayar pekerja dan tidak memberhentikan mereka,” jelas Lia.
Bersama rekan bisnisnya, mereka mengumpulkan semua pekerja untuk membahas situasi tersebut dan menyetujui apa yang harus dilakukan. Dengan mengembangkan menu dan terus menghadirkan produk-produk baru, Momomaru mampu mempertahankan bisnis dan seluruh pekerjanya.Kewirausahaan muda membantu kaum muda mengembangkan keterampilan baru dan pengalaman yang mempromosikan inovasi dan ketangguhan. Wirausaha muda, karenanya, responsif terhadap peluang dan tren baru serta mampu beradaptasi dengan lebih baik terhadap perubahan dalam pasar kerja."
Tauvik Muhamad, manajer program pengembangan keterampilan ILO
Lia menutup sesi interaktifnya dengan mengajak kaum muda untuk tidak pernah meragukan diri mereka sendiri dan menyadari minat mereka.
“Bertindak, jangan hanya bermimpi atau memikirkannya,” tegasnya.
Acara bincang-bincang muda ini merupakan bagian dari program pengembangan keterampilan ILO, yang memberikan dukungan kepada Indonesia dalam mempersiapkan generasi mudanya melalui keterampilan berbasis industri. Tauvik Muhamad, manajer program pengembangan keterampilan ILO, menghargai inovasi dan ketangguhan yang diperlihatkan oleh Lia Ganni sebagai wirausaha muda.
“Kewirausahaan muda membantu kaum muda mengembangkan keterampilan baru dan pengalaman yang mempromosikan inovasi dan ketangguhan. Wirausaha muda, karenanya, responsif terhadap peluang dan tren baru serta mampu beradaptasi dengan lebih baik terhadap perubahan dalam pasar kerja,” Tauvik menambahkan.
Dukungan ILO juga diberikan oleh dua proyek keterampilannya: Proyek Keterampilan Industri untuk Pertumbuhan Inklusif (In-Sight) Tahap II dan Proyek Bantuan Berkualitas bagi Pekerja yang Terkena Dampak Penyesuaian Kerja (UNIQLO).
Didanai oleh Pemerintah Jepang, tahap kedua Proyek In-Sight ini bertujuan untuk mempromosikan mekanisme dan pendekatan praktis yang memungkinkan industri dan tempat kerja menjadi pendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di kawasan Asia.
Didanai oleh perusahaan induk UNIQLO, Fast Retailing Co., Ltd, Proyek ILO/UNIQLO memfasilitasi dialog tripartit dan memberikan bantuan teknis untuk merumuskan skema tunjangan pengangguran yang efektif dan komprehensif sebagai bagian dari sistem perlindungan sosial. Proyek ini akan berjalan selama dua tahun hingga 2021.
Related content
COVID-19: Mempromosikan pengembangan keterampilan
Mempersiapkan kaum muda dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan dan kewirausahaan