Digitalisasi dan inklusi keuangan

Dari gagasan menjadi kemajuan: Transformasi digital memberdayakan keuangan pedesaan di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

ILO mendukung bank pedesaan di Jawa Tengah, Indonesia dalam transformasi digitalnya, beralih dari operasi manual ke proses digital sepenuhnya.

6 Agustus 2025

Content also available in: English

JAWA TENGAH, Indonesia (Berita ILO) - Dengan Sistem Originasi Pinjaman (LOS) yang baru dipasang, sebuah alat digital yang mengotomatisasi seluruh proses aplikasi kredit dari survei hingga pencairan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusamba Cepiring di Jawa Tengah telah meningkatkan operasionalnya secara signifikan. Sistem ini kini mendukung enam cabang di dua kabupaten, Kendal dan Semarang, yang melayani lebih dari 2.600 nasabah.

Sebelum transformasi digital ini, BPR Nusamba Cepiring mengandalkan proses manual yang memakan waktu. Mulai dari survei lapangan dan input data di komputer bersama, hingga proposal kredit dan penyusunan dokumen fisik, semuanya dilakukan secara manual, sehingga menciptakan inefisiensi harian.

Sistem ini membuat semua orang lebih disiplin dan berorientasi pada detail. Kita semua juga berbicara dalam bahasa yang sama, yaitu data.

Andin Syamsul Rizal, Kepala Cabang Utama BPR Nusamba Cepiring

“Sering kali, staf harus lembur hanya untuk memasukkan data karena sistemnya lambat dan dokumen sering tertinggal di cabang, sehingga semuanya tertunda,” ujar Agus Setiawan, staf IT dan pelatih internal BPR Nusamba Cepiring.

Proses sebelumnya yang lambat dan panjang tidak hanya memengaruhi staf tetapi juga pelanggan. Muslichatun, seorang pemilik usaha makanan kecil, mengingat ia harus menunggu hingga lima hari hanya untuk mendapatkan pembiayaan.

Namun, hal itu kini sudah berlalu. Sejak penerapan LOS, Didukung oleh proyek ILO, Mempromosikan Usaha Kecil dan Menengah melalui Akses Pelaku Wirausaha terhadap Jasa Keuangan (Promise II Impact), yang didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) pada akhir tahun 2024, BPR Nusamba Cepiring telah mengalami transformasi menyeluruh dari operasional manual ke proses digital.

Pergeseran ini tidak hanya meningkatkan penyampaian layanan tetapi juga menciptakan tempat kerja yang lebih sehat dan inklusif. Tugas manual telah berkurang, lembur telah berkurang, dan staf lebih termotivasi untuk mencapai tujuan mereka. Bahkan pegawai senior, yang awalnya ragu untuk mengadopsi teknologi baru, telah berhasil beradaptasi melalui dukungan tim dan sesi pelatihan khusus.

ILO senang menyaksikan transformasi dari yang sebelumnya sangat bergantung pada tenaga kerja manual menjadi merangkul digitalisasi, yang berkontribusi dalam memajukan visi ILO tentang pekerjaan layak untuk semua.

Djauhari Sitorus, Proyek Koordinator Promise II Impact ILO

BPR Nusamba Cepiring kini melayani nasabahnya dengan lebih efisien, didukung oleh lingkungan kerja yang membuat pegawai merasakan tujuan baru.

Kami memiliki budaya kerja baru sekarang," ujar Andin Syamsul Rizal, Kepala Cabang Utama BPR Nusamba Cepiring. "Sistem ini membuat semua orang lebih disiplin dan berorientasi pada detail. Kita semua juga berbicara dalam bahasa yang sama, yaitu data."

Senada dengan itu, Agus menambahkan bahwa petugas akun kini memiliki visibilitas yang lebih baik di setiap tahapan proses pinjaman. "Sebelumnya, mereka sering tidak tahu persis status aplikasi, sehingga menyebabkan keterlambatan dan kesulitan menjawab pertanyaan nasabah," ujarnya. Dia menambahkan, "Sekarang, sistem ini memungkinkan kami memantau perkembangan secara real-time, sehingga petugas akun dapat memberikan informasi terbaru yang jelas dan akurat serta mengelola ekspektasi dengan lebih percaya diri."

Untuk memastikan transformasi berkelanjutan, selain pelatihan digital di LOS, proyek Promise II Impact, ILO telah menyediakan 40 tablet untuk memfasilitasi entri data digital di lapangan. Hal ini telah mengurangi dokumen yang berulang dan menghilangkan perjalanan panjang kembali ke kantor, sehingga mendorong budaya kerja yang lebih kolaboratif dan mengurangi stres, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat.

Kecepatan dan kejelasan prosesnya memberi saya keyakinan untuk berinvestasi lebih banyak.

Taubat, seorang pedagang kecil yang menerima pinjaman selama pandemi, telah mengembangkan usahanya menjadi 11 kios pasar

Djauhari Sitorus, Proyek Koordinator Promise II Impact ILO, menyoroti pergeseran digital BPR Nusamba Cepiring sebagai model untuk memperluas akses keuangan, memberdayakan bisnis, dan membangun ekonomi lokal yang tangguh dan inklusif.

"ILO senang menyaksikan transformasi dari yang sebelumnya sangat bergantung pada tenaga kerja manual menjadi merangkul digitalisasi, yang berkontribusi dalam memajukan visi ILO tentang pekerjaan layak untuk semua," ujarnya.

TPeningkatan operasional juga telah memberikan hasil bisnis yang nyata. Bagi Muslichatun, kini hanya butuh satu atau dua hari untuk mendapatkan pinjaman usaha sebesar 35 juta Rupiah. "Lebih cepat, dengan lebih sedikit dokumen dan komunikasi yang lebih jelas," ujarnya, siap untuk mengembangkan usahanya.

Muslichatun, seorang pengusaha industri rumahan dan nasabah BPR Nusamba Cepiring, kini memperoleh pinjaman lebih cepat, yang mendorong berkembangnya bisnis makanan ringannya.

Sementara itu, Taubat, seorang pedagang kecil yang menerima pinjaman selama pandemi, telah mengembangkan usahanya menjadi 11 kios pasar, mempekerjakan lebih dari 40 orang. "Kecepatan dan kejelasan prosesnya memberi saya keyakinan untuk berinvestasi lebih banyak," ujarnya dengan yakin.