A person standing

Dampak kami, suara mereka

Dari Aceh ke dunia: Transformasi visioner dalam industri nilam Indonesia

Kisah ini mengikuti perjalanan seorang visioner asal Aceh, dengan dukungan ILO, yang telah menghidupkan kembali kejayaan minyak nilam Aceh melalui inovasi dan transformasi digital.

28 November 2025

Dr. Syaifullah Muhammad, the founder of the Atsiri Research Center (ARC) at Syiah Kuala University in Aceh, Indonesia. © Zulkarnaini/Kompas
Content also available in: English

BANDA ACEH, Indonesia (Kisah ILO) - Di bawah hangatnya matahari tropis Aceh, aroma nilam menyeruak—beraroma tanah, dengan wewangian lembut hangat (musky) yang lekat dengan identitas provinsi ini. Aroma wewangian yang berkarakteristik ini menjadi fondasi bagi berbagai parfum dan kosmetik dunia. Kendati tanaman nilam juga dibudidayakan di sejumlah wilayah di Indonesia, Aceh tetap menjadi salah satu produsen nilam yang paling dikenal dengan kualitas minyak nilamnya yang tinggi dengan kadar alkohol di atas 34 persen.

Selama berabad-abad, komoditas rempah ini menghidupi ribuan petani kecil, dengan minyaknya yang mewangikan berbagai jenama mewah dunia. Namun, meski memiliki reputasi global, para petani nilam Aceh telah lama bergulat dengan harga yang tidak stabil, metode budidaya yang ketinggalan zaman dan akses pembiayaan yang terbatas. Pada pertengahan 2000-an, konflik dan ketidakpastian ekonomi membuat produksi menurun tajam.

Jika 20 persen saja nilam Aceh dapat diolah secara lokal, dampaknya akan sangat besar. Kami membayangkan sebuah Galeri Nilam yang menghormati sejarah kami, memamerkan teknologi dan memberdayakan produsen kecil.

Dr. Syaifullah Muhammad, pendiri Atsiri Research Center (ARC) di Universitas Syiah Kuala

Kini, secara perlahan, sebuah transformasi tengah berlangsung, digerakkan oleh riset, inovasi digital dan kolaborasi internasional. Di pusatnya berdirilah Dr. Syaifullah Muhammad, seorang visioner kelahiran Aceh, yang pada 2016 mendirikan Atsiri Research Center (ARC) di Universitas Syiah Kuala. Di bawah kepemimpinannya, industri minyak atsiri Indonesia, yang memasok 90 persen kebutuhan global ini, telah diremajakan, dengan Aceh kembali pada peran utamanya sebagai pusat transformasi ini.

“Minyak nilam telah dikomersialkan sejak era kolonial Belanda. Namun terlalu lama para petani bergulat dengan harga yang tak stabil dan sistem yang usang. Sudah saatnya kita menciptakan ekosistem yang adil dan inovatif untuk nilam,” jelas Syaifullah. “Kami memulai hanya dari empat kabupaten yang menanam nilam. Hari ini, 17 kabupaten telah menanam kembali dan harga pun naik dari Rp 300.000 menjadi lebih dari Rp 1,8 juta per kilogram.”

Visinya bukan sekedar menghidupkan kembali masa keemasan nilam Aceh. Ia melangkah lebih jauh dengan merangkul inovasi melalui digitalisasi. Terobosan besar hadir melalui dukungan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melalui proyek Mempromosikan Usaha UKM melalui Peningkatan Akses Wirausaha terhadap Jasa Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact), yang didanai oleh Sekretariat Negara untuk Urusan Ekonomi (SECO) dari Swiss.

A smartphone
© Hotli Simanjuntak/ILO
© Hotli Simanjuntak/ILO
MyNilam, sistem digital perencanaan sumber daya usaha (Enterprise Resource Planning/ERP).

Transparansi itu membangun kepercayaan dan kepercayaan membuka akses kredit... Berkat kolaborasi dengan ILO, ini semua tidak mungkin kami capai sendirian.

Dr. Syaifullah Muhammad

Dalam kolaborasi ini, ARC dan ILO mengembangkan MyNilam, sebuah sistem digital perencanaan sumber daya usaha (Enterprise Resource Planning/ERP) yang mengintegrasikan catatan produksi, data petani dan pelacakan kualitas di seluruh rantai nilai. Dengan digitalisasi informasi ini, MyNilam meningkatkan ketertelusuran, memperkuat transparansi dan memperluas akses pembiayaan.

Dengan data yang andal, perbankan kini dapat menilai kinerja petani dengan jauh lebih akurat. Ini menjadi sebuah langkah penting menuju pembiayaan inklusif yang memperkuat industri dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga petani. Di luar teknologi, kemitraan ini juga meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, khususnya bagi petani perempuan.

“Transparansi itu membangun kepercayaan dan kepercayaan membuka akses kredit,” tegas Syaifullah. “Para petani, termasuk petani perempuan, kini mencatat hasil panen, rutin menabung dan bahkan berinvestasi pada peralatan baru. Berkat kolaborasi dengan ILO, ini semua tidak mungkin kami capai sendirian.”

Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact, menghargai dedikasi Syaifullah dan ARC dalam memastikan keberlanjutan MyNilam serta memperkuat dukungan pembiayaan dari bank pembangunan daerah. Ia menekankan bahwa tujuan akhir proyek ini adalah menyelaraskan teknologi digital, akses pembiayaan dan sistem pasar agar saling memperkuat demi pembangunan ekonomi lokal Aceh.

“Kami sangat menghargai kolaborasi kuat dengan ARC dalam membangun rantai nilai yang inklusif,” ungkap Djauhari. “Sistem MyNilam adalah contoh kuat bagaimana inovasi digital dapat melayani masyarakat. Melalui kemitraan ini, para petani kecil terhubung dengan pembiayaan, pasar dan teknologi, yang memastikan bahwa transformasi tidak hanya bermanfaat bagi semua tapi juga berkelanjutan sebagai bagian dari promosi pekerjaan layak, termasuk di sektor pertanian.”

Three persons standing
© Humas Pustaka USK
© Humas Pustaka USK
Untuk pencapaiannya ini, Syaifullah meraih Indonesia Innovator Award dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Agustus 2025.

Komitmen tanpa lelah dari Syaifullah untuk memperkuat seluruh rantai nilai nilam telah menghasilkan lebih dari 32 produk lokal berbahan dasar nilam, serta inovasi yang memungkinkan produksi minyak nilam berkualitas tinggi dengan kadar alkohol mencapai 99,8 persen di tingkat lokal. Untuk pencapaiannya ini, ia meraih Indonesia Innovator Award dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Agustus 2025, sebagai pengakuan atas keberhasilannya mengubah penelitian menjadi inovasi komersial yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Untuk langkah ke depan, Syaifullah membayangkan masa di mana Aceh tidak hanya mengekspor minyak mentah, tetapi juga memproduksi barang jadi yang mencerminkan keahlian Indonesia, seperti produk parfum, perawatan kulit dan minyak atsiri yang mampu bersaing di pasar global. “Jika 20 persen saja nilam Aceh dapat diolah secara lokal, dampaknya akan sangat besar,” tuturnya. “Kami membayangkan sebuah Galeri Nilam yang menghormati sejarah kami, memamerkan teknologi dan memberdayakan produsen kecil.”

Melalui kemitraan ini, para petani kecil terhubung dengan pembiayaan, pasar dan teknologi, yang memastikan bahwa transformasi tidak hanya bermanfaat bagi semua tapi juga berkelanjutan sebagai bagian dari promosi pekerjaan layak, termasuk di sektor pertanian.

Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact