Berharap adanya perbaikan setelah 27 tahun bekerja di laut
Setelah 27 tahun bekerja di laut, kehidupan kerja Sukarno tetap sama—terus-menerus bekerja keras dengan waktu istirahat yang terbatas. Ia berharap bisa bekerja di darat, dekat dengan keluarganya.
18 Oktober 2022
Sukarno, nelayan. (c) ILO/F. Latief
“Saya tinggal di tepi laut sejak kecil karena ayah saya adalah seorang nelayan. Saya hanya ingin menjadi nelayan seperti dia,” katanya, menceritakan perjalanan hidupnya selama pelaksanaan pengawasan ketenakerjaan percontohan yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pelabuhan Benoa, Bali. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelatihan program Lab Akselerator 8.7 ILO mengenai kerja paksa di sektor perikanan yang betujuan memastikan pendekatan penegakan yang terkoordinasi di salah satu sektor dengan tingkat kerja paksa dan defisit pekerjaan layak terbesar.Pengalaman pertama saya bekerja di laut sangat menyedihkan. Siang hari terasa seperti malam hari, dan malam hari terasa seperti siang hari."
Sukarno, nelayan
Hanya berbekal pendidikan putus sekolah dasar, dia tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan. Dia pertama kali bekerja di perusahaan pengolahan ikan selama setahun di Pengambengan, Bali sebelum bekerja di laut.
“Pengalaman pertama saya bekerja di laut sangat menyedihkan. Siang hari terasa seperti malam hari, dan malam hari terasa seperti siang hari. Dalam 24 jam, kami hanya bisa tidur selama tiga jam. TIdak ada istilah lembur dan gaji kecil,” kisahnya.
Kehidupan kerja yang keras dan terus-menerus
Dua puluh tujuh tahun kemudian, dia mengakui bahwa kondisi kerja tetap sama. Sebagai ABK dek di kapal tuna long-line, tugasnya sama—menyebarkan umpan dan menarik pancing—dengan tugas tambahan membantu di ruang mesin.Dengan kontrak kerja tujuh bulan, hari kerjanya dimulai dari pukul 5 sore selama enam sampai tujuh jam hingga tengah malam atau pukul 1 pagi untuk menangkap ikan, dilanjutkan dengan menyebarkan umpan selama delapan sampai sembilan jam hingga antara pukul 8 sampai 9 pagi.Tugas terberat adalah menangkap ikan karena bobotnya bisa mencapai 80 kg. Rata-rata beratnya antara 60 hingga 70 kg."
“Tugas terberat adalah menangkap ikan karena bobotnya bisa mencapai 80 kg. Rata-rata beratnya antara 60 hingga 70 kg,” katanya.
Setelah itu, Sukarno beristirahat dan tidur selama tiga sampai empat jam hingga siang hari di sebuah bilik sederhana yang ia tempati bersama 12 rekan kerjanya yang terbagi menjadi dua tingkat dengan masing-masing tingkat menampung enam pekerja. Harinya pun berlanjut dengan pekerjaan lain menyiapkan joran hingga pukul 5 sore untuk memulai kembali rutinitas pekerjaannya.
“pekerjaan seperti ini terus-menerus,” ujar Sukarno.
Namun, dia tetap merasa bersyukur dengan hidupnya di kapal mengingat persediaan makanan yang cukup dan persahabatan dan suasana kerja yang kuat dengan rekan-rekan kerjanya. “Kami rukun dalam bekerja meskipun ABK berasal dari berbagai daerah seperti Kupang, Flores dan Lombok. Kami juga saling membantu ketika ada rekan kerja yang sakit,” ujarnya.
Dengan menggunakan obat-obatan yang tersedia di kapal, mereka bekerja sama untuk merawat pekerja yang sakit. Ketika kondisi memburuk, nakhoda kapal akan mengirim pekerja yang sakit ke pelabuhan terdekat menggunakan kapal lain untuk perawatan lebih lanjut.
Tidak ada kontak selama tujuh bulan
Sukarno baru saja kembali dari cuti daratan dan bersiap-siap untuk pergi lagi selama tujuh bulan bekerja di laut. (c) ILO/F. Latief Dalam perjalanannya hingga ke Australia dan Indonesia bagian timur, dia hanya bisa menghitung hari ketika dia akhirnya bisa bertemu dan bercengkrama dengan keluarganya. Berlayar jauh dari daratan dan tanpa sinyal, Sukarno hanya bisa menahan perasaannya sendiri.“Setiap kali saya mengambil pekerjaan ini, saya harus kehilangan kontak dengan keluarga. Tidak ada gunanya memiliki telepon karena tidak ada sinyal di laut. Saat merindukan keluarga, saya bertanya-tanya 'Ya Tuhan kapan saya akan berhenti bekerja di laut?' Sulit untuk terus hidup jauh dari keluarga saya,” ia mengenang saat berharap dapat berada di darat.Setiap kali saya mengambil pekerjaan ini, saya harus kehilangan kontak dengan keluarga... Saat merindukan keluarga, saya bertanya-tanya 'Ya Tuhan kapan saya akan berhenti bekerja di laut?' Sulit untuk terus hidup jauh dari keluarga saya."
Namun, lagi-lagi, dia bersyukur tidak harus sampai menghabiskan waktu dua tahun tanpa kontak seperti saat dia bekerja di kapal asing. Dia memiliki pengalaman bekerja di kapal asing di mana dia hanya bisa kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan kontrak selama dua tahun.
“Saya lebih memilih pekerjaan saya sekarang dengan kontrak tujuh bulan dari Bali, dekat kampung halaman saya Banyuwangi. Jika sesuatu terjadi, keluarga saya dekat. Juga, setelah kontrak saya berakhir dalam tujuh bulan, saya dapat memutuskan untuk tidak ikut bekerja dulu jika saya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan keluarga saya,” tambahnya.
Kapalnya kembali ke pelabuhan Benoa setiap tujuh bulan pada akhir kontrak kerjanya. Artinya, dia bisa mendapatkan istirahat kerja selama seminggu sebelum melanjutkan dengan kontrak baru. Itu juga berarti dia dapat bertemu dengan istri dan putri satu-satunya setelah tujuh bulan tanpa komunikasi apa pun. Kini ia berupaya menabung untuk membuka usaha sendiri dan bekerja tak jauh dari keluarga.
Berharap pulang dengan selamat
“Ini adalah beban terberat bagi saya untuk meninggalkan keluarga saya. Kami bisa saja mati tenggelam di laut dan keluarga kami tidak tahu di mana kami berada. Sebagian besar mayat tidak ditemukan di laut lepas. Jadi, saya ingin berhenti bekerja dan memulai usaha. Saya sudah setengah abad,” ungkapnya.Muhammad Nour, Koordinator Proyek dari program Lab Akselerator 8.7 ILO di Indonesia, menjelaskan bahwa ILO mendorong koordinasi dan kolaborasi di antara kementerian terkait di industri perikanan untuk meningkatkan mekanisme pengawasan dan kondisi kehidupan di kapal perikanan. Juga berasal dari keluarga nelayan di Tarakan, Kalimantan Utara, dia tahu betul kehidupan dan nasib para nelayan Indonesia.Pekerjaan perikanan sangat sulit tetapi masih sangat sedikit perhatian yang diberikan pada promosi hak-hak pekerja dan perbaikan kondisi kerja... Program Lab Akselerator 8.7, bersama dengan proyek-proyek ILO lainnya, akan terus memberikan dukungan teknis untuk terwujudnya pengawasan bersama yang efektif di pelabuhan-pelabuhan perikanan Indonesia hingga ini menjadi praktik standar dan tertuang di dalam kerangka hukum."
Muhammad Nour, Koordinator Proyek dari program Lab Akselerator 8.7 ILO di Indonesia
“Pekerjaan perikanan sangat sulit tetapi masih sangat sedikit perhatian yang diberikan pada promosi hak-hak pekerja dan perbaikan kondisi kerja. Bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang lebih terfokus pada perlindungan ikan dan Kementerian Ketenagakerjaan yang terfokus pada pengawasan ketenagakerjaan di darat, ada kesenjangan dalam pengawasan yang kita upayakan untuk diatasi. Program Lab Akselerator 8.7, bersama dengan proyek-proyek ILO lainnya, akan terus memberikan dukungan teknis untuk terwujudnya pengawasan bersama yang efektif di pelabuhan-pelabuhan perikanan Indonesia hingga ini menjadi praktik standar dan tertuang di dalam kerangka hukum,” pungkasnya.
Related content
Pencegahan kerja paksa di laut dengan pengawasan bersama di pelabuhan-pelabuhan perikanan Indonesia