ILO-IOM berikan perlindungan yang lebih baik kepada pekerja migran di sektor kelapa sawit

Untuk lebih melindungi hak-hak calon pekerja migran Indonesia, ILO dan IOM bersama-sama mengembangkan modul pelatihan pra-keberangkatan dan materi informasi yang relevan untuk sektor kelapa sawit di Koridor Indonesia-Malaysia.

News | Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia | 24 October 2023
Calon pekerja migran yang mencari pekerjaan di sektor kelapa sawit dari Nusa Tenggara Timur aktif mengikuti lokakarya pelatihan di Kupang. (c) ILO
Dua puluh lima calon pekerja migran yang mencari pekerjaan di sektor kelapa sawit dari Nusa Tenggara Timur mengikuti lokakarya pelatihan pada 17-18 Oktober di Kupang. Lokakarya ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi primer tentang konteks, tantangan dan tren yang dihadapi oleh pekerja yang mencari pekerjaan di sektor perkebunan kelapa sawit di Malaysia selama fase pra-keberangkatan.

Lokakarya ini merupakan bagian dari inisiatif bersama ILO dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) guna meningkatkan perlindungan hak-hak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Selama lokakarya, para peserta yang terdiri dari 24 laki-laki dan 1 perempuan terlibat aktif dalam memberikan masukan, kajian dan umpan balik untuk memperkaya isi modul pelatihan pra-pemberangkatan serta materi edukasi dan informasi terkait persiapan pra-pemberangkatan.

Oleh karena itu, kami sangat mendukung kolaborasi antar lembaga internasional seperti ILO dan IOM untuk meningkatkan kapasitas instruktur dan lembaga terkait migrasi kerja. Kami juga berharap modul dan materi ini dapat disebarluaskan ke daerah pengirim utama di Indonesia."

Sylvia Pekujawang, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Koperasi Provinsi Nusa Tenggara Timur
Modul dan materi ini akan digunakan oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), pengawas ketenagakerjaan, serikat pekerja dan organisasi terkait lainnya untuk membekali kapasitas dan meningkatkan pengetahuan calon pekerja migran, khususnya mereka yang mencari pekerjaan di sektor kelapa sawit di Malaysia mengenai hak-hak kerja dan kesiapan mereka bekerja di luar negeri.

Sylvia Pekujawang, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Koperasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, berharap modul dan materi informasi ini dapat memperkuat perlindungan terhadap calon pekerja migran Indonesia. “Oleh karena itu, kami sangat mendukung kolaborasi antar lembaga internasional seperti ILO dan IOM untuk meningkatkan kapasitas instruktur dan lembaga terkait migrasi kerja. Kami juga berharap modul dan materi ini dapat disebarluaskan ke daerah pengirim utama di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Yunirwan Gah, Koordinator Proyek Nasional untuk Memajukan Hak Pekerja di Sektor Kelapa Sawit Indonesia, mengatakan bahwa “baik modul maupun materi informasi dapat disebarluaskan untuk mengedukasi calon pekerja migran Indonesia dan menyosialisasikan pentingnya migrasi yang aman sekaligus mendukung pencarian pekerjaan yang layak di sektor perkebunan kelapa sawit di Malaysia.”

Begitu pula Syafira Ayunindya, Kepala Unit Penanggulangan Perdagangan Manusia dan Migrasi Kerja IOM, menyoroti pentingnya peningkatan akses terhadap informasi yang relevan dan sesuai mengenai peraturan ketenagakerjaan, kondisi hidup dan kerja serta budaya dan hak-hak pekerja di negara tujuan. “Informasi dasar ini penting untuk memudahkan transisi ke negara tujuan dan memberdayakan mereka dengan informasi yang diperlukan.”

Dukungan ILO diberikan melalui Proyek Memajukan Hak-Hak Pekerja di Sektor Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, proyek ini bertujuan untuk memastikan bahwa serikat pekerja Indonesia yang terlibat dalam rantai pasok minyak sawit secara efektif melakukan advokasi terhadap hak-hak dasar pekerja, sementara di Malaysia bertujuan untuk berkontribusi pada penghapusan pekerja anak dan kerja paksa di perkebunan kelapa sawit.