Diluncurkan, serangkaian intervensi inovatif HIV di tempat kerja di Indonesia

ILO dan mitra sosialnya bekerja sama untuk mengembangkan dan menerapkan serangkaian intervensi inovatif HIV untuk mendukung Indonesia mencapai tujuan tiga tujuan 95 dan memperkuat program HIV/AIDS nasional.

News | Jakarta, Indonesia | 01 August 2023

Dengan perkiraan 543.100 orang yang hidup dengan HIV (ODHIV), pemerintah Indonesia melalui kebijakan nasional HIV/AIDS berkomitmen untuk mencapai tujuan tiga 95—95 persen ODHIV mengetahui status HIV mereka, 95 persen ODHIV memiliki akses ke ARV dan 95 persen ODHIV yang memakai ARV mencapai penekanan viral load. Hingga saat ini, capaian terhadap persentase yang ditargetkan masing-masing mencapai 66-26-6 persen.

Program inovatif digital ini merupakan cerminan dari upaya kolaboratif antara perusahaan, pekerja, akademisi dan organisasi terkait lainnya menuju dunia kerja yang inklusif di Indonesia."

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, ILO bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan meluncurkan serangkaian intervensi inovatif untuk meningkatkan pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja di Jakarta, yang dihadiri 400 peserta secara daring dan luring. Serangkaian intervensi tersebut adalah sebagai berikut:
  • Pengembangan modul pelatihan daring tentang pencegahan HIV di tempat kerja;
  • Integrasi modul pelatihan HIV dalam pelantar K3 yang dikelola Kementerian Ketenagakerjaan;
  • Pembuatan sarana pendaftaran daring untuk Company AIDS Award;
  • Dokumentasi praktik baik program pencegahan HIV di tujuh perusahaan dan skrining mandiri HIV di dua perusahaan BUMN; dan
  • Survei tentang kerentanan HIV di kalangan pekerja muda dan akses mereka ke perlindungan sosial.
Peluncuran ini diresmikan oleh Haiyani Rumondang, Direktur Jenderal Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kementerian Ketenagakerjaan yang diwakili oleh Heri Sutanto, Direktur Pembinaan K3 dan Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste. Peluncuran ini dilakukan secara simbolis dengan meletakkan tangan mereka di layar digital untuk memulai pemutaran multimedia yang menampilkan intervensi inovatif ini.

Peluncuran ini juga menandai penyerahan resmi serangkaian intervensi pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja dari Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia kepada Heri Sutanto, Direktur Pembinaan K3,Kementerian Ketenagakerjaan. (c) ILO
Peluncuran ini juga menandai penyerahan resmi serangkaian intervensi pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja dari ILO kepada Kementerian Ketenagakerjaan. “Merupakan komitmen ILO untuk terus mendukung Indonesia sebagai negara anggotanya untuk secara inovatif memperkuat kebijakan dan program nasional HIV/AIDS. Program inovatif digital ini merupakan cerminan dari upaya kolaboratif antara perusahaan, pekerja, akademisi dan organisasi terkait lainnya menuju dunia kerja yang inklusif di Indonesia,” ujar Michiko.

Kementerian Ketenagakerjaan sangat mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh ILO dan mitra lainnya untuk memperkuat program HIV/AIDS nasional."

Heri Sutanto, Direktur Pembinaan K3,Kementerian Ketenagakerjaan
Komitmen serupa juga disampaikan Direktur Heri selaku perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan. Dia menekankan pentingnya inovasi dan transformasi digital dalam pembuatan kebijakan dan intervensi HIV.

“Di era industrialisasi ini, kita perlu mengintegrasikan digitalisasi di semua bidang, termasuk dalam intervensi HIV dan pembuatan kebijakan untuk memastikan pencapaian tujuan 95 dan perlindungan pekerja yang lebih baik. Kementerian Ketenagakerjaan sangat mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh ILO dan mitra lainnya untuk memperkuat program HIV/AIDS nasional,” ujarnya.

Dukungan yang solid dari manajemen tingkat tinggi perusahaan adalah suatu keharusan dan keterlibatan serikat pekerja harus diperkuat menjadi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan ini."

Early Dewi Nuriana, Staf ILO untuk Program HIV/AIDS
Selain peluncuran, juga dilakukan diskusi interaktif tentang program tes HIV mandiri di tingkat perusahaan. Diskusi tersebut mengkaji pengalaman dua BUMN: PT Pertamina Persero dan PT Waskita Karya. Dilaksanakan pada 2021, program ini menjangkau total 4.966 pekerja yang terdiri dari 4.241 pekerja laki-laki dan 752 pekerja perempuan. Alat tes HIV mandiri berhasil didistribusikan di 14 lokasi kerja dalam waktu kurang dari 3 bulan.

“Dukungan yang solid dari manajemen tingkat tinggi perusahaan adalah suatu keharusan dan keterlibatan serikat pekerja harus diperkuat menjadi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan ini. Beberapa rekomendasi termasuk perluasan program tes HIV mandiri ke sektor informal dan dukungan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Ketenagakerjaan dan kementerian terkait lainnya untuk pelaksanaan tes HIV mandiri di tingkat perusahaan,” kata Early Dewi Nuriana, Staf ILO untuk Program HIV/AIDS.

Acara ini diakhiri dengan pemberian penghargaan kepada semua mitra yang terlibat dalam pengembangan, penerapan dan penyebarluasan program intervensi inovatif HIV ini. Apresiasi diberikan kepada PT Pertamina Persero, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONJW), PT Waskita Karya, PT Andhika Lines, Star Energy Geothermal ( Wayang Windu) Ltd, PT Mitra Energy Batam, PT Angkasa Pura 2, Hazama Ando-Wika Joint Operation, Ikatan Dokter Indonesia untuk Kesehatan Kerja (IDKI), Universitas Yarsi dan Yayasan Kusuma Buana.

Siaran langsung acara peluncuran ini dapat ditonton melalui ILO TV Indonesia.