Jurnalis TV Indonesia mengadvokasi pentingnya K3 bagi publik dan diri mereka sendiri

ILO bekerja sama dengan Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI) mempromosikan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan menjadi bagian dari kampanye menuju sistem manajemen K3 yang lebih tangguh di Indonesia.

News | Jakarta, Indonesia | 13 October 2022
ILO bekerja sama dengan Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI) menyelenggarakan program keterlibatan media selama tiga bulan yang ditujukan bagi jurnalis televisi tentang isu-isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Program ini merupakan bagian dari kampanye ILO untuk Peningkatan Pencegahan COVID-19 di dan melalui Tempat Kerja untuk membangun kapasitas jurnalis televisi dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya K3 serta terciptanya budaya K3 di negara ini.

(c) Antara/Wahyu Putro A.
Diselenggarakan dari bulan Juni hingga Agustus 2022, kegiatan ini dimulai dengan lokakarya K3 selama dua hari untuk 20 jurnalis televisi dari berbagai stasiun TV terkemuka dan berbagai dan provinsi. Acara ini difasilitasi oleh dr. Nuri Purwito Adi, Ketua Program Studi Spesialis Kedokteran Kerja Universitas Indonesia.

Lokakarya ini telah membantu meningkatkan kompetensi saya. Informasi yang diperoleh sangat bermanfaat bagi para jurnalis sehingga kita bisa lebih peka terhadap produk berita yang kita hasilkan dan sekaligus kita juga sadar untuk menjaga keselamatan dan kesehatan diri kita sendiri saat bekerja di lapangan maupun di kantor untuk memenuhi tenggat waktu pekerjaan."

Kusnadar dari Antara TV
Selama lokakarya, jurnalis yang berpartisipasi belajar tentang prinsip-prinsip dasar K3, pentingnya penerapan K3 di semua sektor pekerjaan, termasuk jurnalisme, manfaat sistem manajemen K3 yang kuat, tantangan K3 yang ditemukan di berbagai sektor industri serta yang dihadapi oleh jurnalis TV. “Tanggung jawab keselamatan adalah urusan semua orang dan harus melibatkan komitmen yang kuat dari atas ke bawah. Standar K3 yang tepat hanya dapat dicapai apabila semua pihak memainkan bagiannya,” tegas dr Nuri.

Lokakarya dua hari ini kemudian dilanjutkan dengan program beasiswa media di mana 20 jurnalis peserta dibimbing selama dua bulan oleh tiga jurnalis TV senior dari IJTI untuk memproduksi dan menyiarkan liputan TV mendalam mereka tentang K3. Program beasiswa ini bertujuan untuk melibatkan dan mendukung jurnalis TV dalam mempromosikan dan menyampaikan pelaporan K3 yang berkualitas di berbagai sektor ketenagakerjaan serta untuk membangun kapasitas mereka dalam melindungi diri mereka sendiri dengan lebih baik.

“Lokakarya ini telah membantu meningkatkan kompetensi saya. Informasi yang diperoleh sangat bermanfaat bagi para jurnalis sehingga kita bisa lebih peka terhadap produk berita yang kita hasilkan dan sekaligus kita juga sadar untuk menjaga keselamatan dan kesehatan diri kita sendiri saat bekerja di lapangan maupun di kantor untuk memenuhi tenggat waktu pekerjaan,” kata Kusnadar dari Antara TV



Beragam isu dihasilkan mulai dari isu K3 di sektor perikanan dan pertambangan, dampak COVID-19 terhadap jurnalis hingga kecelakaan kerja di sektor pertambangan, ketenagakerjaan informal dan infrastruktur. Fredy Cahya, jurnalis TV dari Surya Citra Televisi (SCTV), membuat berita tentang risiko K3 yang dihadapi jurnalis ketika harus meliput kondisi terkini pandemi COVID-19. Tugas-tugas yang menantang telah menyebabkan beberapa jurnalis kehilangan nyawa.

Pemberitaan tersebut menyoroti data dari Press Emblem Campaign bahwa dari Maret 2020 hingga Desember 2021. sebanyak total 1.940 jurnalis di seluruh dunia telah kehilangan nyawa dengan 556 di antaranya berasal dari Asia. Sementara itu, data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menunjukkan bahwa antara Maret 2020 hingga Juli 2021, 388 jurnalis terdampak COVID-19 dan 9 orang meninggal dunia.

Laporan berita tersebut juga menyoroti nasib para jurnalis yang meninggal dan upaya yang dilakukan oleh perusahaan media massa untuk memperbaiki dan memperkuat sistem manajemen K3 mereka. Memahami tingginya risiko yang harus dihadapi jurnalis di lapangan telah mendorong perusahaan media massa untuk mengambil langkah-langkah dalam memberikan pengetahuan dan perlindungan K3 yang lebih baik.



Lokakarya media dan program beasiswa ini telah membantu saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang prinsip-prinsip K3 dan memberikan wawasan baru ketika meliput isu-isu terkait K3."

Nova Misdayanti, jurnalis TV dari Kompas TV Aceh
Sementara itu, Nova Misdayanti, jurnalis TV dari Kompas TV Aceh, memberitakan tentang pekerja yang tidak memiliki sertifikasi K3. Reportasenya meliput fakta menarik bahwa 50 persen pekerja konstruksi jalan tol di Aceh tidak memiliki sertifikasi K3. Tanpa sertifikasi, para pekerja ini akan menghadapi risiko kecelakaan dan bahaya lainnya yang lebih tinggi.

“K3 merupakan isu penting bagi pekerja lokal di Aceh, terutama yang bekerja di sektor konstruksi karena mereka tidak terbiasa dengan isu tersebut. Lokakarya media dan program beasiswa ini telah membantu saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang prinsip-prinsip K3 dan memberikan wawasan baru ketika meliput isu-isu terkait K3,” ujarnya.



Berbicara tentang kecelakaan kerja, Febriyanto, jurnalis TV dari Inews Kendari, melaporkan tentang imbauan yang mendesak perbaikan sistem manajemen K3 demi mencegah kecelakaan kerja di perusahaan pertambangan yang berada di Sulawesi Tenggara. Laporan tersebut menampilkan dua kasus kecelakaan kerja dan menyoroti pengawasan Dinas Tenaga Kerja setempat untuk memastikan bahwa perusahaan mendukung proses pengobatan, menanggung semua biaya medis dan mempekerjakan kembali para pekerja setelah mereka sembuh.

Ini adalah kerja sama pertama antara ILO dan IJTI. K3 telah menjadi salah satu hak dasar di tempat kerja; sehingga dengan semakin seringnya berita K3 ditayangkan di berbagai stasiun TV, termasuk TV digital, K3 dapat menjadi bagian dari aktivitas dan kehidupan kita sehari-hari."

Gita Lingga, Staf Komunikasi ILO
Abdul Hakim, Koordinator Proyek Pencegahan COVID-19 ILO, mengatakan bahwa program pelibatan media ini merupakan pelengkap dari kerja sama sebelumnya antara ILO dan IJTI. “Kita perlu melibatkan media massa dalam mengadvokasi isu K3, tetapi kita juga perlu membangun kapasitas insan media massa tentang K3. Oleh karena itu, kami bersama-sama meluncurkan Buku Panduan K3 bagi Jurnalis dan Pekerja TV pada bulan Juli agar mereka memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri dengan lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, Gita Lingga, Staf Komunikasi ILO, berharap akan ada peningkatan jumlah dan variasi topik liputan K3 dan produk berita di seluruh stasiun TV di tanah air. “Ini adalah kerja sama pertama antara ILO dan IJTI. K3 telah menjadi salah satu hak dasar di tempat kerja; sehingga dengan semakin seringnya berita K3 ditayangkan di berbagai stasiun TV, termasuk TV digital, K3 dapat menjadi bagian dari aktivitas dan kehidupan kita sehari-hari,” tambahnya.

Didanai oleh Pemerintah Jepang, Proyek ILO untuk Peningkatan Pencegahan COVID-19 di dan melalui Tempat Kerja bertujuan untuk meningkatkan tindakan pencegahan COVID-19 di dan melalui tempat kerja di tengah pandemi yang akan memfasilitasi pembukaan kembali, kelanjutan, dan perluasan bisnis.

Untuk menonton laporan K3 dari program beasiswa media tentang K3, klik: Kompilasi peliputan K3