Budaya pencegahan menjadi kunci untuk mengatasi krisis seperti pandemi COVID-19 di masa depan

ILO menyelenggarakan serangkaian bincang-bincang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) guna membangun ketangguhan K3 perusahaan, organisasi maupun individu, khususnya kaum muda, agar lebih berguna dan adaptif dalam menghadapi krisis masa depan seperti pandemi COVID-19 di Indonesia.

News | Jakarta, Indonesia | 06 October 2022
Serangkaian bincang-bincang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) diadakan oleh Proyek Pencegahan COVID-19 di dan melalui Tempat Kerja ILO, sebuah proyek 1,5 tahun yang didanai oleh Pemerintah Jepang, pada 20-22 September di Jakarta. Serangkaian kegiatan ini bertujuan untuk mendemonstrasikan praktik terbaik, pembelajaran dan langkah-langkah ke depan untuk terus membangun ketangguhan K3 perusahaan, organisasi maupun individu, terutama kaum muda, agar lebih berguna dan adaptif dalam menghadapi krisis di masa depan seperti pandemi COVID-19.

Bincang-bincang pertama bertajuk “Membangun Budaya K3”
Kegiatan ini juga menandai penutupan proyek yang telah memberikan bantuan teknis K3 dan peningkatan kapasitas kepada lebih dari 1.500 tempat kerja dan 22.000 pekerja di Indonesia. Lebih dari 200 orang yang mewakili kementerian terkait, organisasi pengusaha dan pekerja, pakar K3 dan akademisi, kaum muda serta media berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini.

Kami selalu menjaga dan meningkatkan sistem manajemen K3 kami untuk menjaga kecelakaan nol dalam semua praktik kerja. Kami percaya bahwa keselamatan yang baik akan menghasilkan bisnis yang baik pula."

Ngadi Purnomo, Kepala Divisi HSE PT WIKA Realty
Bincang-bincang pertama bertajuk “Membangun Budaya K3” menghadirkan pembicara utama Yuli Adiratna, Direktur Pengawasan dan Norma Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, dan Ngadi Purnomo, Kepala Divisi HSE PT WIKA Realty. Selama diskusi interaktif, mereka berdiskusi dan berbagi bagaimana menciptakan pemimpin dalam tim di tingkat perusahaan atau organisasi dan memeriksa masa depan profesi K3 dan para pemimpinnya. Sesi ini juga membahas bagaimana menciptakan budaya keselamatan yang sukses dan tantangan yang hadir di organisasi besar.

“Kami selalu menjaga dan meningkatkan sistem manajemen K3 kami untuk menjaga kecelakaan nol dalam semua praktik kerja. Kami percaya bahwa keselamatan yang baik akan menghasilkan bisnis yang baik pula,” kata Ngadi. Beberapa praktik baik yang dibagikan termasuk apel keselamatan pagi rutin dan kotak peralatan untuk meningkatkan kesadaran pekerja dan memasukkan K3 sebagai budaya kerja perusahaan.

“Agar penerapan K3 dapat berjalan dengan baik di seluruh program kegiatan perusahaan, maka perlu diukur implementasinya dengan menggunakan kartu nilai yang memuat tingkat implementasi sistem,” imbuhnya.

Bincang-bincang kedua bertajuk “Memanfaatkan Kekuatan Ketangguhan Sosial”
Bincang-bincang kedua bertajuk “Memanfaatkan Kekuatan Ketangguhan Sosial” membahas tentang pendekatan untuk memanfaatkan kekuatan ketangguhan sosial untuk bisnis. Agar lebih bertanggung jawab, tangguh dan berkelanjutan, perusahaan harus fokus pada pendekatan yang berpusat pada manusia dengan meningkatkan investasi pada kemampuan orang, institusi kerja dan pekerjaan yang layak serta berkelanjutan.

Lima pembicara utama berbagi pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat bagi bisnis dan pekerja: dr. Rima Melati, Komite K3 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sulistri, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja Bidang Makanan, Minuman, Pariwisata, Restoran dan Hotel (FSB KAMIPARHO), Poppy Ismalina, Associate Professor Ilmu Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada dan Abdul Hakim, Manajer Proyek ILO untuk Pencegahan COVID-19 di Tempat Kerja.

Bincang-bincang ketiga bertajuk “Jurnalis dan Kesehatan Mental”

Kami telah menyediakan pelantar bagi jurnalis untuk berkonsultasi dengan psikolog karena kami melihat masalah kesehatan mental di antara mereka cukup tinggi. Namun banyak yang masih enggan untuk berkonsultasi dan berbicara karena cenderung menyimpan perasaan untuk diri sendiri. Kami juga melihat disparitas gender karena jurnalis laki-laki cenderung tidak berpartisipasi."

Sasmito, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
Bincang-bincang ketiga bertajuk “Jurnalis dan Kesehatan Mental” mengajak semua kalangan, khususnya kaum muda dan pekerja, untuk tidak hanya terfokus pada keselamatan dan kesehatan fisik, namun juga memperhatikan kesehatan mental mereka. Jackie Viemilawati, psikolog dari Yayasan Pulih, Herik Kurniawan, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Sasmito, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mendorong langkah pencegahan dan promotif dalam sistem manajemen kesehatan pekerja yang juga adaptif dengan perubahan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh efek COVID-19.

Dinyatakan sebagai pandemi pada Maret 2020, COVID-19 telah berdampak negatif pada lebih dari 29 juta pekerja Indonesia. Selain berbagai masalah ekonomi yang menyebabkan penutupan usaha, pengurangan tenaga kerja, pandemi telah mengganggu kesehatan mental pekerja, termasuk jurnalis yang harus mengesampingkan keselamatan pribadinya untuk melaporkan pandemi. Kementerian Kesehatan mencatat pada 2020, 18.000 orang mengalami gangguan kejiwaan, 23.000 menderita depresi dan 1.163 percobaan bunuh diri.

“Kami telah menyediakan pelantar bagi jurnalis untuk berkonsultasi dengan psikolog karena kami melihat masalah kesehatan mental di antara mereka cukup tinggi. Namun banyak yang masih enggan untuk berkonsultasi dan berbicara karena cenderung menyimpan perasaan untuk diri sendiri. Kami juga melihat disparitas gender karena jurnalis laki-laki cenderung tidak berpartisipasi,” kata Ketua AJI Indonesia, Sasmito.