#RatifyC190

Kampanye publik ILO dorong pekerja suarakan pelecehan dan kekerasan di tempat kerja

ILO dan Never Okay Project sedang melakukan serangkaian kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong gerakan sosial melawan pelecehan dan kekerasan di dunia kerja.

News | Jakarta, Indonesia | 30 August 2022
ILO bekerja sama dengan Never Okay Project (NOP), sebuah organisasi yang menangani penciptaan tempat kerja tanpa pelecehan seksual, melakukan kampanye publik untuk mempromosikan ratifikasi Konvensi ILO No. 190 (K190) tentang Pelecehan dan Kekerasan di Dunia Kerja. Kampanye yang dilakukan dari akhir Juli hingga Oktober 2022 ini dalam bentuk kampanye media sosial, survei pekerja dan petisi publik.

Kampanye media sosial A sampai Z untuk mempromosikan kampanye Konvensi ILO No. 190.
Kampanye ini merupakan bagian dari kampanye global dan nasional ILO yang mengundang partisipasi semua Negara anggotanya dan masyarakat luas untuk mempromosikan ratifikasi K190. K190 adalah perjanjian internasional pertama yang mengakui hak setiap orang atas dunia kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan, termasuk kekerasan dan pelecehan berbasis gender.

Kampanye media sosial tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang K190 dan isu-isu terkait pelecehan dan kekerasan yang masih banyak terjadi di dunia kerja, tetapi juga mendorong gerakan sosial untuk menghentikan sikap diam terhadap masalah ini."

Dyah R. Sudarto, koordinator program ILO untuk K190 tentang isu kekerasan dan pelecehan di dunia kerja
Kampanye media sosial A sampai Z mengangkat informasi penting tentang K190 dan berbagai pelecehan dan kekerasan di dunia kerja, termasuk kisah pelecehan dan kekerasan yang dihadapi oleh para pekerja yang telah didokumentasikan oleh NOP. Kampanye C, misalnya, mewakili kampanye tentang perundungan siber (cyberbullying). Ini menyoroti survei NOP 2020 bahwa 29 persen responden perempuan dan 11 persen responden laki-laki menerima komentar negatif, kritik dan hinaan tentang bentuk tubuh mereka selama bekerja kerja jarak jauh (teleworking).

Sementara E berbicara tentang eksploitasi, yang menyoroti kisah pekerja tanpa penyebutan identitas yang dipaksa berpakaian seksi untuk menghibur klien kantornya. Kampanye tersebut juga menggarisbawahi jenis eksploitasi, hubungannya dengan K190 dan upaya yang dapat dilakukan untuk melawannya.

“Kampanye media sosial tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang K190 dan isu-isu terkait pelecehan dan kekerasan yang masih banyak terjadi di dunia kerja, tetapi juga mendorong gerakan sosial untuk menghentikan sikap diam terhadap masalah ini. Oleh karena itu, kami meminta partisipasi masyarakat agar mau berbagi cerita dan sejumlah tindakan yang dapat dilakukan di tempat kerja mereka sendiri,” jelas Dyah R. Sudarto, koordinator program ILO untuk K190 tentang isu kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.

Untuk memperkuat gerakan sosial ini, kampanye yang dilakukan juga mencakup survei pekerja dan petisi publik secara daring. Survei menyediakan wadah bagi pekerja untuk berbagi pengalaman mereka sendiri, tindakan yang mereka pilih, dampak yang mereka hadapi dan harapan mereka tentang penciptaan tempat kerja yang bebas dari pelecehan dan kekerasan.

Survei ini juga mendokumentasikan kasus kekerasan dan pelecehan di tempat kerja dan bertujuan untuk memberikan lebih banyak informasi dan data tentang kejadian di tempat kerja yang dapat bermanfaat bagi pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan terkait untuk pengembangan kebijakan dan advokasi publik.

Saat ini petisi publik dirancang untuk mempengaruhi publik dan pengambil keputusan tentang pentingnya ratifikasi K190 di Indonesia. Bekerja sama dengan NOP dan Change.org, situs web petisi di seluruh dunia dengan lebih dari 400 juta pengguna, petisi publik ini bertujuan untuk mendapatkan 25 ribu tanda tangan.

“Kami berharap, melalui kampanye ini dan kegiatan lain yang telah dilakukan ILO dengan mitra tripartitnya—pemerintah, organisasi pengusaha dan pekerja—serta organisasi dan media massa lainnya, dapat mendorong ratifikasi K190, pembentukan mekanisme tempat kerja. tentang masalah ini dan perlindungan pekerja,” tambah Dyah.

Untuk ikut serta dalam kampanye ini, klik di sini: Kampanye K190