#RatifyC190

Pekerja muda mendesak penghapusan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja

Sebagai bagian dari promosi ratifikasi Konvensi ILO No. 190, ILO mengambil bagian dalam diskusi dengan pekerja muda yang mendambakan tempat kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan.

News | Jakarta, Indonesia | 18 October 2021


ILO berpartisipasi dalam webinar daring untuk mempromosikan ratifikasi Konvensi ILO No. 190 (atau yang disingkat dengan K190) tentang Kekerasan dan Pelecehan. Webinar ini berfokus pada pekerja muda dengan judul “Suara Pekerja Muda: Hentikan Kekerasan dan Pelecehan di Tempat Kerja”. Diselenggarakan pada 14 Oktober, selain ILO, webinar ini juga menghadirkan pekerja muda dari berbagai profesi dan perwakilan organisasi perempuan, Perempuan Mahardhika.

Kurangnya mekanisme pelaporan dan kurangnya perlindungan terhadap korban kekerasan dan pelecehan membuat banyak pekerja lebih memilih diam atau mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru."

Lusiani Julia, staf program ILO
Selama diskusi, Lusiani Julia, staf program ILO, menyoroti bahwa K190 adalah perjanjian internasional pertama yang mengakui hak setiap orang atas dunia kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan, termasuk kekerasan dan pelecehan berbasis gender. Kekerasan dan pelecehan di tempat kerja, tambahnya, terdiri dari berbagai bentuk dan mengakibatkan kerugian fisik, psikologis, seksual dan ekonomi.

“Pandemi COVID-19 telah menguak permasalahan ini lebih jauh. Dengan Jutaan orang yang harus bekerja dari rumah atau tinggal di rumah karena kehilangan pekerjaan, wabah baru kekerasan dalam rumah tangga, juga berkembang,” jelas Lusi, menambahkan bahwa K190 telah mengakui kekerasan dalam rumah tangga sebagai elemen yang berdampak pada pekerjaan dan kesehatan dan keselamatan pekerja.

Ia juga mengingatkan, minimnya pengaduan atau pemberitaan pekerja terkait kekerasan dan pelecehan di tempat kerja tidak berarti bahwa tindak kekerasan dan pelecehan di tempat kerja tidak terjadi. “Kurangnya mekanisme pelaporan dan kurangnya perlindungan terhadap korban kekerasan dan pelecehan membuat banyak pekerja lebih memilih diam atau mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru,” tambah Lusi.

Karenanya, menurut Lusi, K190 menyerukan kepada pemerintah untuk membuat pekerjaan yang aman bagi semua, dengan mengakui hak atas dunia kerja yang bebas dari perilaku, praktik atau ancaman yang tidak dapat diterima. “Melalui ratifikasi K190, kerja sama antar pihak terkait dapat diperkuat dan kebijakan yang dibutuhkan dapat dibahas,” pungkasnya.

Tanpa sistem pendukung dan mekanisme pelaporan yang memadai, banyak korban kekerasan dan pelecehan lebih memilih diam karena adanya kecenderungan untuk menyalahkan korban. Akibatnya, kita memilih menyimpan kejadian itu untuk diri kita sendiri; Karenanya pentingn untuk memberikan pemahaman bagi semua pekerja tentang hal ini."

Ullynara Zungga, penyanyi
Keinginan serupa tentang pentingnya ratifikasi K190 juga disuarakan para pekerja muda. Anggita R. Amini, seorang pemagang muda, misalnya, mengisahkan dirinya yang harus bekerja berjam-jam selama program pemagangan. Ia juga prihatin dengan perjanjian pemagangan yang belum mencakup isu-isu terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta pelecehan di tempat kerja.

Sementara itu, penyanyi Ullynara Zungga mengungkapkan kekhawatirannya tentang kurangnya sistem pendukung dan mekanisme pelaporan. “Tanpa sistem pendukung dan mekanisme pelaporan yang memadai, banyak korban kekerasan dan pelecehan lebih memilih diam karena adanya kecenderungan untuk menyalahkan korban. Akibatnya, kita memilih menyimpan kejadian itu untuk diri kita sendiri; Karenanya pentingn untuk memberikan pemahaman bagi semua pekerja tentang hal ini,” tambahnya.

Acara tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi dari sejumlah pekerja perempuan terkait perjuangan mereka melawan kekerasan dan pelecehan. Acara ditutup dengan kesepakatan untuk terus mempromosikan ratifikasi K190 di negara ini.

Selain itu, ILO terus melanjutkan kampanye globalnya demi mempromosikan ratifikasi dan implementasi K190. Masyarakat diundang untuk berpartisipasi dengan mengunduh bahan-bahan dari pusat kampanye ILO dan membagikannya di media sosial.