Ilmu dari sang ahli: Rangkaian ILO SCORE dan Master Class digital APINDO menarik 350 bisnis dari industri kuliner dan fesyen

Bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Program SCORE ILO menyediakan pelatihan digital untuk membantu ratusan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di bidang kuliner dan fesyen untuk menjaga produktivitas selama pandemi.

News | Jakarta, Indonesia | 26 August 2021
Bisnis kuliner menjadi salah satu bisnis yang terdampak pandemi COVID-19. (c)ILO/F.Latief
Guna membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) meningkatkan praktik bisnisnya, Program Kesinambungan Daya Saing dan Tanggung Jawab Perusahaan (SCORE) ILO dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyelenggarakan serangkaian pelatihan daring.

Program Master Class ini memberikan materi yang dapat langsung dipraktikkan oleh para peserta dan memberikan dampak positif terhadap bisnis mereka."

Ronald Walla, Ketua Bidang UMKM/IKM Dewan Pimpinan Nasional APINDO Akademi
Program yang digelar melalui pelantar APINDO UMKM Akademi dengan Top Karir dibagi menjadi dua rangkaian untuk usaha sektor kuliner dan fesyen.

“Program Master Class ini memberikan materi yang dapat langsung dipraktikkan oleh para peserta dan memberikan dampak positif terhadap bisnis mereka,” kata Ronald Walla, Ketua Bidang UMKM/IKM Dewan Pimpinan Nasional APINDO Akademi.

Ronald menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM, baik di sektor roti dan kue (bakery) serta fesyen, yang terkena dampak pandemi COVID-19, terutama mengingat sektor makanan dan minuman serta bisnis fesyen berada dalam mayoritas subsektor UMKM yang dominan di Indonesia.

“Kami memilih dua sektor dengan demografi UMKM yang paling menonjol guna memaksimalkan kesempatan belajar,” tambahnya.

Selain kepesertaan para UMKM, APINDO juga dengan selektif memilih para pembicara dalam pelatihan ini.

“Para mitra program memiliki ilmu dan pengalaman yang begitu kaya dan memiliki pengaruh besar di masing-masing sektor,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa para pembicara itu dipilih untuk memastikan bahwa program ini dapat memberikan nilai pembelajaran yang baik.

Lebih dari 300 peserta mengikuti serangkaian pelatihan sebanyak tiga sesi yang diperuntukan bagi pelaku bisnis kuliner, khususnya di bidang bakery, sementara sekitar 55 peserta mengikuti pelatihan sebanyak lima sesi untuk bisnis fesyen. Berbagai materi yang diberikan termasuk bagaimana membangun kerja sama dan berbagi informasi di tempat kerja, proses produksi yang bersih, pengelolaan dan pembangunan sumber daya manusia, kesehatan dan keamanan di tempat kerja serta pengelolaan kualitas.

Saya dapat menjual produk dengan kemasan yang lebih cantik, dan pada saat yang sama menjadikan praktik bisnis saya lebih berkelanjutan."

Nancy dari UMKM aksesoris Gesyal
Salah satu modul yang begitu berkesan dan dapat diterapkan langsung oleh Nancy dari UMKM aksesoris Gesyal adalah produksi yang ramah lingkungan. Usai mengikuti pelatihan, dia terinspirasi untuk memanfaatkan kembali bahan-bahan sisa produksi untuk dijadikan kemasan produk serta tas-tas kecil yang dapat dijual kembali. “Saya dapat menjual produk dengan kemasan yang lebih cantik, dan pada saat yang sama menjadikan praktik bisnis saya lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Adapun selama pelatihan sektor bakery yang berjalan selama tiga hari, dengan berbagai pembicara yang merupakan ahli di bidangnya, para peserta dapat mendengarkan kisah sukses dari pendiri D’Cika Cakes & Bakery, La Ode Haerun Ghowe, yang membagikan pengalamannya membangun bisnis, serta pentingnya ketangguhan dalam memulai usaha.

Peserta juga diberikan wawasan terkait berbagai prosedur operasional yang dapat digunakan dalam menjalankan bisnis, termasuk bagaimana membuat strategi pemasaran, menentukan harga jual dan bagaimana para pelaku usaha dapat menangani keluhan yang mungkin muncul dari konsumen.

Bagi Dimas, peserta yang merupakan pemilik La Te Bakes, inspirasi yang didapat datang dari ahli bakery PT Delisari Nusantara, Frederick Reynaldo, yang berbagi ilmu mengenai teknis operasional bisnisnya saat menjadi pembicara dalam pelatihan tersebut.

Menentukan tipe oven terbaik untuk usahanya, menangani isu distribusi terkait masa kadaluarsa dan menangani pesanan dalam jumlah banyak menjadi beberapa dari sejumlah ilmu yang Dimas dapatkan.

Sementara itu, Aunil dari La Miryata Bakery mendapatkan inspirasi dari presentasi pendiri D’Cika Cakes & Bakery, La Ode Haerun Ghowe untuk menanamkan ketangguhan dan pemikiran inovatif saat memulai sebuah usaha.

“Di tengah dampak pandemi terhadap usaha kami, di mana usaha kami mengalami penurunan, ilmu-ilmu yang diberikan oleh Ghowe memberikan keyakinan dan inspirasi untuk tetap mempertahankan usaha kami,” ujarnya.

UMKM perlu diberikan ilmu yang dapat diterapkan secara langsung serta solusi-solusi inovatif yang dapat mendukung keberlangsungan usaha mereka serta upaya untuk beradaptasi, terutama dalam masa pandemi."

Januar Rustandie, Manajer Program ILO SCORE Indonesia
Menurut data dari APINDO, 27 persen peserta dari industri bakery tengah dalam proses untuk menerapkan praktik bisnis dari program tersebut, sementara 66 persen telah berhasil menerapkannya. Sementara untuk sektor fesyen, 52 persen peserta telah menerapkan berbagai ilmu yang diberikan oleh para pembicara, sementara 29 persen tengah dalam proses penerapan.

Mengingat jumlah peserta yang terbilang tinggi, Manajer Program ILO SCORE Indonesia, Januar Rustandie, berharap agar lebih banyak UMKM dapat bertahan di masa pandemi ini, dengan di saat yang sama dapat meningkatkan dayasaing mereka di masa pascapandemi.

“UMKM perlu diberikan ilmu yang dapat diterapkan secara langsung serta solusi-solusi inovatif yang dapat mendukung keberlangsungan usaha mereka serta upaya untuk beradaptasi, terutama dalam masa pandemi,” ungkapnya.