ILO fasilitasi kemitraan Indonesia-Australia untuk mempercepat pengembangan keterampilan digital

Kekurangan keterampilan digital masih menjadi tantangan di Indonesia. ILO memfasilitasi kemitraan antara Indonesia-Australia untuk menciptakan talenta digital yang kompeten yang sesuai permintaan industri.

News | Jakarta, Indonesia | 07 July 2021
Indonesia membutuhkan setidaknya 9 juta talenta digital yang kompeten pada 2035 untuk mendukung revolusi industri 4.0. Untuk mencapai tujuan ini, ILO bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan TAFE Victoria mengadakan diskusi daring untuk menjajaki peluang kemitraan antara Politeknik Indonesia dan Victoria dalam meningkatkan kualitas keterampilan digital di Indonesia.

Sistem pendidikann Indonesia masa depan dipaparkan oleh Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Diselenggarakan pada akhir Juni, acara dibuka secara resmi oleh Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Rebecca Hall, Komisioner Victoria untuk Asia Tenggara, Elizabeth Campbell-Dorning, Konselor Pendidikan Kedutaan Australia di Jakarta dan Michiko Miyamoto, Direktur Kantor ILO untuk Negara Indonesia dan Timor Leste. Sesi pembukaan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang dihadiri oleh perwakilan politeknik dan pendidikan tinggi dari seluruh Indonesia.

Kami berharap webinar ini dapat menjadi awal untuk memulai diskusi lebih lanjut tentang kemungkinan kolaborasi di antara dua negara. Kami ingin melihat lebih banyak siswa Indonesia menikmati pendidikan digital berkualitas tinggi di luar negeri melalui pembelajaran luring dan daring, jika memungkinkan."

Kazutoshi Chatani, Spesialis Ketenagakerjaan ILO
Diskusi interaktif dimulai dengan pemaparan oleh Monica Oudang, Ketua Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB), yayasan GOJEK, salah satu pelantar multi-layanan berbasis permintaan terbesar di tanah air. Dia membagikan perspektif dari sisi industri, menekankan pentingnya keterampilan lunak untuk menentukan kesuksesan dalam industri digital. “Kemampuan teknis bisa dilatih. Namun, mereka yang gesit, dengan pola pikir yang terbuka dan kemampuan penyelesaian masalah dapat melejitkan karier mereka di industri ini,” ungkapnya.

Dia mengakui, sayangnya, bahasa Inggris masih menjadi kendala terbesar yang dihadapi anak muda Indonesia di industri digital. “Literatur teknologi dan bahasa kerja di perusahaan digital kebanyakan dalam bahasa Inggris. Untuk itu kemampuan bahasa Inggris yang baik akan menjadi keuntungan,” tambahnya.

Keterampilan yang dibutuhkan dalam industri teknologi
Menanggapi kebutuhan akan kemampuan berbahasa Inggris, Adam Kilbrun, Kepala Pusat Bahasa di Holmesglen Institute, salah satu dari tiga lembaga Australia yang membagikan program mereka dalam acara tersebut, memaparkan berbagai pelatihan bahasa Inggris yang dapat ditawarkan untuk Indonesia. “Bahasa Inggris ada dalam segala hal yang kita lakukan. Lembaga kami menyediakan berbagai jenis kursus bahasa Inggris yang dapat disesuaikan dengan latar Indonesia,” jelasnya.

Institut Box Hill dan Universitas Federasi mempresentasikan program pelatihan digital mereka, termasuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan keamanan siber. Lembaga-lembaga ini juga menawarkan pengalaman belajar industri melalui program kunjungan tempat kerja dan pendampingan.

Andrew Edmiston, Manajer Pendidikan Bisnis, Teknologi Informasi dan Desain Grafis dari Universitas Federasi, menjelaskan bahwa Universitas Federasi telah menjalin kerja sama dengan IBM melalui program P-TECH. Program ini menawarkan kurikulum inovatif, pengalaman kerja langsung dan koneksi kepada mentor pekerjaan dan industri.

“Kami percaya dengan melibatkan industri dalam pendidikan teknis dan vokasi akan memberikan dukungan komprehensif bagi siswa dan membantu mereka membangun jalur menuju karier yang sukses di industri ini,” katanya.

Neil Goudge, Kepala Keamanan Siber dan Program TIK dari Institut Box Hill, menyoroti pentingnya keamanan siber dan memperlihatkan pusat pelatihan operasi keamanan siber di kampus institut tersebut. Kendati tidak ada data dari Indonesia, ia mengutip data di Australia bahwa “Australia saat ini kekurangan 2.300 pekerja di bidang keamanan siber, dengan perkiraan permintaan setidaknya 17.600 profesional tambahan di sektor ini pada 2026.”

Melalui kerja sama digital yang inovatif, kita dapat membentuk kembali kolaborasi antar politeknik kita yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, tetapi juga memenuhi kebutuhan industri dan ekonomi."

Elizabeth Campbell-Dorning, Penasihat Pendidikan Kedutaan Besar Australia di Jakarta
Politeknik Indonesia sangat menyambut baik kemungkinan kemitraan antar pendidikan tinggi di kedua negara tersebut. Pertanyaan utama yang muncul dalam diskusi adalah tentang jenis dan modalitas kemitraan yang dapat dibangun di antara lembaga Indonesia dan Australia tersebut. Pertanyaan lainnya termasuk pentingnya keterampilan keamanan siber, pengembangan keterampilan digital, program pembelajaran daring dan peluang beasiswa bagi mahasiswa dan dosen.

Narasumber dan peserta acara
Acara ini merupakan bagian dari dukungan ILO terhadap pengembangan keterampilan digital Indonesia dan juga merupakan bagian dari program fasilitasi untuk menghubungkan lembaga-lembaga terkait yang dapat mendukung tujuan negara dalam menciptakan talenta digital yang terampil. Dukungan diberikan melalui Proyek Keterampilan Industri ILO untuk Pertumbuhan Inklusif (INSIGHT) Tahap 2, yang didanai oleh Pemerintah Jepang, dan Proyek Perlindungan Pengangguran (UNIQLO), yang didanai oleh Fast Retailing, Co, Ltd.

“Kami berharap webinar ini dapat menjadi awal untuk memulai diskusi lebih lanjut tentang kemungkinan kolaborasi di antara dua negara. Kami ingin melihat lebih banyak siswa Indonesia menikmati pendidikan digital berkualitas tinggi di luar negeri melalui pembelajaran luring dan daring, jika memungkinkan,” kata Kazutoshi Chatani, Spesialis Ketenagakerjaan ILO.

Senada, Elizabeth Campbell-Dorning, Penasihat Pendidikan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, mendorong institusi Indonesia dan Australia untuk mulai menjajaki kemungkinan kerja sama. “Melalui kerja sama digital yang inovatif, kita dapat membentuk kembali kolaborasi antar politeknik kita yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, tetapi juga memenuhi kebutuhan industri dan ekonomi,” pungkasnya.

Siaran langsung acara ini dapat ditonton melalui ILO TV Indonesia