Kesetaraan gender

Mendobrak langit-langit kaca kesetaraan gender di tempat kerja

Di seluruh dunia, semakin banyak perempuan yang berpartisipasi di pasar tenaga kerja. Namun, perempuan masih tidak cukup terwakilkan di pasar kerja dan hambatan-hambatan gender masih terjadi.

News | Jakarta, Indonesia | 26 April 2021
ILO berpartisipasi dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Tempo Media Group, sebuah grup media terkemuka di Indonesia, mengenai penghapusan ketidaksetaraan gender di tempat kerja pada 20 April. Webinar ini diadakan sebagai bagian dari peringatan hari perempuan nasional atau dikenal sebagai Hari Kartini. Sesi webinar ini merupakan bagian dari seri diskusi daring berjudul “Peran Perempuan dalam Masa Pandemi” yang menampilkan 50 perempuan berpengaruh di Indonesia.

Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan, menghadiri dan membuka acara tersebut. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih rendah pada 53,13 persen, dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 82,41 persen. “Kita masih menghadapi tantangan dalam mencapai kesetaraan gender di tempat kerja. Tantangan-tantangan ini bahkan semakin buruk selama pandemi. Selain stereotip, diskriminasi gender dan pelecehan seksual, perempuan harus menghadapi peran ganda antara mengurus pekerjaan domestik dan merawat anak serta bekerja dari rumah. Kekerasan dalam rumah tangga juga tercatat meningkat selama pandemi,” ungkap Ida.

Kita masih menghadapi tantangan dalam mencapai kesetaraan gender di tempat kerja. Tantangan-tantangan ini bahkan semakin buruk selama pandemi. Selain stereotip, diskriminasi gender dan pelecehan seksual, perempuan harus menghadapi peran ganda antara mengurus pekerjaan domestik dan merawat anak serta bekerja dari rumah. Kekerasan dalam rumah tangga juga tercatat meningkat selama pandemi."

Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan
Senada dengan Menteri Ida, Lusiani Julia, Staf Program ILO untuk Gender dan Standar Ketenagakerjaan, menyatakan bahwa beban pekerjaan domestik kerap menghalangi perempuan untuk berpartisipasi dalam pasar kerja. Sementara bagi perempuan yang sudah bekerja, mereka mengalami isu kesenjangan dalam hal gaji dan perlindungan sosial.

“Perempuan berpenghasilan lebih sedikit dibandingkan laki-laki dan banyak perempuan yang tidak tecakup dalam sistem perlindungan sosial karena kebanyakan bekerja di sektor informal,” ujar Lusi mengonfirmasi data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Lusi juga membahas tentang fenomena langit-langit kaca, di mana perempuan tidak dapat menggapai karier yang lebih tinggi akibat adanya hambatan baik dari dalam diri maupun lingkungan sosial. Kebijakan gender yang memadai dan dukungan dari pekerja dan pengusaha sangatlah penting untuk memecah hambatan yang tidak terlihat ini.

“Kuota gender, sebagai contoh, harus diperluas di sektor publik dan swasta. Pengusaha harus membuat kebijakan untuk menghindari diskriminasi gender dan mekanisme pelaporan pelecehan seksual yang jelas. Sementara serikat pekerja harus mempromosikan dan mengadvokasi kesetaraan gender kepada para anggotanya, sehingga beban domestik dan komersial dapat ditanggung secara seimbang oleh laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Pengusaha harus membuat kebijakan untuk menghindari diskriminasi gender dan mekanisme pelaporan pelecehan seksual yang jelas. Sementara serikat pekerja harus mempromosikan dan mengadvokasi kesetaraan gender kepada para anggotanya, sehingga beban domestik dan komersial dapat ditanggung secara seimbang oleh laki-laki dan perempuan."

Lusiani Julia, Staf Program ILO untuk Gender dan Standar Ketenagakerjaan
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan kesetaraan gender untuk masyarakat di setiap tingkat. Hambatan budaya, sebagai contoh, masih menghalangi banyak perempuan untuk memasuki sektor yang biasanya didominasi laki-laki, seperti sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM), sementara di saat bersamaan ada tuntutan bahwa perempuan harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dunia kerja yang cepat akibat kemajuan teknologi.
Hal lain untuk medukung kesetaraan gender, Lusiani menambahkan, adalah kemampuan perempuan untuk menguasai baik keterampilan teknis maupun lunak.

“Keterampilan teknis membuat perempuan dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi terbaru dan menghadapi perubahan industri, sementara keterampilan lunak dalam bentuk perilaku dan karakter yang baik akan menentukan kesuksesan perempuan karena mereka akan menjadi lebih tangguh dan termotivasi,” katanya.

Di akhir diskusi, Lusi menekankan komitmen ILO untuk mewujudkan agenda kesetaraan gender yang tertuang dalam deklarasi satu abadnya. Deklarasi tersebut memastikan kesempatan, partisipasi dan perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan, mempromosikan pembagian beban keluarga yang seimbang, memberikan pedoman mencapai keseimbangan bekerja dan kehidupan, serta mempromosikan investasi di sektor perawatan.

“Melalui dialog sosial dan bantuan teknis dalam penyusunan kebijakan, ILO akan terus mendukung negara-negara anggotanya untuk mencapai kesetaraan gender di tempat kerja dan memastikan kerja layak untuk semua orang,” pungkas Lusiani.

Acara ini juga menghadirkan pembicara lain seperti Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafidz, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya dan pendiri London School of Public Relation (LSPR), Prita Kemal Ghani. Mereka semua sepakat bahwa perempuan harus diberi kesempatan lebih banyak untuk berpartisipasi di pasar kerja dan hambatan sosial harus dihapuskan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan untuk mendapatkan perlakuan yang setara.