Perempuan dalam STEM

Pendampingan untuk mendorong lebih banyak perempuan muda memasuki sektor STEM

ILO menerapkan program pendampingan dalam program pelatihannya untuk mendorong lebih banyak siswa perempuan memasuki dan berpartisipasi dalam sektor terkait Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika (STEM).

News | Jakarta, Indonesia | 07 April 2021
Siti Rasyidah Nurainiyah menemukan cara untuk membantu anak didiknya menyelesaikan pelatihan yang diberikan oleh ILO bekerja sama dengan lembaga pelatihan Clevio Coder Camp dan Axioo Class Program (ACP) bertajuk: “Peningkatan Keterampilan Pengembangan Digital untuk Perempuan”. Diadakan mulai pertengahan Oktober 2020 hingga awal tahun 2021, pelatihan enam angkatan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan pengembangan web bagi pelajar perempuan dan lulusan sekolah kejuruan.

Siti Rasyidah Nurainiyah, guru dan mentor dari SMK Azzainiyyah, Sukabumi, Jawa Barat
Siti, guru dari SMK Azzainiyyah, Sukabumi, Jawa Barat, adalah salah seorang dari dua fasilitator sekolah tersebut yang juga merupakan pesantren. Mereka telah menyelesaikan pelatihan sebagai pembimbing dari Clevio dan ACP sebelum ditugaskan untuk mendampingi para siswa guna memastikan mereka menerima dengan baik materi pelatihan yang diberikan dan dapat menerapkannya.

“Siswa saya mengambil jurusan akuntansi dan rekayasa perangkat lunak. Saya perlu menemukan cara untuk memastikan bahwa semua siswa yang berpartisipasi dapat menyelesaikan pelatihan dengan sukses,” katanya.

Kami mengelompokkan siswa yang dianggap pembelajar cepat dengan siswa yang relatif lambat. Jadi, mereka dapat saling membantu dan belajar."

Siti Rasyidah Nurainiyah, guru dan mentor dari SMK Azzainiyyah, Sukabumi, Jawa Barat
Bersama rekannya, sesama fasilitator, ia mengembangkan beberapa strategi. Salah satunya adalah memetakan kemampuan siswa dan mengembangkan sistem bimbingan belajar sebaya. “Kami mengelompokkan siswa yang dianggap pembelajar cepat dengan siswa yang relatif lambat. Jadi, mereka dapat saling membantu dan belajar,” Siti membagikan strateginya.

Strategi kedua adalah menyelenggarakan program lintas jurusan dengan memiliki, misalnya, mahasiswa jurusan akuntansi dengan pengembangan situs web dan pemrograman komputer sebagai mata kuliah tambahan mereka. Ketiga, mengadaptasi uji kompetensi untuk program rekayasa perangkat lunak.

“Kami sekarang menyertakan program CodeIgniter dan Laravel, tidak hanya Javascript, dalam ujian. Jadi, saya pun harus menyesuaikan diri dan harus mempelajari beberapa materi pelatihan karena belum terbiasa dengan perangkat lunak baru ini. Jadi, strategi ini tidak hanya membantu siswa, tetapi juga membantu saya meningkatkan diri sebagai guru dan mentor,” tambah Siti.

Pendampingan untuk partisipasi yang lebih besar

Pengalaman serupa juga dialami Heriyanto, guru di SMK Insan Kreatif, Cibinong, Jawa Barat. Dia juga menghadapi tantangan yang sama. Dari 20 siswa di bawah bimbingannya, hanya tiga yang menyelesaikan pelatihan tingkat 1 dan lulus ke tingkat 2. Dua di antaranya adalah alumni dan seorang lagi merupakan siswa yang masih aktif di sekolah.

Siswa perempuan belajar TIK di pesantren
Namun ia terus mendorong para siswanya untuk tidak pernah berhenti belajar, apalagi mengingat pesatnya kemajuan teknologi. “Kalau tidak kita ikuti, kita akan tertinggal,” kata Heri kepada siswanya.

Melalui program pendampingan yang dilakukan oleh para pengajar kepada siswanya di sekolah, kami berharap semua siswa yang berpartisipasi dalam pelatihan pengembangan web kami akan memiliki pemahaman yang baik dan dapat mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari."

Navitri Putri Guillaume, Staf Proyek ILO untuk Perempuan dalam Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM)
Selain materi digital dalam Sistem Manajemen Pembelajaran yang digunakan selama pelatihan, Heri menyarankan ketersediaan materi pelatihan cetak. “Koneksi internet masih menjadi kendala utama yang dihadapi para siswa. Ketersediaan modul versi cetak tidak hanya penting bagi siswa tetapi juga bagi fasilitator. Versi cetak sini memudahkan, baik siswa maupun fasilitator, untuk dapat mengulas materi pelatihan kapan saja,” jelasnya.

Navitri Putri Guillaume, Staf Proyek ILO untuk Perempuan dalam Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), mengatakan bahwa pendampingan memainkan peran kunci untuk memberikan akses yang lebih besar pada siswa perempuan yang ingin bekerja di bidang terkait STEM. Pendampingan juga membantu sekolah untuk meningkatkan kurikulum TIK agar sejalan dengan kebutuhan industri terkait.

“Melalui program pendampingan yang dilakukan oleh para pengajar kepada siswanya di sekolah, kami berharap semua siswa yang berpartisipasi dalam pelatihan pengembangan web kami akan memiliki pemahaman yang baik dan dapat mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari. Para siswa juga akan memiliki kesempatan untuk secara terbuka berdiskusi dengan pendamping mereka tentang tantangan dan cara untuk membantu mereka terus belajar dan berkembang,” ungkap Navitri, seraya menambahkan bahwa program pendampingan juga merupakan cara untuk memastikan akses yang sama bagi siswa perempuan guna memperbesar partisipasi perempuan dalam STEM.

Kegiatan ini dilakukan oleh ILO melalui Program Kesiapan dan Pengembangan Pekerja Perempuan dalam STEM, didanai oleh JP Yayasan Morgan Chase, yang bertujuan untuk memberikan pelatihan keterampilan non-teknis dan teknis terkait STEM, kemampuan kerja dan kepemimpinan bagi perempuan di Thailand, Indonesia dan Filipina