Memerangi stigma dan diskriminasi terhadap HIV dengan kampanye kreatif

ILO bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berupaya mendorong perusahaan memerangi stigma dan diskriminasi terhadap HIV dengan kampanye inovatif menggunakan video blog (vlog).

News | Jakarta, Indonesia | 16 November 2020
Tiga puluh perwakilan perusahaan berpartisipasi dalam pelatihan video blog (vlog) tentang program pencegahan HIV di tempat kerja. Perusahaan yang berpartisipasi mewakili sektor kerja berisiko tinggi HIV seperti konstruksi, transportasi, pertambangan, minyak dan gas serta manufaktur.

Salah satu vlog pendidikan mengenai HIV dan K3 yang dikembangkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan
Diadakan pada 11 November, pelatihan ini bertujuan untuk membekali peserta terpilih dengan pengetahuan tentang program pencegahan HIV di tempat kerja. Pelatihan ini juga dimaksudkan untuk membekali mereka dengan keterampilan membuat vlog guna meningkatkan kesadaran tentang masalah terkait HIV di tempat kerja dan mempromosikan kebijakan non-diskriminatif di tempat kerja.

Dengan meningkatnya jumlah kasus HIV di usia produktif 15-24 tahun, kami mendukung inisiatif untuk melakukan kampanye edukasi HIV yang lebih kreatif dengan menggunakan alat promosi yang sedang tren seperti video blog. Kami perlu menemukan cara untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, termasuk kaum milenial."

dr Rima Melati, perwakilan Apindo yang menangani HIV
Pelatihan ini diselenggarakan oleh ILO bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Dr Rima Melati, perwakilan Apindo yang menangani HIV, mengatakan tanpa pendidikan dan sosialisasi yang memadai, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHA) akan sulit diberantas.

“Dengan meningkatnya jumlah kasus HIV di usia produktif 15-24 tahun, kami mendukung inisiatif untuk melakukan kampanye edukasi HIV yang lebih kreatif dengan menggunakan alat promosi yang sedang tren seperti video blog. Kami perlu menemukan cara untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, termasuk kaum milenial,” katanya.

“Kunci untuk memerangi stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV adalah melalui pengetahuan. Karenanya, kami berharap melalui pelatihan vlog ini, para pengusaha dapat melakukan kampanye HIV sendiri dengan cara yang kreatif dan menarik. Ini juga akan mendukung promosi dan penciptaan tempat kerja yang inklusif dan setara dengan memanfaatkan saluran non-tradisional seperti media sosial,” ungkap Early Dewi Nuriana, koordinator program ILO untuk pencegahan HIV, mengomentari pentingnya pelatihan ini.

Salah satu program pendidikan yang diselenggarakan bagi pekerja di perusahaan transportasi
Selama pelatihan, para peserta belajar bagaimana menggunakan ponsel pintar mereka untuk membuat vlog, mengambil gambar dan mengembangkan alur cerita serta mengedit video yang menarik. Mereka juga dapat memilih topik dari lima tema utama: program pendidikan HIV (mitos dan fakta tentang HIV), penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap HIV, mengetahui status Anda, tetap sehat dengan HIV dan promosi kebijakan non-diskriminatif di tempat kerja .

Karenanya, kami berharap melalui pelatihan vlog ini, para pengusaha dapat melakukan kampanye HIV sendiri dengan cara yang kreatif dan menarik. Ini juga akan mendukung promosi dan penciptaan tempat kerja yang inklusif dan setara dengan memanfaatkan saluran non-tradisional seperti media sosial."

Early Dewi Nuriana, koordinator program ILO untuk pencegahan HIV
Usai pelatihan, para peserta mendapatkan pendampingan praktis dari para videografer profesional selama dua minggu hingga akhir November. Para mentor memberikan panduan yang diperlukan selama proses produksi hingga vlog selesai.

“Agar kegiatan pelatihan dan pendampingan ini lebih menarik dan bermanfaat, kami juga mengadakan kompetisi internal antar peserta. Para juri yang ditunjuk termasuk anggota Kelompok Kerja HIV yang akan memilih empat vlog terbaik berdasarkan konten, teknik dan kreativitas,” tambah Early.

Pemenang lomba vlog akan diumumkan pada Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember. Vlog pemenang juga akan digunakan oleh ILO sebagai bagian dari kampanye untuk mempromosikan tempat kerja non-diskriminatif dan kesempatan kerja yang setara bagi orang dengan HIV.