COVID-19: Melindungi pekerja di tempat kerja

ILO bersama serikat pekerja lindungi nelayan dari pandemi COVID-19 dan perdagangan manusia

Pandemi COVID-19 telah meningkatkan kerentanan nelayan dan menjadikan mereka lebih berisiko terjebak dalam perdagangan manusia. ILO bersama serikat pekerja di sektor perikanan meningkatkan pemahaman mereka mengenai pandemi dan bahaya perdagangan orang.

News | Jakarta, Indonesia | 12 June 2020
Amunah, nelayan perempuan dari Desa Pabean Customs Udik, Indramayu, Jawa Barat, menerima dengan gembira paket masker dan sanitasi tangan dengan buklet informasi mengenai COVID-19 dan bahaya kerja di sektor perikanan. Ia memahami pentingnya kesehatan dan perlindungan diri selama pandemi COVID-19—tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarga dan komunitas nelayan.

Meningkatkan pemahaman para nelayan dan komunitas mereka mengenai pandemi COVID-19 dan dampaknya bagi kerentanan nelayan terhadap pekerjaan eksploitatif dan perdagangan manusia
“Ini akan lebih melindungi nelayan-nelayan perempuan dan keluarga mereka tidak hanya dari COVID-19 tapi juga dari bahaya perdagangan yang dengan mudah menggoda nelayan di saat yang sulit ini,” ujar Amunah yang juga menjadi anggota aktif Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), menyambut baik buklet yang berisi peran penting nelayan dan komunitas mereka dalam mencegah perdagangan manusia.

Memahami kerentanan nelayan dan komunitas mereka selama situasi pandemi ini... Kami berupaya meningkatkan kesadaran sehingga mereka dapat melindungi diri dan keluarga dengan lebih baik dari pandemi COVID-19, meningkatkan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan, di saat yang sama, mencegah perdagangan."

Abdul Hakim, manajer proyek SEA Fisheries ILO
Nelayan skala kecil, pekerja perikanan dan komunitas mereka saat ini menghadapi ancaman pandemi COVID-19, yang memengaruhi seluruh jaringan pemasokan dan mata pencarian sektor perikanan. Kerentanan baru ini muncul dari hilangnya mata pencarian, kurangnya perlindungan sosial yang mungkin semakin meningkatkan kerentanan nelayan terhadap pekerjaan dan jasa eksploitatif serta perdagangan orang.

“Memahami kerentanan nelayan dan komunitas mereka selama situasi pandemi ini, ILO melalui Proyek SEA Fisheries bekerja sama dengan organisasi serikat pekerja dan kelompok nelayan perempuan. Kami meningkatkan kesadaran sehingga mereka dapat melindungi diri dan keluarga dengan lebih baik dari pandemi COVID-19, meningkatkan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan, di saat yang sama, mencegah perdagangan,” ujar Abdul Hakim, manajer proyek SEA Fisheries ILO.

Program bersama ini dilakukan bersama dengan para mitra berikut: Asosiasi Nelayan Indonesia (INFISA), Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Melalui organisasi-organisasi ini, Proyek SEA Fisheries ILO membagikan 4.000 masker dan 4.000 sanitasi tangan kepada para anggota mereka.

Mereka membutuhkan alat pelindung diri dan bantuan. Wilayah ini dikenal rentan terhadap perdagangan dan penyelundupan manusia."

Ilyas Pangestu, Ketua Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI)
Prakarsa ini juga menjangkau pekerja kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di sejumlah lokasi dengan membagikan 500 masker dan sanitasi tangan. Pusat kesehatan ini memberikan layanan dan perawatan kesehatan bagi para nelayan dan keluarga mereka.

Ilyas Pangestu, Ketua SPPI, mengatakan bahwa SPPI menjangkau para anggotanya dari wilayah pantai selatan di Kabupaten Pandeglang, Banten. “Mereka membutuhkan alat pelindung diri dan bantuan. Wilayah ini dikenal rentan terhadap perdagangan dan penyelundupan manusia dan kami berharap melalui program peningkatan kesadaran bersama ini mereka dapat melindungi diri dengan lebih baik dari pandemi COVID-19 dan perdagangan manusia,” ia menegaskan.

Kegiatan bersama ini juga menandai kegiatan langsung pertama yang dilakukan Proyek SEA Fisheries ILO terhadap pandemi. “Ini merupakan langkah penting yang juga dapat mendemonstrasikan pentingnya kontribusi anggota serikat pekerja dalam mencegah pandemi COVID-19, memperkuat dan mengintegrasikan K3 dan, yang terpenting, berkontribusi pada penghapusan perdagangan manusia dan perbudakan di laut,” demikian Abdul.

Didanai Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Proyek SEA Fisheries ILO bertujuan mengurangi perdagangan manusia di sektor perikanan dengan memperkuat koordinasi dan meningkatkan efesiensi dan efektivitas upaya anti perdagangan yang ada di tingkat nasional dan regional di kawasan Asia Tenggara.