Kaum muda Indonesia bicara tentang pekerjaan masa depan dan K3

Acara ILO memberikan kesempatan bagi kaum muda Indonesia untuk berbicara. Enam puluh anak muda Indonesia berbagi pemikiran dan wawasan tentang pekerjaan masa depan serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

News | Jakarta, Indonesia | 08 March 2019
Bincang-bincang kaum muda mengenai pekerjaan masa depan, kaum muda dan K3
Di sebuah Rabu sore yang sejuk dan rindang 28 Februari di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Pohon-pohon rindang berayun lembut. Sejumlah anak sekolah terlihat sibuk berlatih tari untuk acara sekolah mereka di alua terbuka taman. Sementara beberapa anak yang lebih kecil bersepeda atau bermain basket.

Di pintu depan, sebuah tonggak spanduk, “ILO 100: Memajukan Keadilan Sosial, Mempromosikan Pekerjaan yang Layak”, berdiri tegak sebagai tanda kepada kepada sekelompok perempuan dan laki-laki muda yang memasuki taman. Mereka bergegas masuk dan berkumpul di teater terbuka mini di taman tersebut, di mana dua musisi muda sedang memainkan musik akustik. Semakin banyak anak muda yang datang dan berkerumun di taman, menikmati musik sambil menunggu diskusi interaktif dimulai.

Sebelum bergabung dengan diskusi interaktif ini, saya tidak tahu tentang K3. Saya tidak pernah memikirkan K3 saat menulis untuk blog, buku atau artikel untuk media. Terkadang saya bisa bekerja berhari-hari tanpa istirahat karena harus menepati tenggat dan tidak pernah memikirkan lingkungan kerja saya."

Faiz Maulana, seorang blogger
Untuk menarik generasi milenial, ILO mencoba sebuah kegiatan inovatif di taman. Tema diskusi adalah mengenai pekerjaan masa depan dan dampaknya bagi kaum muda serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bertajuk “Kaum Muda Bicara: Pekerjaan Masa Depan dan K3”. Inisiatif Pekerjaan Masa depan menjadi tema utama dari kegiatan ILO untuk menandai satu abad organisasi ini.

Diskusi interaktif ini adalah bagian dari perayaan seratus tahun ILO. Selama 100 tahun, ILO telah memajukan keadilan sosial dan mempromosikan pekerjaan yang layak. Perayaan 100 tahun ILO juga menandai perjalanan Indonesia selama 69 tahun dengan ILO.

Acara ini dilakukan melalui Proyek Safe Youth at Work ILO, yang bertujuan mengatasi masalah K3 bagi pekerja muda. Didanai oleh Departemen Tenaga Kerja AS, Proyek ini terfokus pada peningkatan data, peraturan dan kebijakan K3 serta kapasitas teknis dan kesadaran publik.

M. Faiz Maulana, seorang blogger, berbagi pengalaman kerjanya

Penting bagi kita untuk mengetahui tentang K3 tidak hanya untuk pekerjaan kita di masa depan tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita. Saya akan membagikan informasi yang saya dapatkan hari ini ke lingkungan saya sehingga lebih banyak anak muda yang memiliki pengetahuan K3 yang lebih baik."

Dea Oktaviana, seorang mahasiswi
Selama diskusi interaktif, para anak muda yang berpartisipasi memberikan pendapat dan wawasan mereka tentang dunia kerja yang berubah sangat cepat dan pekerjaan masa depan yang telah mereka bayangkan. M. Faiz Maulana, seorang blogger, berbagi pengalaman sebagai seorang penulis mandiri. Sebagai seorang blogger, dia mengisahkan bahwa dia memutuskan sendiri beban kerja, jam kerja dan jenis hubungan kerja dengan penerbit, organisasi media massa dan sebagainya.

Kendati ia telah mempersiapkan diri untuk jenis pekerjaan yang akan datang, ia mengakui belum menyadari pentingnya K3 dalam kehidupan kerja. “Sebelum bergabung dengan diskusi interaktif ini, saya tidak tahu tentang K3. Saya tidak pernah memikirkan K3 saat menulis untuk blog, buku atau artikel untuk media. Terkadang saya bisa bekerja berhari-hari tanpa istirahat karena harus menepati tenggat dan tidak pernah memikirkan lingkungan kerja saya,” ujar dia.

Ditantang untuk berbagi inisiatif sendiri mengenai K3 dalam diskusi, Dea Oktaviana, seorang mahasiswi, mengatakan bahwa dia akan memulai hal kecil dari dirinya sendiri. Dia berjanji untuk selalu memasukkan K3 dalam segala aspek kehidupannya. “Penting bagi kita untuk mengetahui tentang K3 tidak hanya untuk pekerjaan kita di masa depan tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita. Saya akan membagikan informasi yang saya dapatkan hari ini ke lingkungan saya sehingga lebih banyak anak muda yang memiliki pengetahuan K3 yang lebih baik,” imbuhnya.

Saya bersyukur bisa terlibat dalam mempersiapkan acara ini bersama ILO. Kita membutuhkan acara semacam ini untuk membantu kita lebih memahami masalah-masalah penting dalam kehidupan kita sebagai orang muda, termasuk masalah K3."

Fadllil Kaafi, seorang mahasiswa pascasarjana yang juga salah seorang penggiat K3 muda
Diskusi interaktif ini difasilitasi oleh Valentine Offenloch, Spesialis Teknis dan Abdul Hakim, Staf Proyek Safe Youth at Work ILO. Dalam diskusi tersebut, mereka memberi pencerahan kepada para peserta dengan pengetahuan, fakta dan informasi terkait K3 dan kaum muda. Mereka mengingatkan bahwa para pekerja muda umumnya lebih rentan terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja dibandingkan pekerja dewasa dan mereka juga meningkatkan kesadaran tentang hak-hak kaum muda di tempat kerja, khususnya tentang K3.

Setelah dua jam, acara berakhir sebelum pukul 6 sore. Langit mulai menggelap dan berawan. Fadllil Kaafi, seorang mahasiswa pascasarjana yang juga salah seorang penggiat K3 muda serta membantu ILO dalam penyelenggaraan acara tersebut mengatakan bahwa ia terus mendapatkan wawasan baru tentang K3.

“Saya bersyukur bisa terlibat dalam mempersiapkan acara ini bersama ILO. Kita membutuhkan acara semacam ini untuk membantu kita lebih memahami masalah-masalah penting dalam kehidupan kita sebagai orang muda, termasuk masalah K3,” katanya sambil merapikan spanduk ILO 100 dan mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa teman kuliahnya yang berpartisipasi dalam acara tersebut.

Catatan

Pendanaan disediakan oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat di bawah nomor perjanjian kerjasama IL-26690-14-75-K-11.

Materi ini tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, juga tidak menyebutkan nama dagang, produk komersial, atau organisasi yang menyiratkan adanya pengesahan oleh Pemerintah Amerika Serikat. Seratus persen dari total biaya proyek atau program ini dibiayai dengan dana Federal, dengan total 11.443.156 dolar.