ILO-Bappenas identifikasi kendala pertumbuhan ketenagakerjaan di tingkat provinsi

Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan menyelenggarakan lokakarya mengenai analisa diagnostik ketenagakerjaan (employment diagnostic analysis/ EDA) pada 7 Oktober 2011 di Bappenas, Jakarta. ILO telah mengembangkan EDA melalui Proyek Mempromosikan Pertumbuhan yang Kaya Lapangan Kerja yang Inklusif yang didanai secara terpusat melalui Stockholm dan Jenewa oleh Badan Kerjasama Internasional Swedia (Swedish International Cooperation Agency/Sida).

Press release | 06 October 2011

Jakarta (Siaran Pers Bersama): Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan menyelenggarakan lokakarya mengenai analisa diagnostik ketenagakerjaan (employment diagnostic analysis/ EDA) pada 7 Oktober 2011 di Bappenas, Jakarta. ILO telah mengembangkan EDA melalui Proyek Mempromosikan Pertumbuhan yang Kaya Lapangan Kerja yang Inklusif yang didanai secara terpusat melalui Stockholm dan Jenewa oleh Badan Kerjasama Internasional Swedia (Swedish International Cooperation Agency/Sida). Metodologi tersebut membantu dalam memahami sifat dari kurangnya lapangan pekerjaan produktif dan mengidentifikasi hambatan-hambatan dan peluang-peluang untuk meningkatkan pertumbuhan yang kaya lapangan kerja (padat karya) yang inklusif.

Peluang untuk menghasilkan pendapatan, khususnya bagi rakyat miskin, secara berkelanjutan merupakan faktor kunci bagi keberhasilan orientasi kebijakan yang “pro-pertumbuhan, pro-masyarakat miskin, pro-pekerjaan, dan pro-lingkungan”. Hal ini membutuhkan fokus yang kuat pada penciptaan lapangan pekerjaan yang produktif dan pekerjaan yang layak, khususnya di tingkat lokal, mengingat struktur pemerintahan yang terdesentralisasi. Provinsi-provinsi di Indonesia berada pada berbagai tahap perkembangan dan sokongan keterampilan, modal, dan infrastruktur bervariasi. Oleh karena itu, penting untuk mendukung para pembuat kebijakan dan para pemangku kepentingan setempat untuk mengidentifikasi kendala-kendala penting petumbuhan lapangan kerja, yang akan memperkuat dasar bagi pembuatan kebijakan.

ILO telah mengujicobakan EDA, bekerja sama dengan pemerintah dan mitra sosial lokal di tiga provinsi di Indonesia: Kupang (18-20 Januari 2011), Surabaya (04-05 April 2011) dan Ambon (11-13 April 2011). Para peserta lokakarya menerapkan metodologi EDA di provinsi mereka dan bersama-sama mengidentifikasi kendala-kendala utama bagi pertumbuhan lapangan kerja. Perwakilan dari tiga provinsi tersebut akan mempresentasikan hasil analisa mereka di Bapenas hari Jumat ini. Lokakarya nasional di Jakarta bertujuan untuk membagikan metodologi EDA dengan para pembuat kebijkan dan mitra-mitra sosial di tingkat nasional dan membahas ruang lingkup untuk memperbesar kegiatan ini di provinsi-provinsi lain.

Analisa Diagnostik Ketenagakerjaan (EDA) berdasarkan pada prinsip bahwa ketimbang mengadakan analisa yang dilakukan oleh pakar dari luar, mereka yang bertanggungjawab dalam merancang dan menerapkan kebijakan harus terlibat dalam analisa ini. “Identifikasi kendala-kendala penting bagi pertumbuhan yang kaya lapangan kerja yang inklusif dapat membantu pemerintah lokal dalam membuat kebijakan ketenagakerjaan yang dapat secara efektif mengatasi masalah-masalah ini di tingkat provinsi,” kata Per Ronnas, Pakar Ketenagakerjaan dan Pembangunan Senior yang berkantor di ILO Jenewa, yang bertanggung jawab atas Proyek ILO - Mempromosikan Petumbuhan yang Kaya Lapangan Kerja yang Inklusif.

Ceppie K. Sumadilaga, Deputi Bappenas untuk Kemiskinan, Tenaga Kerja, dan Usaha Kecil dan Menengah, menghargai dukungan ILO dalam membangun kapasitas para perencana lokal dalam melakukan analisa diagnostik ketenagakerjaan. “Penciptaan lapangan kerja yang produktif di tingkat lokal merupakan kunci untuk secara efektif mengurangi kemiskinan. Analisa diagnostik ketenagakerjaan membantu para pembuat kebijakan dan para pemangku kepentingan mengidentifikaai masalah-masalah penting yang perlu mereka atasi,” katanya.

Ewa Polano, Duta Besar Swedia, mengatakan bahwa lokakarya ini sangat cocok dengan tujuan keseluruhan dari kerja sama pembangunan Swedia. Swedia ingin berkontribusi pada penciptaan kondisi-kondisi yang memungkinkan masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan. Lapangan kerja yang produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua orang juga merupakan target resmi Tujuan Pembangunan Milenium (MDG). Indonesia adalah salah satu dari sejumlah kecil negara-negara yang terpilih untuk pekerjaan percontohan dalam Proyek Mempromosikan Pertumbuhan yang Kaya Lapangan Kerja yang Inklusif. "Saya senang bahwa pemerintah Swedia merupakan penyumbang dana utama dari lokakarya penting hari ini, yang saya harap akan menuntun kepada kerja sama yang lebih dalam lagi antara kedua negara kita - Indonesia dan Swedia"

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Kazutoshi Chatani
Staf Teknis
Tel.: +6221 391 3112 ext. 119
Email

Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115
Email