Perjalanan panjang pekerja migran Indonesia meraih keadilan

Semakin banyak kaum perempuan dan laki-laki yang memilih migrasi kerja sebagai jalan terbaik untuk mendapatkan pendapatan yang memadai bagi keluarga mereka dan membebaskan diri dari kemiskinan. Namun, biaya sosial dan ekonomi migrasi bagi para pekerja dan keluarga mereka sangatlah besar, dan kerapkali tidak dipahami dan terdokumentasi dengan baik.

Press release | 04 October 2011

JAKARTA (Berita ILO): Semakin banyak kaum perempuan dan laki-laki yang memilih migrasi kerja sebagai jalan terbaik untuk mendapatkan pendapatan yang memadai bagi keluarga mereka dan membebaskan diri dari kemiskinan. Namun, biaya sosial dan ekonomi migrasi bagi para pekerja dan keluarga mereka sangatlah besar, dan kerapkali tidak dipahami dan terdokumentasi dengan baik.

Sebagai negara pengirim kedua terbesar, sekitar 700.000 pekerja migran Indonesia pergi ke luar negeri untuk bekerja, khususnya ke Asia Timur dan Tenggara serta Timur Tengah. Dari jumlah tersebut, 78 persen bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Pada 2009, sekitar 4,3 juta warga Indonesia diperkirakan bekerja di luar negeri. Kendati pekerja migran Indonesia merupakan penyumbang devisa Indonesia kedua terbesar, mencapai sekitar US$ 2,4 milyar, banyak dari “para pahlawan devisa” ini mengalami eksploitasi dan penganiayaan di sepanjang proses migrasi, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Sebagai upaya untuk mendokumentasikan kehidupan dan pengalaman migrasi para pekerja rumah tangga migran Indonesia, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO), bersama dengan SmartFM Network, sebuah stasiun radio terkemuka di Jakarta, akan menyelenggarakan bincang-bincang interaktif, “Perjalanan Panjang Pekerja Migran Indonesia Meraih Keadilan” pada Rabu, 5 Oktober, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Bincang-bincang ini akan menghadirkan Reyna Usman (Direktur Jenderal Penempatan dan Pemberdayaan Tenaga Kerja, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi), Muhammad Ansor (Direktur Hak Asasi Manusia, Kementerian Luar Negeri), Okky Asokawati (Anggota DPR Komisi IX) dan Anis Hidayah (Direktur Migrant Care).

Bincang-bincang interaktif ini diselenggarakan sejalan dengan peluncuran esai foto ILO mengenai pekerja migran yang berjudul “Jalan Pulang yang Panjang: Perjalanan Pekerja Migran Indonesia” yang digelar pada 29 September 2011 dan pameran foto dengan tajuk yang sama pada 2 – 5 Oktober. Bincang-bincang ini pun menandai penutupan pameran foto.

Bincang-bincang interaktif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai perjuangan para pekerja rumah tangga migran Indonesia dan untuk mendorong diskusi interaktif mengenai pentingnya ratifikasi perangkat-perangkat internasional yang mengatur tentang pekerja migran guna memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja migran Indonesia. Bincang-bincang ini pun akan disiarkan langsung di empat kota: Jakarta, Medan, Semarang and Makassar.

Bincang-bincang interaktif ini diselenggarakan ILO melalui Proyek Memerangi Kerja Paksa dan Perdagangan Pekerja Migran Indonesia. Didanai Pemerintah Nowergia, Proyek ini bertujuan untuk memperkuat perlindungan pekerja migran terhadap praktik-praktik perdagangan dan kerja paksa serta memberdayakan mereka secara keuangan dengan memberikan alternatif-alternatif keuangan hingga kondisi kerja yang berbahaya di luar negeri serta praktik-praktik migrasi.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Albert Y. Bonasahat
Koordinator Program Pekerja Migran ILO
Tel.: +6221 3913112 ext. 125
Email

Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115
Email