ILO: Krisis ekonomi mengurangi upah selama dua tahun ini

Pertumbuhan upah secara global menurun secara dramatis pada 2008 sebagai akibat dari krisis ekonomi dan diharapkan akan semakin menurun pada tahun ini kendati terdapat kemungkinan terjadinya pemulihan ekonomi, demikian Organisasi Perburuhan Internasional(International Labour Organization/ILO) pada Selasa.

Press release | 03 November 2009

JENEWA (ILO News): Pertumbuhan upah secara global menurun secara dramatis pada 2008 sebagai akibat dari krisis ekonomi dan diharapkan akan semakin menurun pada tahun ini kendati terdapat kemungkinan terjadinya pemulihan ekonomi, demikian Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) pada Selasa.

“Terus memburuknya upah di seluruh belahan dunia melahirkan pertanyaan serius mengenai sejauh mana pemulihan ekonomi yang terjadi, khususnya bila paket-paket penyelamatan pemerintah telah diakhiri lebih dini. Deflasi upah menghambat ekonomi-ekonomi nasional memenuhi permintaan dan secara serius mempengaruhi kepercayaan diri”, ujar Manuela Tomei, Direktur, Progran Kondisi Kerja ILO dan pengarang utama dari studi ini.

The “Global Wage Report: 2009 Update” akan dibahas dalam Dewan Pengurus ILO di Jenewa pada 5-20 November serta penerapan Global Jobs Pact (Kesepakatan Ketenagakerjaan Global) yang diadopsi pada Konferensi Perburuhan Internasional Juni lalu. Kesepakatan ini menegaskan perlunya perangkat untuk mempertahankan ketenagakerjaan dan mencegah konsekuensi yang merugikan dari penurunan upah dan memburuknya kondisi kerja.

Laporan ini pun menyebutkan “gambaran upah cenderung semakin memburuk pada 2009” kendati indikator-indikator ekonomi mengindikasikan adanya pemulihan ekonomi. Laporan pun mengatakan bahwa setengah dari 35 negara dengan ketersediaan data memperlihatkan upah bulanan menurun pada empat bulan pertama tahun 2009 dibandingkan dengan rata-rata upah pada 2008, yang acapkali diakibatkan pemotongan jam kerja.

Kondisi ini mengikuti tahun sulit untuk upah pada 2008. Dalam sampel 53 negara di mana data tersedia, pertumbuhan rata-rata upah di negara-negara tersebut menurun dari 4,3 persen pada 2007 menjadi 1,4 persen pada 2008. Di antara kesepuluh negara-negara G-20 di mana data tersedia, pertumbuhan upah menurun dari 1,0 persen pada 2007 menjadi -0,2 persen pada 2008

Laporan pun mengatakan bahwa baik negara berkembang maupun maju tela memperkuat upah minimum mereka di tahun-tahun belakangan ini, mencerminkan kekhawatiran yang besar terhadap membesarnya ketidaksetaraan dan upah rendah. Sementara selama krisis sebelumnya, kekhawatiran pada dampak biaya kerja meluas, dan dalam krisis saat ini, sejumlah negara telah menyesuaikan upah minimum mereka ke atas.

Pada 2008, setengah dari 86 negara di mana data tersedia – termasuk negara-negara ekonomi besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Brazil – telah meningkatkan upah minimum melebihi inflasi. Laporan pun menggambarkan upah minimum sebagai “perangkat kebijakan yang penting untuk perlindungan sosial”, menyerukan keterlibatan para mitra sosial dalam menetapkan tingkatan dan menyarankan upah minimum harus dipadukan dengan dukungan pemasukan tambahan dan pengurangan pajak.

“Upah minimum, dialog sosial dan perundingan bersama merupakan langkah-langkah untuk menghindari gonjang-ganjing upah dan dampaknya terhadap masyarakat kita”, ujar Tomei.

Memburuknya upah pada saat ini menindaklanjuti seabad terkontrolnya (moderation) upah sebelum terjadinya krisis ekonomi global. Laporan mempertimbangkan kemungkinan tahun-tahun di mana terjadinya kemandekkan upah dibandingkan dengan produktivitas – ditambah lagi dengan meningkatnya ketidaksetaraan – mengarah pada krisis yang membatasi kemampuan banyak rumah tangga meningkatkan konsumsi selain melalui hutang.

“Di masa mendatang, memperbaiki hubungan antara pertumbuhan produktivitas dan peningkatan upah penting untuk keberlanjutan ekonomi dan sosial. Perusahaan-perusahaan harus dapat mencapai daya saing melalui peningkatan produktivitas ketimbang pemotongan biaya kerja, serta pekerja harus mendapatkan posisi tawar yang memadai untuk memperjuangkan upah mereka. Hal ini akan sejalan dengan upaya menanggulangi ketidaksetaraan pendapatan,” kata Tomei said.

Menurut laporan terbaru ini, salah satu kekhawatiran utama mengenai dampak krisis terhadap upah adalah sejauh mana wage-arrears meningkat. Laporan pun mengatakan bahwa negara-negara seperti Ukraine dan Rusia di mana masalah ini sudah menjadi sebuah permasahalan, kondisinya cenderung semakin memburuk akibat krisis.

Laporan pun menegaskan bahwa pemberian bonus yang besar dan tidak terkait dengan kinerja aktual, berperan dalam terjadinya krisis dengan mengacaukan insentif dalam sektor keuangan dan mempromosikan pengambilan risiko jangka pendek.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Departemen Komunikasi ILO
Kantor Pusat ILO Jenewa
Tel: +4122 7997912
Email

Sophy Fisher
Kantor Regional ILO untuk Asia dan Pasifik – Bangkok
Tel: +662 2882482
Mobile: +66 898950912
Email