Dampak kami, suara mereka

Pabrik garmen Indonesia meningkatkan upaya untuk memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja

Melalui penguatan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), kinerja dua pabrik garmen yang ikut serta dalam Better Work Indonesia, program bersama ILO dan International Finance Corporation (IFC), telah diakui oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan pembeli internasional.

Feature | Semarang, Jawa Tengah, Indonesia | 28 April 2022
Dua pekerja di gudang pabrik garmen di Semarang, Jawa Tengah tengah sibuk dengan tumpukan pakaian jadi yang menjulang tinggi dengan dongkrak palet. Mereka bekerja sama menempatkan kain-kain dengan mendorong beban dari depan dan belakang. Pekerja yang berada di bagian depan terlindungi sepenuhnya dengan memakai masker wajah dan sepatu yang tertutup rapat, sementara pekerja satunya di bagian belakang tidak mengenakan pelindung apa pun— ia justru memakai sandal jepit.

Upaya yang dilakukan oleh perusahaan garmen untuk meningkatkan kesadaran para pekerjanya mengenai pentingnya protokol kesehatan.
Kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi tantangan bagi industri garmen Indonesia. Better Work Indonesia (BWI), sebuah program kemitraan antara ILO dan International Finance Corporation (IFC), melaporkan dalam laporan tahunan 2018 bahwa pelanggaran terkait K3 mencakup lebih dari setengah masalah ketidakpatuhan yang paling banyak disebutkan.

Karenanya laporan tersebut merekomendasikan bahwa dialog sosial melalui Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) sangat penting untuk memenuhi standar K3 nasional. Dialog sosial yang efektif juga menjadi tema utama Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia tahun 2022 ILO yang jatuh pada tanggal 28 April: “Partisipasi dan dialog sosial dalam menciptakan budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang positif.”

Perusahaan menganggap K3 sebagai investasi. Dengan demikian, setiap fasilitas terkait K3 yang perlu ditingkatkan akan segera dilakukan karena manajemen puncak kami percaya pada tindakan pencegahan."

Rudy Gunawan, petugas kepatuhan PT Sumber Bintang Rejeki
Memahami pentingnya K3 untuk keberlanjutan usaha dan perlindungan pekerja melalui dialog sosial, PT Sumber Bintang Rejeki, pabrik garmen peserta BWI di Semarang, telah menyelenggarakan pertemuan bulanan P2K3 untuk mengakomodasi masalah terkait K3 dan memulai diskusi interaktif terkait K3.

Untuk lebih meningkatkan partisipasi dan kesadaran pekerja dalam membangun budaya pencegahan K3, pabrik tersebut juga mengadakan kompetisi video TikTok K3, permainan dan “kuis di jalanan”. Manajemen puncak perusahaan memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif P2K3 tanpa perundingan yang panjang.

Rudy Gunawan, petugas kepatuhan dari pabrik tersebut, mengatakan bahwa manajemen segera menyetujui renovasi elevator senilai Rp 140 juta (US$9.755) dalam waktu dua minggu setelah mereka mengetahui tentang kecelakaan elevator di perusahaan lain. “Perusahaan menganggap K3 sebagai investasi. Dengan demikian, setiap fasilitas terkait K3 yang perlu ditingkatkan akan segera dilakukan karena manajemen puncak kami percaya pada tindakan pencegahan. Jangan sampai terjadi kecelakaan,” seru Rudy.

Kita harus mau berinvestasi. Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena kami beroperasi tanpa izin atau sertifikat."

Dudi Rusmana, Assistant General Manager PT Kanindo Makmur Jaya
PT Sumber Bintang Rejeki juga termasuk perusahaan pertama di Kabupaten Semarang yang memvaksinasi para pekerjanya untuk memutus rantai penularan COVID-19 di tempat kerja. Human Resource Development and General Affairs Manager, Puji Astuti mengatakan kepatuhan K3 perusahaan telah diakui Kementerian Ketenagakerjaan dengan penghargaan atas penerapan protokol kesehatan di tempat kerja selama dua tahun berturut-turut.

Investasi K3 serupa juga dilakukan PT Kanindo Makmur Jaya, produsen tas di Jepara, Jawa Tengah. Para eksekutif puncaknya di Jepara, Jawa Tengah mengatakan bahwa mereka mendedikasikan 5 persen dari anggaran operasional bulanan mereka untuk K3. Alokasi anggaran tersebut meliputi izin-izin untuk membekali pekerja di departemen tertentu dan sertifikasi Ahli K3 (AK3).

“Kita harus mau berinvestasi. Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena kami beroperasi tanpa izin atau sertifikat,” kata Assistant General Manager perusahaan Dudi Rusmana.

Kemitraan manajemen-pekerja yang baik diperlukan untuk menciptakan budaya pencegahan di tempat kerja.
Ricky Dwi Arisandi, sekretaris P2K3 pabrik, menceritakan perusahaan menghadapi kendala untuk mempromosikan K3 saat mereka pertama kali pindah ke Jepara pada 2015. Pekerja setempat masih asing dengan isu-isu terkait K3 karena sebelumnya tidak ada pabrik di sekitar tempat itu. Alhasil, jumlah pekerja meningkat pesat, begitu pula dengan jumlah kecelakaan.

K3 tidak hanya penting bagi kami tetapi juga bagi pembeli sehingga bersama-sama kita dapat mencegah dampak negatif dari kelalaian K3 yang dapat merusak reputasi kami berdua."

Ricky Dwi Arisandi, sekretaris P2K3 PT Kanindo Makmur Jaya
Masalah seperti itu mendorong perusahaan untuk membuat departemen Lingkungan, Kesehatan, dan Keselamatan (ESH) sendiri—satu-satunya di sektor ini. ESH merupakan bagian dari P2K3 yang saat ini bertambah dari 17 menjadi 28 petugas.

Selain pertemuan bulanan dan pemeriksaan kesehatan, perusahaan juga mengadakan “sekolah menjahit” bagi pekerja baru untuk melakukan simulasi pengoperasian mesin jahit sebelum diterjunkan ke area produksi. Perusahaan juga secara ketat mengikuti protokol kesehatan selama pandemi COVID-19.

Kepatuhan K3 adalah untuk kepentingan semua—perusahaan, pekerja, masyarakat sekitar bahkan masyarakat luas."

Djohar Ekananda, Penasihat Perusahaan BWI
“Pembeli kami sangat memperhatikan kepatuhan K3 sebagai bagian dari kode etik mereka. Dengan demikian, K3 tidak hanya penting bagi kami tetapi juga bagi pembeli sehingga bersama-sama kita dapat mencegah dampak negatif dari kelalaian K3 yang dapat merusak reputasi kami berdua,” tambah Dudi.

Namun Djohar Ekananda, Penasihat Perusahaan BWI, mengakui bahwa dedikasi dan komitmen perusahaan terhadap P2K3 yang ditunjukkan oleh dua perusahaan di atas hanya mewakili sebagian kecil dari perusahaan di Indonesia. “Kendati merupakan persyaratan bagi perusahaan untuk membentuk P2K3, banyak perusahaan mendirikannya hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi,” katanya.

Djohar menyimpulkan bahwa upaya pencegahan potensi bahaya sangat penting. Dia mengutip perkiraan ILO bahwa 2,3 juta perempuan dan laki-laki di seluruh dunia kehilangan nyawa karena kecelakaan atau penyakit akibat kerja setiap tahun. “Ini setara dengan lebih dari 6.000 kematian setiap hari. Oleh karena itu, kepatuhan K3 adalah untuk kepentingan semua—perusahaan, pekerja, masyarakat sekitar bahkan masyarakat luas,” pungkasnya.