Dampak kami, suara mereka

Kemitraan sekolah-industri berikan kaum muda peluang lebih baik untuk pekerjaan yang layak

Survei terbaru ILO mengungkapkan suara-suara anak muda Indonesia tentang transisi dari sekolah ke dunia kerja. Mereka telah menghadapi tantangan berat dalam transisi ke pekerjaan yang layak bahkan di saat ekonomi terbaik. Kini keadaan semakin sulit selama krisis seperti pandemi COVID-19.

Feature | Jakarta, Indonesia | 06 July 2020
 
"Saya sangat yakin mendapatkan pekerjaan yang layak," ujar Dio Firdaus, yang baru saja lulus dari SMA 100, sebuah sekolah menengah atas di Jakarta, Indonesia. Theresia Ribka, siswi sekolah kejuruan jurusan multimedia, juga menunjukkan rasa percaya diri yang sama. Dio dan Theresia merupakan perwakilan dari 80,4 persen kaum muda yang mengikuti survei dan mengklaim bahwa mereka percaya diri mendapatkan pekerjaan yang layak saat memasuki dunia kerja, Mereka percaya mereka memiliki keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan.

Saya baru saja menyelesaikan pemagangan di perusahaan kontraktor. Program magang telah memberi pengalaman kerja yang membantu saya mendapatkan pekerjaan."

Abiel Kristianto yang kini menjadi arsitek yunior
Untuk mendalami perspektif kaum muda Indonesia terkait transisi dari sekolah ke dunia kerja, ILO bekerja sama dengan GRID Network, jaringan media terkemuka, melakukan survei pada Desember lalu, menjangkau sebanyak 2.442 perempuan dan laki-laki muda berusia 15-24 tahun di 10 kota. Hasil survei tersebut diperdalam dengan wawancara yang dilakukan pada awal tahun ini, yang menangkap pandangan para ahli dan sejumlah responden.

Survei ini mengungkapkan bahwa dari mereka yang merasa percaya diri mendapatkan pekerjaan yang layak, 89 persen telah berpartisipasi dalam program transisi dari sekolah ke dunia kerja, seperti, antara lain, program pemagangan, kunjungan ke industri, guru/dosen dari industri. Namun, sekitar 1.555 responden (47,3%) menyatakan bahwa lembaga pendidikan belum memberi mereka keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk bekal memasuki dunia kerja.

Survei ini dilakukan sebagai bagian dari proyek PBB bersama,“Kerangka Solusi yang Terintegrasi: Kolaborasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi – Industri ”, yang bertujuan mempromosikan kolaborasi industri - pendidikan dan pelatian vokasi untuk mengurangi ketidaksesuaian keterampilan dan mempromosikan pembagian biaya pelatihan dan pendidikan vokasi antara pemerintah dengan sektor swasta. 

Ini juga didukung oleh Proyek ILO mengenai Keterampilan Industri untuk Pertumbuhan Inklusif (In-Sight) Tahap 2. Didanai Pemerintah Jepang, proyek ini bertujuan mempromosikan pendekatan mekanisme dan praktis yang memungkinkan industri dan tempat kerja menjadi pendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di kawasan Asia. 

Manfaat program transisi dari sekolah ke dunia kerja

Program transisi yang paling bermanfaat menurut survei adalah program pemagangan. Sekitar 92 persen dari kaum muda yang disurvei ini mengungkapkan bahwa program pemagangan telah memberi mereka keterampilan yang diperlukan dan pengalaman kerja nyata yang akan memperlancar transisi mereka dari sekolah ke dunia kerja dan memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Program pemagangan berbasis industri
“Saya baru saja menyelesaikan masa magang di perusahaan kontraktor. Program magang telah memberi pengalaman kerja yang membantu saya mendapatkan pekerjaan,” kisah salah seorang responden, Abiel Kristianto yang kini menjadi arsitek yunior.

Manfaat program pemagangan telah membuat mayoritas responden (97,9%) ingin berpartisipasi dalam program ini jika diberikan kesempatan. Namun, survei ini juga mengungkapkan bahwa kaum muda masih membutuhkan dukungan dan akses dari sekolah untuk berpartisipasi dalam program pemagangan.

Program pemagangan benar-benar bermanfaat karena memberi saya keterampilan yang dibutuhkan dan pengalaman kerja yang nyata; karenanya membantu saya menemukan pekerjaan yang layak di industri perhotelan."

Rosyanti Lestari
Hanya 35 persen peserta yang menunjukkan inisiatif sendiri untuk berpartisipasi dalam program pemagangan. Salah satunya adalah Rosyanti Lestari. Ketika ia menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan setelah lulus dari jurusan pemasaran sekolah kejuruan, dia berinisiatif bergabung dengan program pemagangan di Hotel Bumi Wiyata, sebuah program pemagangan percontohan yang dilakukan oleh ILO dan industri perhotelan.

“Program pemagangan benar-benar bermanfaat karena memberi saya keterampilan yang dibutuhkan dan pengalaman kerja yang nyata; karenanya membantu saya menemukan pekerjaan yang layak di industri perhotelan,” ungkap Rosyanti yang telah mendapatkan pekerjaan di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.

Inisiatif serupa juga diambil oleh Dio. Selama magang, ia belajar keterampilan yang berkaitan dengan profesi yang ingin ia geluti dalam jurnalisme. “Selama magang saya belajar keterampilan yang tidak pernah diajarkan di sekolah."

Selain pemagangan, manfaat lain dari program transisi yang diidentifikasi termasuk seminar bersama dengan industri, kunjungan ke industri, guru/dosen dari industri, pengenalan profesi dan sebagainya. Satrio Utomo, lulusan sekolah kejuruan, menjadi salah satu siswa yang mendapat manfaat dari program transisi ini.

“Saat kunjungan ke industri dengan sekolah, kami dijelaskan tentang keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk berbagai bidang pekerjaan. Ini benar-benar membuka mata saya tentang keterampilan yang dibutuhkan dan kondisi tempat kerja yang berbeda dari apa yang kita pelajari di kelas, ” tukasnya.

Keterlibatan industri yang lebih besar dalam pengembangan keterampilan

Pelatihan berbasis industri di salah satu sekolah kejuruan
Keterlibatan industri dalam sistem pendidikan vokasi menjadi kunci untuk mengurangi kesenjangan dan ketidaksesuaian keterampilan. Tauvik Muhamad, manajer program ILO untuk pengembangan keterampilan, menekankan pentingnya kemitraan antara pendidikan dan pelatihan vokasi dengan industri.

Melalui program transisi, seperti program pemagangan, perusahaan dapat memperoleh pekerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri. Karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan harus menyosialisasikan program ini secara luas."

Hariyadi Sukamdani, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
“Kolaborasi lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi dan industri harus dibangun dengan melibatkan industri dalam pengembangan kurikulum, program bimbingan dan pengembangan keterampilan melalui program transisi seperti pemagangan,” kata Tauvik Muhamad, manajer proyek ILO untuk pengembangan keterampilan.

Sementara menurut Hariyadi Sukamdani, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), industri dapat mengambil keuntungan dari kemitraan dengan lembaga pendidikan. “Melalui program transisi, seperti program pemagangan, perusahaan dapat memperoleh pekerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri. Karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan harus menyosialisasikan program ini secara luas,” katanya.

Sepakat dengan hal ini, Lispiyamitni, Kepala HRD PT Jotun Indonesia yang juga Kepala Sekolah Kejuruan Industri di Cikarang, Jawa Barat, menegaskan bahwa program transisi sekolah ke dunia kerja dapat mempersiapkan kemampuan lulusan lembaga pendidikan vokasi secara lebih baik untuk bekal memasuki dunia kerja. “Melalui program transisi, siswa belajar bagaimana melakukan pekerjaan yang sebenarnya dan mengalami kondisi tempat kerja yang nyata sebelum mereka memasuki dunia kerja,” tegasnya.

Proses pembelajaran di sekolah kejuruan industri di Cikarang, Jawa Barat
Selain program transisi, kaum muda yang disurvei juga mengungkapkan harapan tentang pekerjaan layak yang ingin mereka dapatkan. “Selain gaji yang bagus, saya berharap bisa mendapatkan bimbingan dan lingkungan kerja yang layak,” ujar Melati Putri, lulusan sekolah menengah. Indira Priyanka, seorang siswa sekolah menengah, berharap,"Saya dapat terus mengembangkan dan menerapkan bakat dan kemampuan saya di tempat kerja", sementara Satrio juga berharap,"Saya bisa mendapatkan pengalaman dan membangun jaringan sehingga saya dapat menciptakan lapangan kerja untuk orang lain."