Our impact, their voices

"Kami juga punya mimpi": Perjalanan kewirausahaan transgender

Transgender memiliki hak yang sama untuk bekerja seperti laiknya pekerja lain. Tiga pewirausaha berbagi perjalanan mereka yang penuh gairah, harapan dan tekad demi mewujudkan peluang kerja yang sama melalui kewirausahaan.

Article | Jakarta and Bandung, Indonesia | 18 November 2019
Semuanya berawal dari hasrat. Hasrat terhadap fesyen telah menginspirasi Hartoyo, 43 tahun, untuk membangun bisnis pakaian jadi menggunakan kain batik dan tenun tradisional Indonesia bernama Srikendes. Kecintaan terhadap riasan dan kecantikan telah memotivasi Marsya, 29 tahun, untuk memulai bisnis penyelenggara pernikahan dengan mitra bisnisnya; sementara hasrat bisnis juga telah mendorong Setya, 45 tahun, untuk memulai usaha katering.

 
Perjalanan kewirausahaan mereka didokumentasikan ILO dalam film dokumenter pendek berjudul "Kami Juga Punya Mimpi", diluncurkan di tiga kota di Indonesia (Jakarta, Bandung dan Yogyakarta) pada Oktober hingga November 2019. Mereka pun merupakan bagian dari program pengembangan kewirausahaan ILO yang telah dilakukan sejak 2017 melalui serangkaian pelatihan bisnis diawali dengan pelatihan manajemen keuangan pada 2017, diikuti pelatihan Memulai Usaha Anda (SYB) pada 2018 dan pendampingan bisnis pada 2019.

Srikendes didirikan pada 2015 karena kesukaan saya terhadap baju sejak di sekolah menengah dan kecintaan saya pada budaya Indonesia. Saya suka membuat sketsa dan desain dengan cara memadukan berbagai batik tradisional dan kain tenun. Namun, bisnis sosial ini juga untuk mendukung komunitas, termasuk orang yang hidup dengan HIV dan perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga."

Hartoyo
Film dokumenter pendek dan program kewirausahaan ini adalah bagian dari kampanye ILO untuk mempromosikan peluang kerja yang sama melalui kewirausahaan bagi transgender. Kampanye ini merupakan tanggapan terhadap laporan ILO tahun 2016 yang mengungkapkan bahwa hanya 10 persen orang transgender Indonesia yang bekerja di sektor ekonomi formal.

“Srikendes didirikan pada 2015 karena kesukaan saya terhadap baju sejak di sekolah menengah dan kecintaan saya pada budaya Indonesia. Saya suka membuat sketsa dan desain dengan cara memadukan berbagai batik tradisional dan kain tenun. Namun, bisnis sosial ini juga untuk mendukung komunitas, termasuk orang yang hidup dengan HIV dan perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga,” ungkap Hartoyo.

Marsya dengan salah seorang kliennya
Begitu pula dengan Marsya yang telah menyukai tata rias dan kecantikan sejak masih kecil. “Ketika saya kuliah dan saya masih laki-laki, saya suka merias wajah teman-teman saya. Mereka menyukainya dan mendorong saya untuk mengejar karier sebagai penata rias,” kisah Marsya, seraya menambahkan bahwa ia baru saja memulai bisnis penyelenggara pernikahan dengan mitra bisnis di Bandung, Jawa Barat.

Setya memiliki cerita yang berbeda. Dia telah mencoba berbagai jenis usaha; tapi semuanya gagal. Kini ia berupaya membangun usaha katering. “Bisnis katering adalah bisnis yang sedang berkembang dan hanya membutuhkan modal kecil. Saya hanya perlu memperbarui menu secara teratur untuk menarik lebih banyak pelanggan,” katanya.

Pendampingan usaha untuk pengelolaan usaha yang profesional

Mereka bertiga mengakui bahwa sebelum ikut serta dalam serangkaian pelatihan dan pendampingan bisnis ILO, mereka hanya mengelola bisnis mereka secara tradisional tanpa perencanaan, pengelolaan keuangan, atau program pemasaran.

Hartoyo dengan salah seorang pelanggannya
“Pelatihan bisnis terbaru ILO dengan seorang pelatih bisnis profesional dari Action Coach telah membuka mata mereka. Pelatihan bisnis sangat membantu kami dalam menganalisis kebutuhan, rencana bisnis, target dan ekspansi kami di masa depan,” jelas Hartoyo.

ILO telah melakukan pendampingan bisnis selama tiga bulan dari bulan Agustus hingga Oktober 2019, bekerja sama dengan Herman Susanto, seorang pelatih bisnis profesional dari Action Coach. Pendampingan bisnis terdiri dari serangkaian sesi bisnis dan pendampingan yang mencakup isu-isu bisnis utama, antara lain: sikap bisnis, strategi pemasaran, identifikasi pasar dan pelanggan, serta manajemen keuangan bisnis.

Untuk membangun bisnis yang baik, kita perlu memiliki strategi pemasaran, mengidentifikasi pasar dan mengembangkan rencana manajemen usaha. Ini benar-benar membuka mata saya. Tanpa strategi bisnis, kami tidak dapat mengembangkan usaha penyelenggara pernikahan ini karena tidah tahu cara membelanjakan atau berinvestasi secara strategis."

Marsya
Dalam salah satu sesi pendampingan bisnis, Hartoyo berbagi kesadaran barunya bahwa ia dulu kerap membeli banyak kain baru dan merancang berbagai pakaian baru tanpa mencatat bahan baku yang ada. "Ketimbang membeli kain baru, saya belajar untuk meningkatkan manajemen penyimpanan kami. Jadi tidak ada lagi tumpukan kain yang tidak terpakai," tambahnya.

“Saya baru menyadari bahwa ini bukan hanya tentang modal. Untuk membangun bisnis yang baik, kita perlu memiliki strategi pemasaran, mengidentifikasi pasar dan mengembangkan rencana manajemen usaha. Ini benar-benar membuka mata saya. Tanpa strategi bisnis, kami tidak dapat mengembangkan usaha penyelenggara pernikahan ini karena tidah tahu cara membelanjakan atau berinvestasi secara strategis,” ungkap Marsya.

Sesi tentang pentingnya manajemen waktu telah membuka mata Setya terutama dalam membagi waktu antara usaha dan pekerjaan. “Saya merasa tertohok karena saya masih lebih memprioritaskan pekerjaan dibandingkan usaha. Rasa kepemilikan terhadap usaha adalah kuncinya,” ujar Setya dengan tersenyum malu.

Harapan untuk masa depan

Setya mengecek menu-menu untuk bisnis kateringnya
Untuk kedepannya, Hartoyo ingin terus mengembangkan usaha dengan pengetahuan dan keterampilan bisnis yang ia pelajari selama pelatihan kewirausahaan dan pendampingan bisnis. "Saya ingin terus mengembangkan usaha demi mendukung komunitas saya," tegasnya. Kini Srikendes memiliki pendapatan kotor sebesar Rp. 75 juta per bulan.

Sebuah kenyataan yang menyedihkan bahwa masih sangat sulit bagi transgender untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Jadi, kewirausahaan adalah jawabannya tetapi kita harus melakukannya dengan benar."

Setya
Tidak adanya stigma dan diskriminasi terhadap transgender adalah harapan Marsya untuk masa depan. “Jangan menilai orang dari penampilan mereka. Saya berharap masyarakat dapat menerima dan mau mendukung usaha kami karena kami juga harus membantu menghidupi keluarga kami."

Setya sekarang dengan bersemangat mempromosikan kewirausahaan kepada komunitas transgender laki-laki. “Sebuah kenyataan yang menyedihkan bahwa masih sangat sulit bagi transgender untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Jadi, kewirausahaan adalah jawabannya tetapi kita harus melakukannya dengan benar,” pungkasnya. (*)