Bangkit dari bencana menjadi seorang perempuan pengusaha

Di warung kecilnya, Susiyanti Br Sembiring sibuk menyeduh kopi hitam panas bagi para pelanggannya. Berlokasi di penampungan untuk pengungsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, warung kecilnya juga menyediakan kebutuhan sehari-hari, minuman dan sayur-sayuran. Dari warungnya, ia sekarang dapat membantu keluarganya dan tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah.

Feature | 15 February 2016
Susiyanti Br Sembiring di warung kecilnya di kawasan Gunung Sinabung
Di warung kecilnya, Susiyanti Br Sembiring sibuk menyeduh kopi hitam panas bagi para pelanggannya. Berlokasi di penampungan untuk pengungsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, warung kecilnya juga menyediakan kebutuhan sehari-hari, minuman dan sayur-sayuran. Dari warungnya, ia sekarang dapat membantu keluarganya dan tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah.

Ia bahkan dapat menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung. Sekarang Susiyanti memiliki rekening tabungan di Koperasi Kredit Sondang Nauli dengan jumlah tabungan wajib tiap bulan minimal Rp. 30,000. “Saya bahkan dapat menabung untuk pendidikan ketiga anak saya. Setiap bulannya, saya juga menabung Rp. 300,000 untuk membantu pendidikan mereka di masa mendatang, “ ia berkata dengan bangga.

Letusan gunung berapi telah membuat saya kehilangan usaha dan lahan; namun letusan tersebut juga telah memberikan peluang untuk belajar mengenai bisnis dan keuangan dan membuat saya menjadi seorang wirausaha yang lebih baik."

Susiyanti Br Sembiring
Susiyanti merupakan salah seorang dari 15.000 orang di Kabupaten Karo yang harus meninggalkan desanya karena letusan Gunung Sinabung pada 2013. Hingga saat ini, Gunung Sinabung terus mengalami aktivitas vulkanik yang tinggi. “Letusan telah menghancurkan seluruh desa saya, Desa Gurukinayan. Saya kehilangan usaha saya dan lahan pertanian seluas 8 hektar yang menjadi sumber utama penghasilan keluarga,” ujarnya, mengingat hari di mana ia dan keluarganya harus meninggalkan desa mereka.

Letusan tersebut menyebabkan keluarganya harus tinggal di tenda pengungsi di Kabanjahe, ibukota Kabupaten karo. Selama di tenda pengungsian, Susiyanti bekerja sebagai pekerja kebun untuk membantu keluarganya dan suaminya juga bekerja sebagai supir angkutan umum daerah. Sebagai pekerja kebun, ia dibayar Rp. 60,000 per hari, namun ia tidak bekerja setiap hari dan hanya bekerja apabila diminta.

Ketika mengetahui keberadaan program ILO pada 2015 guna membantu komunitas-komunitas setempat seperti dirinya untuk memperoleh kembali mata pencaharian mereka, ia langsung mendaftarkan diri untuk bergabung dengan pelatihan ILO mengenai Pendidikan Keuangan dan Kewirausahaan dengan menggunakan modul GET Ahead. “Sekarang saya tahu bagaimana melakukan pencatatan keuangan, menentukan prioritas pengeluaran dan berhati-hati dalam membelanjakan uang, khususnya dalam kondisi sulit seperti ini,” ujarnya.

Pada Juli 2015, keluarga Susiyanti menerima bantuan pemerintah untuk perumahan dan penyewaan lahan pertanian dengan jumlah total Rp. 3,800,000. Setelah menerima bantuan tersebut, ia pindah ke penampungan sementara yang disediakan oleh LSM lokal bernama Jenggala dalam radius 6 km dari Gunung Sinabung dan dekat dengan desa Gurukinayan.

Berdasarkan apa yang ia pelajari dari pelatihan keuangan, ia menggunakan dana tersebut tidak hanya untuk menyewa lahan pertanian, namun juga memulai usaha kecilnya (warung kecil) di daerah penampungan. Sekarang ia mampu menghitung laba dari pengeluarannya tiap minggu/bulan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Sebelumnya, saya hanya bisa membeli dan menjual. Saya tidak tahu persis seberapa besar keuntungan saya. Namun, sekarang dari tiap pengeluaran tiap minggu atau bulannya, saya tahu persis berapa banyak yang saya peroleh dari tiap barang yang terjual,” katanya.

Sejak memulai warung kecilnya, ia menerima keuntungan harian sekitar Rp. 150,000. Ia juga merasa lebih yakin akan masa depannya, terutama untuk keluarga dan ketiga anaknya. “Letusan gunung berapi telah membuat saya kehilangan usaha dan lahan; namun letusan tersebut juga telah memberikan peluang untuk belajar mengenai bisnis dan keuangan dan membuat saya menjadi seorang wirausaha yang lebih baik,” ia berkata, seraya tersenyum.