Informasi Pasar Kerja Asia-Pasifik

Bagaimana masa depan industri garmen Asia pasca-COVID?

Krisis COVID-19 telah memukul industri garmen global dan dampaknya sangat terasa di Asia, di mana sebagian industri ini berada. Sebuah dokumen singkat dari Organisasi Perburuhan Internasional melihat bagaimana masa depan sektor garmen Asia, pandemi membentuk tren industri dan peluang untuk masa depan yang lebih tangguh, berkelanjutan dan berpusat pada manusia.

Analysis | 04 August 2021
(c) ILO/M. Crozet
Industri garmen dapat menikmati masa depan yang lebih cerah bila dapat bangkit dari pandemi COVID-19 dengan landasan dialog sosial dan perlindungan pekerja yang lebih kuat serta semakin membaiknya investasi pada keterampilan, produktivitas dan infrastruktur menurut risalah kajian singkat baru yang dikeluarkan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Industri garmen pasca-COVID-19 di Asia merefleksikan bagaimana pandemi membentuk tren global yang menentukan pertumbuhan dan keberlanjutan di dalam sektor ini. Juga mengkaji bagaimana keputusan yang diambil oleh para pemangku kepentingan seperti jenama global dan pengecer saat krisis memiliki konsekuensi yang luas bagi para pekerja dan rantai pasok serta bagaimana tindakan yang mereka lakukan penting dalam menentukan bentuk dan arahan industri beberapa tahun ke depan.

Industri garmen Asia terpukul sangat berat oleh pandemi COVID-19. Para pembuat kebijakan, pemberi kerja, jenama dan konsumen harus membuat pilihan-pilihan yang tepat sehingga industri ini bisa lebih bertahan, berkelanjutan dan berpusat pada manusia agar industri ini dapat bertumbuh baik."

Chihoko Asada-Miyakawa, Asisten Direktur Jenderal dan Direktur Regional untuk ILO Asia dan Pasifik
Di antara beberapa tren besar yang diharapkan dapat membentuk kembali industri ini pascapandemi adalah berlanjutnya konsentrasi pasar, konsolidasi antar pembeli dan pemasok serta beralihnya pencarian sumber daya dari dataran utama Tiongkok. Tingkat otomasi juga diharapkan terus bertumbuh kendati perlahan.

Rekonfigurasi industri juga mungkin akan berdampak pada pekerja. Kondisi manufaktur akan lebih didominasi oleh manufaktur global yang lebih besar dan memiliki modal yang lebih baik yang menerima pesanan besar dari jenama global yang dominan. Ketika kepatuhan sosial dan lingkungan menjadi sebuah karakteristik dari kemitraan pembeli-pemasok yang ‘strategis’ ini, peluang pekerjaan yang layak yang meluas semakin mungkin terlaksana dan terwujud. Namun, manfaat-manfaat ini mungkin tidak dapat dijamin secara luas karena industri dengan kecepatan ganda mungkin semakin menonjol di masa depan.

Perubahan iklim membayangi masa depan Asia sebagai sebuah tujuan pencarian bahan baku jangka panjang yang berkelanjutan. Meningkatnya permukaan laut dan kejadian cuaca ekstrim akan berdampak pada pemasok dan pabrik yang sebagian besar merupakan pusat produksi pakaian jadi yang diperkirakan akan terendam pada 2030. Stress akibat panas yang disebabkan oleh semakin tingginya suhu semakin membahayakan keselamatan, kesejahteraan dan produktivitas pekerja.

Risalah kajian ini menyoroti kesenjangan gender yang sudah lama menganga di industri ini dan beban disproporsional terhadap pekerja perempuan yang harus mereka tanggung selama pandemi. Tanpa intervensi kebijakan nyata pada masa pemulihan, banyak perempuan yang akan terus mengalami diskriminasi di tempat kerja, sehingga mungkin kehilangan peluang pekerjaan berketerampilan rendah di sektor ini akibat kontraksi yang terjadi.

Yang juga penting untuk masa depan industri ini di Asia adalah ranah tata kelola ketenagakerjaan baik di tingkat nasional dan di seluruh rantai pasok global. Memperluas upaya legislatif untuk mengatur rantai pasok global, terutama dari negara-negara pemasok, memperkenalkan peraturan perundangan mengenai uji tuntas lingkungan dan hak asasi manusia yang sifatnya wajib, serta semakin meningkatnya perhatian akan aturan mengenai ketenagakerjaan pada perjanjian perdagangan akan semakin berpengaruh dalam hal ini.

Skenario masa depan

Dengan menentukan perkiraan industri pra-pandemi dan memprediksi perubahan-perubahan yang mungkin muncul, risalah kajian singkat ini menguraikan tiga skenario masa depan yang mungkin tercapai disebut sebagai repeat (ulangi), regain (dapatkan kembali) dan renegotiate (renegosiasi).

Skenario ulangi memprediksi beberapa perubahan-perubahan atau reformasi struktural terhadap industri pasca-COVID-19. Karena beberapa perusahaan yang besar dan lebih beragam muncul kembali dengan lebih kuat dan lebih tangguh dari konsolidasi industri pascakrisis, beberapa pekerja akan merasakan manfaat dari keterampilan, peluang, upah dan kondisi kerja yang lebih baik. Namun ini semua mungkin masih menjadi minoritas karena banyak pekerja—dan terutama perempuan—mungkin berpindah atau terhambat pada pekerjaan berkualitas rendah yang sangat rentan mengalami defisit pekerjaan yang layak.

Skenario kedua dapatkan kembali, menginginkan perubahan yang cepat terhadap struktur industri dan kebiasaan mencari bahan baku namun perubahan-perubahan tata kelola ini didorong oleh faktor eksternal dan sedapat mungkin diakomodasi. Skenario ini memprediksi perbedaan hasil kerja yang mencolok bagi para pekerja—dengan hanya sedikit yang mendapatkan keuntungan dari perbaikan dalam hal tata kelola ketenagakerjaan pada perusahaan yang besar, formal dan sebagian besar pekerja mengalami risiko pelanggaran hak kerja atau kehilangan pekerjaan karena ada peningkatan teknologi.

Skenario terakhir, renegosiasi, lebih optimis dan transformatif. Skenario ini memperkirakan reformasi rantai pasok luas yang menempatkan keberlanjutan sosial dan lingkungan sebagai inti dari model bisnis pascapandemi. ILO memandang hal ini sebagai satu-satunya cara untuk membangun masa depan yang berpusat pada manusia untuk industri ini, yang berkelanjutan secara jangka panjang dan memberikan manfaat luas yang adil bagi semua pelaku di rantai pasok. Namun sampai sejauh mana industri menunjukkan kondisi kerja yang membaik, misalnya di luar dari manufaktur yang terbesar dan terbaik, akan sangat bergantung pada perbaikan tata kelola dan hadirnya serikat pekerja independen yang dapat merundingkan secara efektif perbaikan upah dan kondisi kerja.

RIsalah kajian singkat ini dibuat bersama-sama antara Better Work, unit Analisis Ekonomi dan Sosial Regional ILO, serta proyek Pekerjaan Layak dalam Rantai Pasok Garmen Asia ILO yang didanai oleh pemerintah Swedia dan New Conversations Project at the School of Industrial and Labor Relations at Cornell University. Risalah kajian ini dikembangkan dari penelitian meluas yang dipaparkan dalam Better Work Discussion Paper yang ditulis oleh Jason Judd dan J. Lowell Jackson, dan merupakan pelengkap dari The Supply Chain Ripple Effect: How COVID-19 is Affecting Garment Workers and Factories in Asia and the Pacific.