Laporan ILO-ADB: Menanggulangi krisis ketenagakerjaan muda akibat COVID-19 di Asia dan Pasifik

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan gangguan besar terhadap perekonomian dan pasar kerja yang berdampak terhadap ketenagakerjaan muda di Asia dan Pasifik, demikian laporan ILO-ADB.

Press release | 18 August 2020
Bangkok (Berita ILO) – Prospek ketenagakerjaan muda di Asia dan Pasifik mengalami kendala besar akibat pandemi virus korona (COVID-19). Kaum muda (usia 15–24 tahun) akan terkena imbas yang lebih besar dibandingkan orang dewasa (25 tahun ke atas) dalam kondisi krisis dan juga lebih berisiko menghadapi dampak ekonomi jangka panjang dan biaya sosial, demikian laporan ILO-ADB terbaru.

Menanggulangi krisis ketenagakerjaan muda akibat COVID-19 di Asia dan Pasifik Pasifik’ oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Bank Pembangunan Asia (ADB), menyerukan pemerintah di kawasan ini untuk mengadopsi langkah-langkah mendesak, berskala besar dan tersasar untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi kaum muda, mempertahankan pendidikan dan pelatihan serta meminimalisir kerentanan di masa depan bagi lebih dari 660 juta kaum muda di kawasan ini.

Bahkan sebelum krisis COVID-19, kaum muda di Asia dan Pasifik menghadapi tantangan di pasar kerja, yang mengakibatkan tingkat pengangguran yang tinggi dan besarnya kaum muda yang terkucilkan dari sekolan dan pekerjaan. Pada 2019, tingkat pengangguran muda secara regional sekitar 13,8 persen dibandingkan 3,0 persen dewasa, dan lebih dari 160 juta kaum muda (24 persen dari populasi) tidak berada dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan (NEET). Empat dari lima pekerja muda di kawasan ini terlibat dalam pekerjaan informal – lebih besar dibandingkan orang dewasa – dan satu dari empat pekerja muda hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrim atau sedang.

“Tantangan pra krisis bagi kaum muda saat ini semakin membesar sejak terjadinya COVID-19. Tanpa perhatian yang memadai, kekhawatiran kami adalah krisis ini menciptakan ‘lockdown generation’ yang dapat terus merasakan dampak krisis ini di tahun-tahun mendatang,” ujar Sara Elder, penulis utama laporan ini dan Kepala Unit Analisis Ekonomi dan Sosial Regional ILO.

Laporan ini memaparkan tiga hal yang mempengaruhi kaum muda dalam krisis saat ini: (1) gangguan pekerjaan dalam bentuk pengurangan jam kerja dan pendapatan dan kehilangan pekerjaan bagi pekerja yang dibayar dan pekerja mandiri; (2) ganguan dalam pendidikan dan pelatihan mereka; dan (3) kesulitan dalam transisi dari sekolah ke dunia kerja serta perpindahan antara pekerjaan dalam kondisi resesi ini.

Tingkat pengangguran muda di kawasan ini meningkat tajam di kurtal pertama tahun 2020 dari kuartal sebelumnya tahun 2019. Dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2019, tingkat pengangguran muda meningkat di enam dari sembilan negara dengan ketersediaan data: Australia, Indonesia, Jepang, Malaysia dan Vietnam, serta Hongkong, China, yang memperlihatkan peningkatan terbesar sebanyak 3 poin persentase. Di semua perekonomian ini, tingkat kaum muda meningkat lebih besar dibandingkan dewasa.
 

Gangguan terhadap ketenagakerjaan muda di sektor-sektor yang paling terdampak

Antara 10 dan 15 juta pekerjaan muda (setara dengan pekerjaan penuh waktu) kemungkinan hilang di sejumlah 13 negara Asia dan Pasifik pada 2020, demikian proyeksi laporan. Di Kamboja, Fiji, Nepal, Pakistan, Filipina dan Thailand, tingkat pengangguran muda diharapkan mencapai dua kali lipat dari perkiraan tahun 2019. Menurut laporan ini, salah satu alasan kaum muda menghadapi gangguan pasar kerja yang lebih besar dibandingkan dewasa adalah hampir setengah dari mereka (lebih dari 100 juta) bekerja di empat sektor yang paling terkena dampak krisis ini: perdagangan grosir dan eceran dan perbaikan; manufaktur; usaha persewaan dan jasa; dan jasa akomodasi dan makanan. Perempuan muda banyak terwakili di tiga dari empat sektor yang paling terdampak, khususnya jasa akomodasi dan makanan.

Akibat terhambatnya pendidikan dan pelatihan, krisis COVID-19 akan mempengaruhi transisi kaum muda menuju dan dalam pasar kerja dan akan memberikan dampak yang membekas, seperti yang terlihat pada krisis sebelumnya, demikian laporan.

Menanggulangi krisis ketenagakerjaan muda di Asia dan Pasifik

Laporan merekomendasikan respons yang mendesak, berskala besar dan tersasar, termasuk subsidi upah yang menyasarkan kaum muda dan program ketenagakerjaan publik serta langkah-langkah untuk mengurangi imbasnya bagi siswa terhadap gangguan pendidikan dan pelatihan mereka. Pemerintah-pemerintah harus mempertimbangkan untuk menyeimbangkan (i) inklusi kaum muda dalam pasar kerja yang lebih besar dan pemulihan ekonomi, dengan (ii) intervensi yang menyasarkan kaum muda untuk memaksimalkan alokasi sumber daya.
“Mengutamakan ketenagakerjaan muda dalam proses pemulihan COVID-19 akan meningkatkan prospek masa depan Asia dan Pasifik untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, transisi demografi dan kestabilan sosial,” ungkap Chris Morris, Kepala Pusat Sipil dan LSM ADB yang juga memimpin prakarsa Kaum Muda untuk Asia ADB.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Jiraporn Wongpaithoon
Staf Komunikasi
Kantor Regional ILO untuk Asia dan Pasifik
Jiraporn@ilo.org