Ketenagakerjaan muda

Berdayakan kaum muda Indonesia dan pengungsi muda melalui perusahaan sosial

Sebagai bagian dari keterampilan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi kaum muda Indonesia dan pengungsi muda, ILO dan UNHCR memperkenalkan manfaat dari usaha sosial berbasis masyarakat, yang didukung oleh empat pengusaha sosial.

News | Jakarta, Indonesia | 18 November 2019
Empat perusahaan sosial berbagi pengalaman usaha mereka: (Dari kiri ke kanan) Ben Dobbs, Precious Plastic, Mardea Mumpuni, Precious One, M. Adhika Prakoso, Kopitul dan Hartoyo, Srikendes
Sekitar 50 orang anak muda Indonesia dan pengungsi muda dengan antusias bergantian mengunjungi empat meja berbeda yang diatur di setiap sudut Aula C Universitas Atma Jaya, Jakarta. Di masing-masing meja, mereka bertemu dengan empat wirausahawan sosial untuk mengeksplorasi dan belajar dari pengalaman nyata mereka tentang cara memulai bisnis, mengembangkan strategi pemasaran yang baik, mengelola bisnis dan mempertahankan serta mengembangkan bisnis mereka.

Ini benar-benar kesempatan baik bagi kami untuk berinteraksi dengan komunitas kaum muda dan pengungsi Indonesia yang lebih luas. Kita dapat menciptakan peluang bisnis baru yang menguntungkan kita semua."

Hartoyo, Srikendes
Empat perusahaan sosial yang berpartisipasi meliputi: Srikendes (bisnis pakaian untuk orang dengan HIV, transgender dan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga), Precious One (perusahaan sosial untuk produk-produk yang dibuat para penyandang disabilitas), Precious Plastic (program daur ulang plastik untuk lingkungan yang lebih baik) dan Kopitul (bisnis kedai kopi untuk mempromosikan keterlibatan interaktif antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas).

Lokakarya bisnis interaktif ini berjudul "Pemberdayaan Komunitas melalui Perusahaan Sosial" merupakan bagian dari program pelatihan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi kaum Indonesia dan pengungsi muda sejak 2018, yang diselenggarakan bersama oleh ILO dan Komisaris Tinggi PBB untuk Badan Pengungsi (UNHCR), dengan dukungan dari Universitas Atma Jaya dan Dompet Dhuafa. Program ini bertujuan untuk mendukung kaum muda Indonesia dan pengungsi muda dengan keterampilan mata pencaharian yang akan meningkatkan kemandirian dan mata pencaharian mereka.

Sesi pembelajaran interaktif: Para peserta mengunjungi meja Precious One

ILO dan UNCHR percaya bahwa pendekatan perusahaan sosial akan menciptakan dampak positif bagi Indonesia dan akan memberikan dasar pemberdayaan ekonomi bagi mereka."

Tendy Gunawan, staf program ILO untuk pengembangan usaha
“Melalui sesi ini, kami bermaksud mempromosikan usaha sosial berbasis komunitas sebagai cara untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi masyarakat yang terpinggirkan dari pekerjaan dan bisnis. ILO dan UNCHR percaya bahwa pendekatan perusahaan sosial akan menciptakan dampak positif bagi Indonesia dan akan memberikan dasar pemberdayaan ekonomi bagi mereka,” ungkap Tendy Gunawan, staf program ILO untuk pengembangan usaha.

Hingga saat ini, Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 14.000 pengungsi asing, termasuk generasi muda mereka.

Memperkenalkan manfaat dari perusahaan sosial, Stephanie Arifin, Pendiri Platform Usaha Sosial (PLUS), menjelaskan bahwa perusahaan sosial adalah bisnis yang bertujuan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. “Sama seperti bisnis tradisional, perusahaan sosial bertujuan untuk menghasilkan keuntungan tetapi mereka menginvestasikan kembali dan menyumbangkannya demi menciptakan perubahan sosial yang positif di masyarakat,” ia menekankan pentingnya perusahaan sosial.

Para penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan yang sama dalam mengakses pekerjaan dan bisnis. Karena itu, kami berharap dapat membangun bisnis yang baik yang memberikan manfaat bagi masyarakat."

M. Adhika Prakoso, pendiri Kopitul
Karenanya, ia mendorong para kaum muda yang berpartisipasi untuk memulai usaha sosial mereka sendiri dan agar dapat menjalin hubungan dengan perusahaan sosial lainnya. “Platform kami telah mengembangkan kemitraan dengan sekitar 800 perusahaan sosial. Kami juga menyediakan perangkat untuk mengembangkan usaha sosial yang berkelanjutan karena visi kami adalah menjadikan semua bisnis sebagai perusahaan sosial,” ujar Stephanie.

“Ini benar-benar kesempatan baik bagi kami untuk berinteraksi dengan komunitas kaum muda dan pengungsi Indonesia yang lebih luas. Kita dapat menciptakan peluang bisnis baru yang menguntungkan kita semua,” kata Hartoyo, pendiri Srikendes.

Sementara itu, M. Adhika Prakoso, pendiri Kopitul, menyambut baik kesempatan untuk berbagi visi tentang interaksi yang lebih baik dengan para penyandang disabilitas dan non-disabilitas. “Para penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan yang sama dalam mengakses pekerjaan dan bisnis. Karena itu, kami berharap dapat membangun bisnis yang baik yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap dia melalui penerjemah bahasa isyaratnya.

Sesi interaktif dengan para peserta muda
Salah seorang peserta pengungsi muda mengatakan bahwa belajar dari para pengusaha sosial, ia berharap dapat membuka jejaring baru dan terlibat di dalam usaha sosial berbasis komunitas. “Saya sudah tinggal di sini selama enam tahun sejak usia 19 tahun. Saya berharap dapat menggunakan kemampuan saya dalam mendesain sebagai mata pencaharian bersama dengan wirausaha Indonesia,” katanya.