ILO berbagi pengalaman tentang alternatif mata pencarian hijau di Kalimantan Tengah

Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, merupakan tempat tinggal sistem ekologis unik yang mencakup hutan rawa gambut tropis. Namun, akibat degradasi tanah, masyarakat lokal di kawasan Eks Proyek Lahan Gambut (PLG) di Kalimantan Tengah telah melakukan kegiatan penambangan dan penebangan ilegal guna memperoleh penghasilan. Kegiatan-kegiatan ini, akibatnya, berdampak buruk pada kondisi dan lingkungan mereka melalui penebangan dan pengurangan hutan.

Press release | Palangkaraya, Central Kalimantan, Indonesia | 19 September 2013
PALANGKARAYA (Berita ILO): Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, merupakan tempat tinggal sistem ekologis unik yang mencakup hutan rawa gambut tropis. Namun, akibat degradasi tanah, masyarakat lokal di kawasan Eks Proyek Lahan Gambut (PLG) di Kalimantan Tengah telah melakukan kegiatan penambangan dan penebangan ilegal guna memperoleh penghasilan. Kegiatan-kegiatan ini, akibatnya, berdampak buruk pada kondisi dan lingkungan mereka melalui penebangan dan pengurangan hutan.
Tujuan utama dari Proyek GLACIER ILO ini adalah meningkatkan akses terhadap mata pencarian yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat melalui dukungan terhadap Rencana Induk REDD+ untuk Rehabilitasi dan Revitalisasi PLG. 


Sebagai bagian dari upaya REDD+ Pemerintah untuk pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, pelestarian dan rehabilitasi ekosistem, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) telah menjalankan proyek percontohan, Akses ke Mata Pencarian Hijau untuk Respons Lingkungan yang Inklusif di Kalimantan Tengah terhadap Perubahan Iklim (GLACIER), sejak Oktober 2012. Tujuan utama dari Proyek ini adalah meningkatkan akses terhadap mata pencarian yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat melalui dukungan terhadap Rencana Induk REDD+ untuk Rehabilitasi dan Revitalisasi PLG di lima desa percontohan: Desa Aruk, Lawang Kajang, Bereng Bengkel, Pilang dan Tumbang Nusa.

Berbagi pelajaran dan pengalaman dari Proyek GLACIER, ILO menyelenggarakan lokakarya teknis satu hari pada 19 September di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Lokakarya ini bertujuan untuk memperlihatkan dan berbagi pencapaian Proyek dan tantangan yang dihadapi. Lokakarya ini pun menyediakan forum berbagi pelajaran dan praktik terbaik Proyek guna memastikan pendekatan partisipatif berbasis komunitas dan pendekatan berbasis sumber daya lokal dalam konteks REDD+ dapat dilanjutkan dan direplikasi.

“Kegiatan-kegiatan ekonomi memberikan masyarakat mata pencarian dan juga berdampak pada lingkungan dan perubahan iklim – dan sebaliknya. Hal penting di sini adalah memastikan keberlanjutan ketenagakerjaan dalam jangka pendek, menengah dan panjang – yang sangat terkait dengan pengelolaan lingkungan. Karenanya, ILO berharap dapat terus melanjutkan program kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam merancang dan menerapkan prakarsa REDD+ di masa mendatang dengan lebih efektif dan efisien,” ujar Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia.

Hingga saat ini, Proyek GLACIER ILO telah menerapkan kegiatan hutan agro dan manajemen kebakaran sebagai investasi lingkungan dan untuk merehabilitasi tanah gambut yang sudah rusak. Selanjutnya, Proyek memberikan pelatihan mengenai perkebunan karet, teknik perikanan dan kewirausahaan yang mendukung Pengembangan Rantai Nilai Hijau di sektor karet dan perikanan.

Melengkapi kegiatan-kegiatan ini, Proyek pun meningkatkan akses atas fasilitas dan pasar sosio-ekonomi melalui pembangunan jalan, jembatan dan jembatan gantung. Pendekatan ILO karenanya memberikan “paket” kegiatan yang saling melengkapi guna memberikan komunitas mata pencarian yang berkelanjutan. Diperkirakan 10.000 hari kerja telah dihasilkan bagi masyarakat sebagai upaya memberikan penghasilan jangka pendek seraya memasikan pendekatan jangka panjang.

Lokakarya ini juga memperlihatkan pencapaian-pencapaian Proyek GLACIER ILO di tiga bidang: 1. Investasi infrastruktur lingkungan; 2. Peningkatan akses pedesaan; dan 3. Pengembangan rantai nilai hijau. Pencapaian tersebut berupa hasil dan dampak berikut ini bagi masyarakat setempat di lima desa percontohan:

Investasi infrastruktur lingkungan

  • 166,9 hektar tanah ditanami karet, tanaman buah-buahan dan pohon hutan;
  • 4.993 hari kerja dihasilkan; dan
  • 1.600 meter pencegah kebakaran dibangun.

Peningkatan akses pedesaan

  • 200 meter jembatan gantung di Tumbang Nusa;
  • 400 meter jalan sepeda motor dan jembatan kecil di Pilang;
  • 215 meter perbaikan jalan di Aruk dan 72 meter jalan di Lawang Kajang diselesaikan; dan
  • 4.743 hari kerja dihasilkan.

Pengembangan rantai nilai hijau

  • 25 tambak ikan dibangun di lima desa;
  • Serangkaian pelatihan kewirausahaan, perkebunan karet dan penambakan ikan; dan
  • Pembangunan kapasitas bagi para pejabat pemerintah terkait mengenai pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) dan pembangunan ekonomi lokal.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Yunirwan Gah
Koordinator Proyek Proyek GLACIER ILO di Palangkaraya
Tel.: +62380 820 766
Email