ILO – BPS keluarkan data nasional mengenai pekerja anak di Indonesia

Pasar kerja Indonesia ditandai dengan keberadaan pekerja anak; namun, hingga saat ini belum ada pengumpulan data secara komprehensif mengenai karakteristik kerja anak-anak berusia 5 – 17 tahun. Guna memenuhi kebutuhan mendesak akan perkiraan yang akurat mengenai data dan informasi tentang karakteristik sosio-ekonomi pekerja anak, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) akan meluncurkan dan menerbitkan laporan bertajuk “Pekerja Anak di Indonesia 2009” yang memuat temuan-temuan dari Survei Pekerja Anak Indonesia yang pertama pada Kamis, 11 Februari 2010, di Hotel Borobudur, Jakarta.

Press release | 09 February 2010

JAKARTA (Siaran pers bersama): Pasar kerja Indonesia ditandai dengan keberadaan pekerja anak; namun, hingga saat ini belum ada pengumpulan data secara komprehensif mengenai karakteristik kerja anak-anak berusia 5 – 17 tahun. Guna memenuhi kebutuhan mendesak akan perkiraan yang akurat mengenai data dan informasi tentang karakteristik sosio-ekonomi pekerja anak, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) akan meluncurkan dan menerbitkan laporan bertajuk “Pekerja Anak di Indonesia 2009” yang memuat temuan-temuan dari Survei Pekerja Anak Indonesia yang pertama pada Kamis, 11 Februari 2010, di Hotel Borobudur, Jakarta.

Pertama kalinya dilakukan, survey ini merupakan sub sampel dan terintegrasikan pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2009. Dilatarbelakangi hasil dari daftar pada Sakernas 2008, dari 248 kabupaten/kota terpilih, 760 blok sensus telah dipilih dengan menggunakan teknik sampel yang sama. Daftar pertanyaan, manual dan konsep dasar yang dipergunakan dalam survei ini mengadopsi rekomendasi ILO melalui Program Internasional Penghapusan Pekerjaan untuk Anak (ILO-IPEC). Istilah ‘pekerja anak’ yang dipergunakan dalam survei ini mencakup semua pekerja anak yang berusia 5 – 12 tahun tanpa memperhatikan jam kerja mereka, pekerja anak berusia 13 – 14 tahun yang bekerja lebih dari 15 jam per minggu dan pekerja anak usia 15 – 17 tahun yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu.

Kepala BPS, Rusman Heriawan, menjelaskan bahwa Survei Pekerja Anak ini tidak hanya menampilkan data pekerja anak, namun juga data-data berharga lainnya mengenai kelompok anak (5-17 tahun), seperti jumlah anak yang bekerja yang termasuk dalam kategorisasi pekerja anak, jumlah anak usia 5-17 tahun yang termasuk idle (tidak bersekolah dan juga tidak bekerja) serta karakteristik sosio-ekonomi para pekerja anak dan orang tua mereka.

“Data-data seperti ini tidak terdapat dalam survei-survei lainnya, termasuk Sakernas dan terlalu berharga untuk diabaikan para pengguna data. Saya berharap data ini dapat dipergunakan oleh seluruh pemangku kepentingan terkait dalam merancang program untuk memberikan perlindungan yang lebih baik pada hak dan kesejahteraan anak, khususnya terkait dengan upaya penghapusan pekerja anak. Melalui survei dan data mengenai anak yang bekerja dan pekerja anak, BPS merasa bangga dapat terlibat dalam penghapusan pekerja anak di Indonesia.”

Sementara itu, mengomentari survei ini, Pejabat Sementara ILO Jakarta Peter van Rooij mengatakan bahwa “Survei ini merupakan bukti kuat adanya kebutuhan akan data yang akurat mengenai pekerja anak. Survei ini memainkan peran penting dalam mengisi kebutuhan akan data yang dapat diandalkan dan kesenjangan pengetahuan mengenai pekerja anak di Indonesia.”

Ia pun menekankan bahwa temuan-temuan utama survey ini memberikan bukti jelas adanya sejumlah besar pekerja anak yang umumnya berpendidikan dan berketerampilan rendah. “Dengan data statistik yang akurat, pihak-pihak terkait dapat mengembangkan program dan kegiatan yang tepat untuk menanggulangi masalah pekerja anak. Ini tidak hanya dapat membantu anak-anak yang bersangkutan, tapi juga akan menjadi investasi masa depan yang efektif bagi perekonomian Indonesia.”

Temuan-temuan utama dari survei ini sebagai berikut:

1. Dari jumlah keseluruhan anak berusia 5-17, sekitar 58,8 juta, 4,05 juta atau 6,9 persen di antaranya termasuk dalam kategori anak yang bekerja. Dari jumlah keseluruhan anak yang bekerja, 1,76 juta atau 43,3 persen merupakan pekerja anak.

2. Dari jumlah keseluruhan pekerja anak berusia 5-17, 48,1 juta atau 81,8 persen bersekolah, 24,3 juta atau 41,2 persen terlibat dalam pekerjaan rumah, dan 6,7 juta atau 11,4 persen tergolong sebagai ‘idle’, yaitu tidak bersekolah, tidak membantu di rumah dan tidak bekerja.

3. Sekitar 50 persen pekerja anak bekerja sedikitnya 21 jam per minggu dan 25 percent sedikitnya 12 jam per minggu. Rata-rata, anak yang bekerja bekerja 25,7 jam per minggu, sementara mereka yang tergolong pekerja anak bekerja 35,1 jam per minggu. Sekitar 20,7 persen dari anak yang bekerja itu bekerja pada kondisi berbahaya, misalnya lebih dari 40 jam per minggu.

4. Anak yang bekerja umumnya masih bersekolah, bekerja tanpa dibayar sebagai anggota keluarga, serta terlibat dalam bidang pekerjaan pertanian, jasa dan manufaktur.

5. Jumlah dan karakteristik anak yang bekerja dan pekerja anak dibedakan antara jenis kelamin dan kelompok umur.

Proyek ILO-IPEC di Indonesia telah secara aktif memerangi pekerja anak di negara ini, khususnya bentuk-bentuk terburuknya, sejak 1992 melalui serangkaian program aksi yang dilakukan dengan jalinan kerjasama erat dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, instansi atau kementerian atau lembaga pemerintahan terkait lainnya, serikat pekerja/buruh, organisasi pengusaha, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, media massa dan kelompok masyarakat.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Arum Ratnawati
Kepala Penasihat Teknis Program Pekerja Anak ILO
Tel. +6221 3913112 ext. 122
Email

Abdul Hakim
Spesialis Monitoring dan Evaluasi Program Pekerja Anak ILO
Tel. +6221 3913112 ext. 127
Mobile: +62812 933 8959
Email

Gita Lingga
Media Officer
Tel. +6221 3913112 ext. 115
Mobile: +62815 884 5833
Email