Hari Migran Internasional: Mencari solusi atas beragam permasalahan buruh migran Indonesia

Sekitar 700.000 pekerja migran Indonesia pergi ke luar negeri setiap tahunnya untuk mencari penghasilan yang lebih baik di Timur Tengah, Asia Tenggara dan Asia Timur. Dari para pekerja migran, sekitar 80 persen merupakan perempuan yang bekerja sebagai pekerja domestik di luar negeri. Diperkirakan sekitar 2,7 juta pekerja migran Indonesia saat ini bekerja di luar negeri.

Press release | 17 December 2009

JAKARTA (Berita ILO): Sekitar 700.000 pekerja migran Indonesia pergi ke luar negeri setiap tahunnya untuk mencari penghasilan yang lebih baik di Timur Tengah, Asia Tenggara dan Asia Timur. Dari para pekerja migran, sekitar 80 persen merupakan perempuan yang bekerja sebagai pekerja domestik di luar negeri. Diperkirakan sekitar 2,7 juta pekerja migran Indonesia saat ini bekerja di luar negeri.

Namun, tidak tersedia data mengenai jumlah pekerja migran yang berangkat melalui jalur tidak resmi, namun jumlah diperkirakan melampaui jumlah pekerja migran yang melalui jalur resmi. Kendati pekerja migran Indonesia merupakan penyumbang kedua terbesar terhadap pendapatan devisa Indonesia, mencapai hingga USD 2,4 milyar per tahunnya, banyak dari “para pahlawan devisa ini” yang mengalami eksploitasi dan penganiayaan di sepanjang proses migrasi, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Sejalan dengan peringatan Hari Migran Internasional, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) bersama dengan Migrant Care akan menggelar dialog publik bertajuk “Refleksi Hari Buruh Migran Sedunia 2009” pada Kamis, 17 Desember 2009, di Hotel Sari Pan Pacifik, Jakarta.

Acara ini akan dibuka secara resmi oleh Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care, dan Lotte Kejser, Kepala Penasihat Teknis Proyek Pekerja Migran yang juga menjadi pejabat sementara ILO di Indonesia.

Hari Buruh Migran Internasional 2009 menandai jalinan kerja sama di antara para pihak terkait dan ILO dalam mempromosikan hak asasi manusia dasar dan perlindungan kerja bagi pekerja migran. Acara ini bermaksud mendorong pemahaman yang lebih luas mengenai ongkos kemanusiaan dari eksploitasi pekerja migran, masalah-masalah yang dihadapi pekerja migran Indonesia di Malaysia sebagai negara tujuan utama serta langkah-langkah di mana Indonesia dapat memastikan perlindungan yang efektif bagi pekerja migrannya melalui penegakan hukum yang lebih baik di sepanjang proses migrasi, yang diawali dari rekrutmen dan pelatihan di Indonesia, selama penyaluran kerja di luar negeri, serta ketika kembali ke Indonesia.

Lotte Kejser, Pejabat Sementara ILO di Indonesia, mengatakan bahwa migrasi ketenagakerjaan menawarkan prospek kerja bagi banyak orang yang sulit mendapatkan pekerjaan di dalam negeri dan, pada gilirannya, membantu penuntasan masalah pengangguran di Indonesia. “Pekerja migran Indonesia karenanya memberikan sumbangan besar kepada perekonomian dan masyarakat Indonesia serta menjadi bagian penting dari angkatan kerja. Tantangan saat ini adalah menemukan cara memaksimalkan kontribusi migrasi terhadap pertumbuhan dan pembangunan serta penyediaan perlindungan dan dukungan yang tepat terhadap warga Indonesia yang berniat bekerja di negara lain.”

Dialog publik ini akan dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama akan menyoroti masalah-masalah yang dihadapi antara Indonesia sebagai negara pengirim dengan Malaysia sebagai negara tujuan utama bagi para pekerja migran Indonesia. Sesi ini akan menghadirkan HE Da’i Bachtiar (Duta Besar Indonesia untuk Malaysia), Y. Bhg Dato’ Ismail Bin Hj Abdul Rahim (Ketua Ketua Pengarah Jabatan Tenaga Kerja Semenanjung Malaysia), dan Alex Ong (Migrant Care Malaysia). Mereka akan membahas secara mendalam mengenai upaya-upaya untuk mengembangkan kerangka kebijakan dan sistem penempatan migrasi yang lebih baik bagi pekerja migran di kedua negara.

Sesi kedua akan mengkaji langkah-langkah untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja migran Indonesia melalui revisi Undang-Undang 39/2004, yang menghadirkan Nursuhud (Anggota Komisi IX, DPR RI), Anis Hidayah (Direktur Eksekutif Migrant Care Indonesia), Yulian Nur (Kepala Konsorsium Asuransi Indoensia), serta Abdullah Syakir (Wakil Ketua Umum Pelatihan dan Pengembangan, IDEA). Sesi ini akan disiarkan langsung SmartFM Network, jaringan radio nasional, di sembilan provinsi.

Testimoni dari pekerja migran Indonesia, menyoroti eksploitasi, perlakuan yang tidak baik, serta kerasnya kondisi yang harus mereka hadapi di sepanjang prosess migrasi, juga akan dihadirkan. Testimoni-testimoni ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mereka mengenai pentingnya Pemerintah Indonesia memberikan perlindungan yang lebih efektif kepada para pekerja migran di sepanjang proses migrasi, khususnya di negara-negara tujuan seperti Malaysia.

Peringatan Hari Internasional ini pun diakhiri dengan malam renungan guna menghormati perjuangan pekerja migran Indonesia dan mereka yang menjadi korban penganiayaan dan kekerasan dalam upaya mereka untuk mencapai mimpi-mimpi akan kehidupan yang lebih baik. Malan renungan ini pun akan menampilkan refleksi kondisi pekerja migran Indonesia yang dibacakan sosiologis Imam Prasodjo dan Eva Kusuma Sundari.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Lotte Kejser
Kepala Penasihat Teknis Proyek Pekerja Migran ILO
Kantor ILO-Jakarta
Tel. +6221 3913112 ext. 30
Email


Albert Y. Bonasahat
Koordinator untuk Proyek Pekerja Migran ILO
Kantor ILO-Jakarta
Tel. +6221 3913112 ext. 125
Email


Gita Lingga
Humas
Kantor ILO-Jakarta
Tel. +6221 3913112 ext. 115
Mobile: +62 8158845833
Email