Hari Kesehatan Mental se-Dunia

Better Work Indonesia promosikan kesehatan mental dan kesetaraan gender untuk industri garmen

Better Work Indonesia (BWI), program bersama ILO dan IFC, anggota Grup Bank Dunia, melakukan serangkaian sesi berbagi pengetahuan untuk mempromosikan kesehatan mental dan kesetaraan gender di perusahaan garmen selama pandemi COVID-19.

News | Jakarta, Indonesia | 12 October 2021
Nongkrong bersama teman, makan di luar bersama keluarga, mengobrol dengan tetangga dan mengunjungi taman rekreasi merupakan hal yang biasa dilakukan dan terjangkau bagi para pekerja garmen Indonesia saat libur kerja. Namun, selama satu setengah tahun terakhir, pandemi COVID-19 telah melenyapkan kebahagiaan kecil ini—pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk memastikan keselamatan semua orang.

Pekerja garmen perempuan harus menjaga jarak fisik saat istirahat
Jimmy Siswanto, Manajer Kepatuhan PT Gaya Indah Kharisma, kehilangan waktu yang berkualitas dan menyenangkan bersama cucunya yang berusia dua tahun. Ia ingin menemani sang cucu saat melakukan kunjungan pertamanya ke Kebun Binatang Ragunan Jakarta untuk mengenalkan berbagai flora dan fauna.

“Saya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, terutama cucu saya, saat libur kerja. Namun, keinginan tersebut harus ditunda,” ujar Jimmy. “Bahkan makan malam sederhana dengan tetangga dekat saya di kompleks apartemen juga harus dihentikan karena empat keluarga sudah terinfeksi. Ini menyebabkan perasaan campur aduk dan kecemasan.”

Perasaan hancur juga sangat dirasakan Diah Nela Sari, 32 tahun. Bekerja sebagai asisten operator jahit di pabrik garmen PT Eco Smart Garment Indonesia (ESGI) di Boyolali, Jawa Tengah, dia harus menjalani hubungan jarak jauh selama sepuluh tahun dengan suaminya yang bekerja terpisah jarak 540 kilometer di Tangerang, Banten. Mereka akhirnya bersatu kembali saat sang suami kehilangan pekerjaan tahun lalu.

Rasa terisolasi, kehilangan pekerjaan, perawatan anak, kurangnya keseimbangan antara keluarga-pekerjaan, jam kerja yang lebih lama dan banyak tantangan lainnya sangat berdampak pada kesejahteraan mental pekerja. Data Kementerian Kesehatan pada 2020 mengungkapkan bahwa 18.000 orang mengalami gangguan jiwa, 23.000 menderita depresi dan 1.163 melakukan percobaan bunuh diri."

“Saya merasa hancur karena kami memiliki dua anak yang masih bersekolah,” katanya dengan suara terguncang, mengingat saat pertama kali dia mengetahui sang suami terkena PHK.

Suaminya masih berupaya mencari pekerjaan karena pandemi telah mendorong lebih dari 2,5 juta orang di Indonesia keluar dari pekerjaan mereka. Diah kini harus menjalani tugas sebagai pencari nafkah utama dan menyeimbangkan antara tanggung jawab dan kewajiban pekerjaan dengan keluarga.

“Kami hanya memiliki satu pendapatan sekarang dan saya harus mengelola biaya sehari-hari yang terus naik dari hari ke hari, seperti tagihan listrik, air dan internet,” ungkap dia. Pengeluaran rumah tangga dan beban kerja Diah meningkat dua kali lipat karena kebijakan bekerja dan belajar dari rumah.

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi pekerja dengan cara yang berbeda. Rasa terisolasi, kehilangan pekerjaan, perawatan anak, kurangnya keseimbangan antara keluarga-pekerjaan, jam kerja yang lebih lama dan banyak tantangan lainnya sangat berdampak pada kesejahteraan mental pekerja. Data Kementerian Kesehatan pada 2020 mengungkapkan bahwa 18.000 orang mengalami gangguan jiwa, 23.000 menderita depresi dan 1.163 melakukan percobaan bunuh diri.

Mengakui pentingnya kesehatan mental yang positif di antara pekerja garmen, Better Work Indonesia (BWI) mengembangkan pelatihan manajemen stres secara virtual yang disasarkan bagi pekerja dan manajemen pabrik anggotanya. Lusinan pekerja dari 64 pabrik telah mengikuti pelatihan yang memberikan ruang bagi peserta untuk secara interaktif berbagi perasaan dan mengarahkan cara mengatasi stres dengan dipandu oleh seorang pakar. Informasi praktis, tips dan latihan untuk mengelola emosi juga dibagikan, dengan serangkaian video yang dapat diakses bahkan setelah pelatihan.

Perempuan harus menanggung beban ganda sebagai pencari nafkah dan melakukan pekerjaan rumah tangga dengan jumlah pendapatan yang jauh lebih sedikit dibandingkan rekan kerja laki-lakinya. Data terakhir menunjukkan bahwa upah rata-rata pekerja manufaktur Indonesia menurun hampir 8 persen, dengan selisih lebih dari Rp. 700.000 antara laki-laki dan perempuan."

Selain itu, BWI telah mendorong kesetaraan gender dengan melakukan intervensi dalam praktik bisnis di rantai pasokan garmen global dan juga dalam kebijakan serta praktik di tingkat nasional, regional dan global, dengan keyakinan jika laki-laki dan perempuan diperlakukan sama, semua orang akan mendapatkan keuntungan. Ketidaksetaraan gender juga berdampak besar pada kesehatan mental dengan perempuan hampir dua kali lebih mungkin menderita penyakit mental dibandingkan laki-laki.

Perempuan seperti Diah harus menanggung beban ganda sebagai pencari nafkah dan melakukan pekerjaan rumah tangga dengan jumlah pendapatan yang jauh lebih sedikit dibandingkan rekan kerja laki-lakinya. Data terakhir menunjukkan bahwa upah rata-rata pekerja manufaktur Indonesia menurun hampir 8 persen, dengan selisih lebih dari Rp. 700.000 antara laki-laki dan perempuan. Ini dikarenakan perempuan cenderung dipekerjakan dalam pekerjaan berketerampilan dan bernilai rendah, yang selanjutnya dilanggengkan oleh norma budaya dan gender yang bersifat negatif yang umum ditemukan dalam proses perekrutan dan pekerjaan di industri garmen.

“Kami memanfaatkan media sosial dengan sebaik-baiknya untuk menjangkau lebih banyak pekerja tentang isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan mental dan kesetaraan gender. Melalui serangkaian sesi interaktif yang disiarkan secara langsung, kami berdiskusi dengan perusahaan peserta BWI tentang berbagai topik, mulai dari manajemen stres, pengasuhan anak, keseimbangan keluarga-pekerjaan hingga upah dan pembayaran THR serta kekerasan berbasis gender,” kata Pipit Savitri, Staf Komunikasi & Kemitraan BWI.