Kisah Kami, Kisah Anda

“Saya positif HIV. Saya bugar dan produktif sama seperti pekerja lainnya.”

Ini adalah kisah perjalanan hidup Ari yang didiagnosa mengidap HIV dua tahun lalu. Dia kini aktif memberikan testimoni guna melawan stigma dan diskriminasi terhadap HIV dan AIDS di tempat kerja. Ia menceritakan kisah inspiratifnya kepada ILO.

Article | Jakarta, Indonesia | 22 February 2019
Ari dari belakang memegang pesan: "HIV Positif Masih Fit Kerja" (kiri) dan "Hapuskan Stigma HIV di Tempat Kerja (kanan)"
“Nama saya Ari (nama telah diubah). Saya berusia 22 tahun, bekerja sebagai pekerja kontrak di bidang pengendalian mutu di sebuah perusahaan minyak dan gas. Saya HIV positif,” kata Ari dalam perkenalannya saat memberikan testimoni di hadapan 30 anggota serikat pekerja yang berpartisipasi dalam Pelatihan Pelatih untuk Pencegahan HIV dan AIDS dan Inisiatif VCT di Jakarta pada pertengahan Februari.

Ini merupakan kesaksian kedua yang diberikan pada kegiatan advokasi HIV dan AIDS ILO. Sebelumya ia berbagi kisah tentang kondisi dan perjalanan hidupnya pada Desember 2018 di hadapan 80 staf manajemen Angkasa Pura II, sebuah perusahaan milik negara yang bergerak dalam bidang jasa bandara di 14 bandara di bagian barat Indonesia.

Melawan stigma dan diskriminasi

Setelah didiagnosis HIV dua tahun lalu, Ari aktif memberikan kesaksian. Dia ingin berkontribusi dalam perang melawan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV. “Merupakan hal biasa bagi saya mendapati ekspresi terkejut dan kaget dari hadirin ketika mereka mengetahui tentang kondisi saya. Saya HIV positif, tapi saya bugar dan sehat. Saya juga pekerja yang produktif,” ia menceritakan kisahnya.

Orang tidak peduli dan tidak mendukung orang dengan HIV karena mereka tidak tahu. Orang dengan HIV dapat bekerja secara produktif, bermanfaat bagi perusahaan dan memberikan kontribusi positif bagi keluarga mereka dan masyarakat."

Melalui kesaksiannya, ia berharap bahwa orang dengan HIV akan memiliki kesempatan kerja yang lebih besar dan akses yang lebih baik terhadap pekerjaan. “Orang tidak peduli dan tidak mendukung orang dengan HIV karena mereka tidak tahu. Orang dengan HIV dapat bekerja secara produktif, bermanfaat bagi perusahaan dan memberikan kontribusi positif bagi keluarga mereka dan masyarakat,” tambahnya.

Dia baru mengetahui status HIV setelah terus menerus sakit selama dua bulan. Bahkan setelah mencari pengobatan, ia masih terus mengalami demam dan peradangan. Penasaran, ia mencari tahu kondisinya dan indikasi menunjukkan kemungkinan HIV positif. Untuk memastikan, ia secara sukarela mengikuti tes dan hasilnya ternyata positif.

“Saya sangat terkejut dan seperti mendapatkan hukuman mati. Saya merasa hancur dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya memikirkan pekerjaan yang baru saya mulai, masa depan, keluarga dan jutaan hal lain yang terlintas di benak saya. Saya tidak bisa tidur selama sebulan,” kenang Ari mengingat kegalauannya.

Namun, setelah bertemu dengan sejumlah konselor HIV, ia mulai belajar tentang fakta HIV yang sebenarnya. Dia belajar bahwa HIV dapat diobati. Dia juga belajar bahwa orang dengan HIV masih bisa produktif dan perawatan dapat diakses di banyak layanan medis. Dia mulai menerima kondisinya.

Membuka statusnya

Setelah beberapa bulan, ia memutuskan untuk memberitahu atasannya tentang kondisinya. “Saya bangun keberanian saya untuk memberitahu atasan saya. Dia awalnya terkejut, tetapi tanpa terduga ia sangat mendukung saya. Saya masih mampu menjalankan tanggung jawab pekerjaan saya di pengendalian mutu tanpa tindakan diskriminatif. Ia menjaga kerahasiaan status saya dan bahkan rajin mengingatkan untuk minum obat tepat waktu,” kisah Ari.

Saya memutuskan untuk membuka status HIV saya secara sukarela kepada rekan-rekan kerja karena pekerjaan kami kebanyakan di lapangan dan kami perlu mendukung satu sama lain. Ketika membuka status HIV saya, saya juga mengedukasi mereka agar mereka tidak salah memahami status dan kondisi saya. Hasilnya, mereka menerima saya dengan tangan terbuka dan bahkan sangat perhatian."

Setelah beberapa waktu, Ari memberitahu atasannya bahwa dia siap membuka statusnya di hadapan rekan-rekan kerja lainnya. Atasannya mendukung keputusannya tersebut dan mengumpulkan kesemua 33 pekerja di bawah unitnya di ruang rapat. Dia kemudian membuka kondisinya dan memberi mereka informasi yang relevan tentang HIV.

“Saya memutuskan untuk membuka status HIV saya secara sukarela kepada rekan-rekan kerja karena pekerjaan kami kebanyakan di lapangan dan kami perlu mendukung satu sama lain. Ketika membuka status HIV saya, saya juga mengedukasi mereka agar mereka tidak salah memahami status dan kondisi saya. Hasilnya, mereka menerima saya dengan tangan terbuka dan bahkan sangat perhatian,” ujar Ari.

Mendapatkan semua dukungan yang dia butuhkan di tempat kerja, ia kemudian memutuskan untuk membuka statusnya kepada keluarga. Dia pertama kali berbicara dengan saudara dan ayahnya. “Mereka terkejut tetapi mereka dapat menerima saya apa adanya. Dua bulan kemudian, saya akhirnya menemukan keberanian untuk memberitahu ibu saya. Dia menangis dan menangis. Namun, dia sekarang adalah pendukung terbesar saya. Dia bahkan mengambil tes untuk dirinya sendiri, ” ucapnya sambil tersenyum.

Memberikan bantuan dan dukungan

Terlepas dari status HIV-nya, Ari bertekad menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Selain rajin berbagi informasi terkait HIV melalui kesaksiannya, ia juga aktif di organisasi HIV sebagai aktivis. Bersama dengan timnya, mereka membantu orang dengan HIV yang tinggal jauh dari keluarga mereka.

Karenanya kami membantu teman-teman dengan HIV yang tidak memiliki sistem pendukung sehingga mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian dan selalu ada harapan."

“Saya tahu rasanya berjuang menerima status HIV. Yang paling kami butuhkan adalah perawatan dan dukungan dari keluarga, teman dan lingkungan kami. Karenanya kami membantu teman-teman dengan HIV yang tidak memiliki sistem pendukung sehingga mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian dan selalu ada harapan. Sudah saatnya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap kami, "katanya, menambahkan: "Saya bugar dan produktif seperti pekerja lainnya."